Rabu, 17 September 2014

As-Sya’rani

JANGAN MENYANDARKAN REZEKI PADA MANUSIA

Ia seorang sufi yang sangat menekankan pentingnya kerja keras dalam mengisi kehidupan, supaya tidak riya’ dengan kefakiran”.

Nama lengkapnya Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Zufa As-Sya’ra. Ia seorang sufi besar dan pengarang terkenal dari Mesir, lahir pada Ramadhan 898 H (1492 M), di kediaman neneknya, Kampung Qalqasyandah. Ayahnya, Ahmad bin Ali As-Sya’rawi, juga seorang sufi, tinggal di Lembah Abu Sya’rah, sebuah desa yang memiliki semangat kesufian yang tinggi.
            Selama bertahun-tahun penduduk lembah ini mempunyai kebiasaan dengan upacara-upacara kenduri memperingati Maulid Rasulullah SAW dan kelahiran para wali. Itu biasanya dilakukan dengan dzikir dan amalan-amalan tarekat. Inilah yang membuat dunia sufi bukan sesuatu yang asing bagi penduduk sana.
            Dalam usia 40 hari As-Sya’rani kecil dibawa kerumah kediaman ayahnya dan disanalah ia di didik dan dibesarkan sampai menginjak usia remaja. Selanjutnya ia dikirim ke Kairo untuk menuntut ilmu langsung dari ulama-ulama besar disana. Di antara guru-gurunya adalah Jalaluddin As-Suyuti, Zakaria An-Nasari, Nasiruddin Al-Laqani, Ar-Ramli, dan As-Syamnudi. Karena mempunyai prestasi yang menonjol, ia di angkat menjadi pengajar di beberapa madrasah di Kairo.
            Di samping mengajar dan berdakwah ia pun mengarang beberapa buku, terutama dalam bidang tasawuf dan fiqih. Buku karyanya mencapai 70 buah. Di antaranya yang terkenal adalah Al Mawazin Ad Durriyat, Al Yawaqit wa Al Jawahir, Al Bahr Al Mawrud, Jami’i al Ummah.
            As-Sya’rani termasuk tokoh sufi yang moderat. Berbeda dengan para sufi umumnya yang kurang memperhatikan kehidupan duniawi, ia sangat menekankan keseimbangan antara kehidupan dunia, yaitu amal dan usaha, dan kehidupan akhirat. Menurut As-Sya’rani, meninggalkan usaha dengan pekerjaan yang halal dan menyandarkan rezeki pada pada orang-orang dermawan adalah suatu kebodohan, karena hal itu disamping berarti riya’ dengan kefakiran juga mengurangi amal shalih karena telah diambil oleh para dermawan itu sebagai balasan terhadap rezeki yang disedekahkannya. Oleh sebab itu ia sangat menekankan pentingnya usaha dan kerja keras, setelah itu bertawakal kepada Allah. Karena Allah Yang Empunya, kita harus selalu memohon dan meminta dengan harap dan cemas kepada Allah.

            Mencela dunia secara membabi buta juga merupakan suatu kebodohan, sebab sikap demikian hanya menunjukkan kegandrungan hatinya dalam mencintai selain Allah dan akan menghalanginya dari akhirat. Orang yang sempurna (al-kamil) itu tidak akan lari dari dunia, seperti wanita, anak harta, dan kehormatan, bahkan ia akan mencintai semuanya, karena dunia bagi orang yang arif berada di tangannya, bukan di hatinya. Dan zuhud itu bagi orang yang sempurna bukan berarti lepas tangan atau tidak memperdulikan kehidupan dunia, tapi hanya melepaskan kegandrungan hati meskipun ia sibuk dalam urusan duniawi.
            As-Sya’rani tidak saja piawai dalam ilmu tasawuf, tapi juga seorang pemikir ulung dalam politik dan kehidupan praktis. Ilmu, menurutnya, dibagi menjadi tiga bagian besar. Yaitu ilmu akal, rasional (al-‘aql), yaitu ilmu yang diperoleh dengan melakukan kontemplasi, penalaran, dan penelitian. Lalu ilmu kondisi kejiwaan (‘ilm al ahwal), yaitu ilmu yang diperoleh melalui olah rasa. Dan yang terakhir adalah ilmu rahasia (al-asrar), yaitu ilmu yang diperoleh melalui wahyu atau ilham itu hanya para nabi dan wali, ilmu al-asrar pun hanya dimiliki oleh para nabi dan para wali.
            Inti pemikiran As-Sya’rani dalam bidang politik adalah ketaatan terhadap pemimpin atau hakim, bagaimanapun keadaannya, apakah ia shalih atau non-muslim. Menurutnya, Tuhan telah memerintahkan hamba-Nya agar menegakkan agama-Nya, yakni menerapkan syari’at Islam dalam segala segi hidup dan kehidupan. Untuk menerapkan hal itu perlu suasana tertib, aman, dan sejahtera. Sedang terciptanya suasana yang aman, tertib, dan sejahtera memerlukan seorang pemimpin yang bertugas menegakkan keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan.
            Seorang pemimpin adalah panutan dalam segala hal. Menurut Sya’rani, pemimpin tidak hanya menjadi teladan dalam ketaatan kepada Tuhan, tapi juga harus memberikan contoh kepada orang lain dalam berperilaku sesuai dengan tuntutan agama.


Sumber : Alkisah, No.05/Tahun IV/26 FEB – 11 MAR 2007

Tidak ada komentar: