Rabu, 17 September 2014

Pendidikan Islam Bani Abbasiyah

BAB I
PENDAHULUAN

Kekhalifahan Abbasiyah adalah kekhalifahan Islam kedua yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat ilmu pengetahuan. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukkan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah adalah keturunan paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang termuda, yaitu Abbasbin Abdul Muththalib.
       Islam mengalami masa keemasannya pada masa pemerintahan daulah Abbasiyah. Masa keemasan Islam yang juga dinilai sebagai fase perkembangan terpenting bagi pendidikan Islam dan perkembangan ilmu umum ini terjadi pada kurun waktu abad ketiga sampai kelima hijriah.
            Dengan berkembangnya luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam, madrasah-masradah dan universitas-uiversitas yang merupakan pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Tumbuh dan berkembangnnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam yang sangat cepat , merupakan ciri pendidikan Islam masa ini.
      Mengkaji sejarah pendidikan Islam pada masa masa keemasan dan kejayaan, Bidang perkembagan Pendidikan Islam pada Masa Keemasan, dan Sistem  pendidikan Islam pada masa kejayaan,  merupakan  salah satu bentuk hal yang bisa membuat kita termotivasi dalam memajukan  pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Kita dapat mengetahui tentang  keemasan dan kejayaan umat Islam dalam pendidikan sebagai cerminan bahwa umat Islam juga pernah mengalami kejayaan dalam bidang pendidikan.
         Oleh karena itu, dalam makalah ini akan disajikan tentang awal berdirinya dinasti Abbasiyah, perkembangan pendidikan Islam pada masa keemasan dan masa kejayaan, sistem pendidikan Islam pada masa kejayaan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.  Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah

Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah adalah melanjutkan kekuasaan Dinasti Bani Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa Dinasti ini adalah keturunan Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbass. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awal 132 H.[1]
Pada abad ketujuh terjadi pemberontakan diseluruh negeri. Pasukan Marwan ibn Muammad (pasukan Dinasti Umayyah) melawan pasukan Abdul Abbas.  Pemberontakan tersebut terjadi akibat ketidak puasan mereka tehadap khalifah-khalifah sebelumnya. Dan akhirnya di menangkan oleh pasukan Abbas.   Pasukan pemberontak terdiri dari kalangan Khawarij, Syi’ah, Mawali, dan Bani Abbas.
            Para Mawali bekerja sama dengan Bani Abbas, komando tertinggi gerakan Bani Abbas tidak menyisakan keluaga Umayah, karena perburuannya terhadap keluarga Umayyah itu, ia dijuluki dengan As-Safah yang berarti”yang menumpahka darah”.
            Abu Abbas kemudian didaulat menjadi khalifah pertama Bani Abbasiyah. Tahun 750 M diproklamasikan berdirinya pemerintahan Bani Abbasiyah di Kufah. Khalifah petamanya adalah Abu Abbas Ash Shaffah yang di baiat di Masjid Kufah.[2]
      Berdirinya daulah Abbasiyah diawali dengan dua strategi, yaitu:
1.     System mencari pendukung dan penyebaran ide secara rahasia, hal ini berlangsung sejak akhir abad pertama hijriah yang bermarkas di Syam dan tempatnya di Alhamimah. System ini berakhir dengan bergabungnya Abu muslim al- Khurasani pada jum’iyah yang sepakat atas terbentuk Daulah Abbasiyah
2.     Strategi kedua dilanjutkan dengan terang-terangan dan himbauan-himbauan di forum-forum resmi untuk mendirikan daulah abbasiyah berlanjut dengan peperangan melawan daulah umawiyah.
Berbagai teknis diterapkan oleh pengikut Muhammad Al-‘Abbasy, seperti sambil berdagang dan melaksanakan haji. Di balik itu terpogram bahwa mereka menyebarkan ide dan mencari pendukung terbentuknya daulah.
Faktor-faktor pendorong berdirinya daulah Abbasiyah dan penyebab suksesnya, yaitu sebagai berikut :
a)     Banyak terjadi perselisihan antara intern bani Umawiyah pada dekade akhir pemerintahannya hal ini diantara penyebabnya memperebutkan kursi kekhalifahan dan harta
b)     Pendeknya masa jabatan khalifah di akhir-akhir pemerintahan bani umawiyah, seperti khalifah Yazid bin al-Walid lebih kurang memerintah sekitar 6 bulan
c)     Dijadikan putra mahkota lebih dari jumlah satu orang seperti yang dikerjakan oleh Marwan bin Muhammad yang menjadikan anaknya Abdullah dan Ubaidillah sebagai putra mahkota
d)     Bergabungnya sebagian afrad keluarga umawi kepada madzhab-madzhab agama yang tidak benar menurut syariah, seperti Al Qadariyah
e)     Hilangnya kecintaan rakyat pada akhir-akhir pemerintahan bani umawiyah
f)      Kesombongan pembesar-pembesar bani Umawiyah pada akhir pemerintahannya
g)     Timbulnya dukungan dari Al-Mawali (non-arab)[3]

Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya.Pada periode ini, segala potensi yang terkandung dalam kebudayaan yang didasari nilai-nilai Islam mulai bergerak secara perlahan namun strategis.Selain terjadi kemajuan pada bidang sosio-ekonomi, terjadi pada kemajuan pada bidang intelektual. Kemajuan intelektual tersebut ditunjang oleh kemajuan pendidikan baik institusi, insfrastruktur maupun kemajuan sains dan obyek-obyek studinya.[4]
Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan-gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan zindik di Persia, gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa serta aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

B.    Periodesasi Masa Bani Abbasiyah

Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’.[5] Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Daulah Abbasiyah didirikan oleh keturunan Abbas paman Rasulullah, yaitu: Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah al-Abbas[6]. Kekuasaan daulah abbasiyah dibagi dalam lima periode, yaitu: [7]
1.     Periode I (132 H/750 M-232 H/847 M ), masa pengaruh Persia pertama
2.     Periode II (232 H/847 M-334 H/945 M), masa pengaruh Turki pertama
3.     Periode III (334 H/945 M-447 h/1055 M), masa kekuasaan Dinasti Buwaihi, pengaruh Persia kedua
4.     Periode IV (447 H/1055 M-590 h/1194 M), masa Bani Saljuk, pengaruh Turki kedua
5.     Periode V (590 H/1104 M-656 h/1250 M), masa kebebasan dari pengaruh Dinasti lain.
Daulah Abbasiyah mencapai puncak keemasan dan kejayaannya pada periode I. Para khalifah pada masa periode I dikenal sebagai tokoh yang kuat, pusat kekuasaan politik, dan agama sekaligus. Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada masa khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang dimiliki khalifah harun al-rasyid dan puteranya Al-Ma’mun digunakan untuk kepentingan sosial seperti, lembaga pendidikan, kesehatan, rumah sakit, pendidikan ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasan. Al-Ma’mun khalifah yang cinta kepada ilmu, dan banyak mendirikan sekolah.
Tidak hanya mencakup kepentingan sosial saja, masa ini juga masa kejayaan umat islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban. Kemajuan itu hampir mencakup semua aspek kehidupan, seperti :
1.     Administratif pemerintahan dengan biro-bironya;
2.     Sistem organisasi militer;
3.     Administrasi wilayah pemerintahan;
4.     Pertanian, perdagangan, dan industri;
5.     Islamisasi pemerintahan;
6.     Kajian dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, geografi, historiografi, filsafat islam, teologi, hukum (fiqh), dan etika islam, sastra, seni, dan penerjemahan;
7.     Pendidikan, kesenian, arsitektur, meliputi pendidikan dasar (kuttab), menengah, dan perguruan tinggi; perpustakaan dan toko buku, media tulis, seni rupa, seni musik, dan arsitek.[8]

C. Kemajuan-kemajuan Pada Zaman Bani Abbasiyah

1.     Perkembangan Peradaban di Bidang Fisik
Perkembangan peradaban pada masa daulah Bani Abbasiyah sangat maju pesat, karena upaya-upaya dilakukan oleh para Khalifah di bidang fisik. Hal ini dapat kita lihat dari bangunan – bangunan yang berupa:
a)     Kuttab
b)     Majlis Muhadharah,yaitu tempat pertemuan para ulama, sarjana,ahli pikir dan pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah.
c)     Darul Hikmah, Adalah perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid. Ini merupakan perpustakaan terbesar yang di dalamnya juga disediakan tempat ruangan belajar.
d)     Masjid
e)     Pada masa Daulah Bani Abbassiyah, peradaban di bidang fisik seperti kehidupan ekonomi: pertanian, perindustrian, perdagangan berhasil dikembangkan oleh Khalifah Mansyur.

3.   Perkembangan peradaban di bidang politik dan pemerintahan
Dalam menjalankan roda pemerintahan Khalifah Dinasti Abbasiyah mengangkat menteri (wasir) dan membentuk kementrian (wizarat). Menteri adalah pembantu utama khalifah, ia berhak mengangkat dan memecat pegawai. Khalifah juga mengangkat hakim yang bertugas menyelesaikan masalah muamalah. Untuk membantu lancarnya kepemerintahan dibentuklah Diwanul Kitabah (Sekertariat Negara) dengan dibantu oleh : katibur Rasail, katibul Kharraj, katibul Jund, katibul Syurthan, katibul Qada’.
Selain itu, juga dibentuk departemen-departemen yang dikepalai oleh menteri, departemen-departemen itu antara lain : diwan al kharraj, diwan az-Ziman, diwan al jund, diwan barid, diwan ar Rasail. Dalam pemerintahan dinasti Umayyah ada juga yang disebut hajib, yang bertugas mengawasi dan memberikan persetujuan terhadap program kerja menteri. Wilayah Dinasti Abbasiyah dibagi menjadi beberapa provinsi yang dinamakan imarat, gubernurnya bergelar Amir.

4.  Bidang Militer
Militer Dinasti Abbasiyah terdiri atas tiga bagian, yaitu pasukan pemanah, pasukan infanteri, dan pasukan berkuda/kavaleri. Pasukan pemanah bersentakan anak panah dan busurnya, tugas pasukan ini adalah mengacaukan musuh dari jarak jauh. Pasukan invanteri bersenjatakan pedang, tombak, helm, dan tamengya. Mereka bertugas memukul mundur pasukan musuh pada pertempuran jarak dekat. Pasukan berkuda bersenjatakan pedang dan lembing, mereka bertugas mengobrak-abrik pertahanan lawan melalui depan, samping, dan belakang. Selain pasukan-pasukan di atas ada lagi pasukan pengawal khalifah, mereka ini pasukan elite yang bergaji tinggi.
          Angkatan bersenjata Dinasti Abbasiyah didominasi oleh orang Arabdan Persiah pada awalnya, namun pada tahun-tahun selanjutnya didominasi oleh Arab, Turki, dan persiah. Dan masa sebelum berakhir daulat ini pasukan bersenjatanya didominasi oleh Persia dan Turki.[9]

D.  Perkembangan Intelektual Dinasti Bani Abbasiyah

1.  Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasyiyah
Popularitas daulah Abbasyiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mum (813-833 M). Harun Al-Rasyid adalah figur khalifah shaleh ahli ibadah, senang bershadaqah, sangat mencintai ilmu sekaligus mencintai para ‘ulama, senang dikritik serta sangat merindukan nasihat terutama dari para ‘ulama.
Pada masa pemerintahannya dilakukan sebuah gerakan penerjemahan berbagai buku Yunani dengan menggaji para penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lainnya yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, yang salah satu karya besarnya adalah pembangunan Baitul Hikmah, sebagai pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.
Harun Al-Rasyid juga menggunakan kekayaan yang banyak untuk dimanfaatkan bagi keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun.
Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat yang tak tertandingi.

2. Tujuan Pendidikan Pada Masa Abbasiyah
Pada masa Nabi masa kholifah rasyidin dan umayah, tujuan pendidikan satu saja, yaitu keagamaan semata. Mengajar dan belajar karena Allah dan mengharap keridhoan-Nya. Namun pada masa abbasiyah tujuan pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh masyarakat pada masa itu. Tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut:

a.     Tujuan Keagamaan Dan Akhlak
Sebagaimana pada masa sebelumnya, anak-anak dididik dan diajar membaca atau menghafal Al-Qur’an, ini merupakan suatu kewajiban dalam agama, supaya mereka mengikut ajaran agama dan berakhlak menurut agama.
b.     Tujuan Kemasyarakatan
Para pemuda pada masa itu belajar dan menuntut ilmu supaya mereka dapat mengubah dan memperbaiki masyarakat, dari masyarakat yang penuh dengan kejahilan menjadi masyarakat yang bersinar ilmu pengetahuan, dari masyarakat yang mundur menuju masyarakat yang maju dan makmur. Untuk mencapai tujuan tersebut maka ilmu-ilmu yang diajarkan di Madrasah bukan saja ilmu agama dan Bahasa Arab, bahkan juga diajarkan ilmu duniawi yang berfaedah untuk kemajuan masyarakat.
c.      Cinta Akan Ilmu Pengetahuan
Masyarakat pada saat itu belajar tidak mengaharapkan apa-apa selain dari pada memperdalam ilmu pengetahuan. Mereka merantau ke seluruh negeri islam untuk menuntut ilmu tanpa memperdulikan susah payah dalam perjalanan yang umumnya dilakukan dengan berjalan kaki atau mengendarai keledai. Tujuan mereka tidak lain untuk memuaskan jiwanya untuk menuntut ilmu.
d.     Tujuan Kebendaan
Pada masa itu mereka menuntut ilmu supaya mendapatkan penghidupan yang layak  dan pangkat yang tinggi, bahkan kalau memungkinkan mendapat kemegahan dan kekuasaan di dunia ini, sebagaimana tujuan sebagian orang pada masa sekarang ini.[10]

3. Tokoh-Tokoh Pendidikan Islam Yang Berpengaruh Pada Masa Bani Abbasiyah
Sejalan dengan perkembangan lembaga pendidikan, ilmu pengetahuan dan tradisi serta atmosfer akademik., maka pada zaman Abbasiyah ini di tandai pula dengan lahirnya para ilmuwan yang sekaligus bertindak sebagai para guru. Mereka bukan hanya ahli dalam ilmu agam Islam melainkan juga ahli dalam bidang ilmu pengetahuan umum, seni dan arsitektur. Di antara para ilmuwan dan guru yang terkenal di zaman Abbasiyah adalah:
1.   Al-Razi (guru Ibnu Sina)
Ia berkarya dibidang kimia dan kedokteran, menghasilkan 224 judul buku, 140 buku tentang pengobatan, diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Bukunya yang paling masyhur adalah Al-Hawi Fi ‘Ilm At Tadawi (30 jilid, berisi tentang jenis-jenis penyakit dan upaya penyembuhannya). Buku-bukunya menjadi bahan rujukan serta panduan dokter di seluruh Eropa hingga abad 17. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibnu Sina.
2.   Al-Battani (Al-Batenius)
Seorang astronom. Hasil perhitungannya tentang bumi mengelilingi pusat tata surya dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, 24 detik, mendekati akurat. Buku yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij dalam bahasa latin: De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerumet Motibus, dimana terjemahan tertua dari karyanya masih ada di Vatikan.
3.   Al Ya’qubi
Seorang ahli geografi, sejarawan dan pengembara. Buku tertua dalam sejarah ilmu geografi berjudul Al Buldan (891), yang diterbitkan kembali oleh Belanda dengan judul Ibn Waddih qui dicitur al-Ya’qubi historiae.
4.   Al Buzjani (Abul Wafa)
Ia mengembangkan beberapa teori penting di bidang matematika (geometri dan trigonometri).
5.   Ibn Sina
Ibn Sina adalah seorang mahaguru dalam bidang ilmu kedokteran dan filsafat. Karyanya yang terkenal ialah al-Qanun fi at-Tibb dan dijadikan buku pedoman kedokteran bagi universitas di Eropa dan negara-negara Islam.[11]
6.   Ibn Miskawih
Ibn Miskawih adalah seorang guru dalam ilmu akhlak. Salah satu karyanya adalah Tahdzib al-Tahdzib.
7.   Ibn Jama’ah
Ibn Jama’ah adalah seoarang guru dalam bidang ilmu fikih dan akhlak,Tadzkirat al-Sa’mi lil ‘Alim wa al-Muta’allim.
8.   Imam al-Juwaini
Imam al-Juwaini adalah seorang guru dalam bidamg teologi pada Madrasah Nidzamiyah tempat Imam al-Ghazali menimba ilmu, karyanya berjudul al-Irsyad.
9.   Imam al-Ghazali
Imam al Ghazali tel;ah tampil sebagai mahaguru di Madrasah Nidzamiah, istana, dan di masyarakat pada umumnya. Melalui karyanya yaitu Ihya’ Ulum al-Din sebanyak tiga jilid, ia telah tampil sebagai guru dalam bidang fikih dan tasawuf.

Pencapaian kemajuan dunia Islam pada bidang ilmu pengetahuan tidak terlepas dari adanya sikap terbuka dari pemerintahan Islam pada saat itu terhadap berbagai budaya dari bangsa-bangsa sebelumnya seperti Yunani, Persia, India dan yang lainnya. Gerakan penterjemahan yang dilakukan sejak Khalifah Al-Mansur (745-775 M) hingga Harun Al-Rasyid berimplikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, farmasi, biologi, fisika dan sejarah.
Dari hasil ijtihad dan semangat riset, maka para ahli pengetahuan, para alim ulama, berhasil menemukan berbagai keahlian berupa penemuan berbagai bidang-bidang ilmu pengetahuan, antara lain :
a.     Ilmu Umum
1.     Ilmu Filsafat
a.      Al-Kindi (809-873 M) buku karangannya sebanyak 236 judul.
b.     Al Farabi (wafat tahun 916 M) dalam usia 80 tahun.
c.      Ibnu Bajah (wafat tahun 523 H)
d.     Ibnu Thufail (wafat tahun 581 H)
e.      Ibnu Shina (980-1037 M). Karangan-karangan yang terkenal antara lain: Shafa, Najat, Qoman, Saddiya dan lain-lain
f.      Al Ghazali (1085-1101 M). Dikenal sebagai Hujjatul Islam, karangannya: Al Munqizh Minadl-Dlalal,Tahafutul Falasifah, Mizanul Amal, Ihya Ulumuddin dan lain-lain
g.     Ibnu Rusd (1126-1198 M). Karangannya : Kulliyaat, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah dan lain-lain
2.     Bidang Kedokteran
a.      Jabir bin Hayyan (wafat 778 M). Dikenal sebagai bapak Kimia.
b.     Hurain bin Ishaq (810-878 M). Ahli mata yang terkenal disamping sebagai penterjemah bahasa asing.
c.      Thabib bin Qurra (836-901 M)
d.     Ar Razi atau Razes (809-873 M). Karangan yang terkenal mengenai cacar dan campak yang diterjemahkan dalam bahasa latin.
3.     Bidang Matematika
a.      Umar Al Farukhan: Insinyur Arsitek Pembangunan kota Baghdad.
b.     Al Khawarizmi: Pengarang kitab Al Gebra (Al Jabar), penemu angka (0).
4.     Bidang Astronomi
Berkembang subur di kalangan umat Islam, sehingga banyak para ahli yang terkenal dalam perbintangan ini seperti :
a.      Al Farazi : pencipta Astro lobe
b.     Al Gattani/Al Betagnius
c.      Abul wafat : menemukan jalan ketiga dari bulan
d.     Al Farghoni atau Al Fragenius
5.     Bidang Seni Ukir
Beberapa seniman ukir terkenal: Badr dan Tariff (961-976 M) dan ada seni musik, seni tari, seni pahat, seni sulam, seni lukis dan seni bangunan.

b.    Ilmu Naqli
1.     Ilmu Tafsir, Para mufassirin yang termasyur: Ibnu Jarir ath Tabary, Ibnu Athiyah al Andalusy (wafat 147 H), As Suda, Mupatil bin Sulaiman (wafat 150 H), Muhammad bin Ishak dan lain-lain
2.     Ilmu Hadist, Muncullah ahli-ahli hadist ternama seperti: Imam Bukhori (194-256 H), Imam Muslim (wafat 231 H), Ibnu Majah (wafat 273 H),Abu Daud (wafat 275 H), At Tarmidzi, dan lain-lain
3.     Ilmu Kalam, Dalam kenyataannya kaum Mu’tazilah berjasa besar dalam menciptakan ilmu kalam, diantaranya para pelopor itu adalah: Wasil bin Atha’, Abu Huzail al Allaf, Adh Dhaam, Abu Hasan Asy’ary, Hujjatul Islam Imam Ghazali
4.     Ilmu Tasawuf, Ahli-ahli dan ulama-ulamanya adalah : Al Qusyairy (wafat 465 H) karangannya: ar Risalatul Qusyairiyah, Syahabuddin (wafat 632 H) karangannya: Awariful Ma’arif, Imam Ghazali : karangannya al Bashut, al Wajiz dan lain-lain.
5.     Para Imam Fuqaha, Lahirlah para Fuqaha yang sampai sekarang aliran mereka masih mendapat tempat yang luas dalam masyarakat Islam. Yang mengembangkan faham/mazhabnya dalam zaman ini adalah: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal dan Para Imam Syi’ah
4.  Tingkat-Tingkat Pengajaran
Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat, yaitu:
a.      Tingkat sekolah rendah, namanya Kuttab sebagai tempat belajar bagi anak-anak. Di samping Kuttab ada pula anak-anak belajar di rumah, di istana, di took-toko dan di pinggir-pinggir pasar. Adapun pelajaran yang diajarkan meliputi: membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, pokok-pokok ajaran islam, menulis, kisah orang-orang besar islam, membaca dan menghafal syair-syair atau prosa, berhitung, dam juga pokok-pokok nahwu shorof ala kadarnya.[12]
b.     Tingkat sekolah menengah, yaitu di masjid dan majelis sastra dan ilmu pengetahuan sebagai sambungan pelajaran di kuttab. Adapun pelajaran yang diajarkan melipuri: Al-Qur’an, bahasa Arab, Fiqih, Tafsir, Hadits, Nahwu, Shorof, Balaghoh, ilmu pasti, Mantiq, Falak, Sejarah, ilmu alam, kedokteran, dan juga musik.
c.      Tingkat perguruan tinggi, seperti Baitul Hikmah di Bagdad dan Darul Ilmu di Mesir (Kairo), di masjid dan lain-lain. Pada tingkatan ini umumnya perguruan tinggi terdiri dari dua jurusan:
1.     Jurusan ilmu-ilmu agama dan Bahasa Arab serta kesastraannya. Ibnu Khaldun   menamainya ilmu itu dengan Ilmu Naqliyah. Ilmu yang diajarkan pada jurusan ini meliputi: Tafsir Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Nahwu, Sharaf, Balaghoh, dan juga Bahasa Arab.
2.     Jurusan ilmu-ilmu hikmah (filsafat), Ibnu Khaldun menamainya dengan Ilmu Aqliyah. Ilmu yang diajarkan pada jurusan ini meliputi: Mantiq, ilmu alam dan kimia, Musik, ilmu-ilmu pasti, ilmu ukur, Falak, Ilahiyah (ketuhanan), ilmu hewan, dan juga kedokteran.[13]

5. Lembaga-Lembaga Pendidikan
Sebagaimana banyak dicatat dalam berbagai sumber sejarah, bahwa zaman dinasti Abbasiyah adalah zaman keemasan Islam (golden age) yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban yang mengagumkan, yang dapat dibuktikan keberadaannya, baik melalui berbagai sumber informasi dalam buku-buku sejarah maupun melalui pengamatan empiris di berbagai wilayah di belahan dunia yang pernah dikuasai Islam, seperti Irak, Spanyol, Mesir dan sebagian dari Afrika Utara.
Berbagai kemajuan yang dicapai dunia Islam tersebut tidak mungkin terjadi tanpa didukung oleh kemajuan dalam bidang pendidikan, karena pendidikanlah yang menyiapkan sumber daya insane yang menggerakkan kemajuan tersebut. adapun gambaran keadaan pendidikan di zaman Bani Abbasiyah sebagai berikut.
1.      Keadaan Lembaga Pendidikan
Selain masjid, kuttab,al-badiah, istana, perpustakaan dan al-bimaristan, pada zaman Dinasti Abbasiyah ini telah berkembang pula lembaga pendidikan, berupa toko buku, rumah para ulama, majelis al-ilmu, sanggar kesusastraan, observatorium, dan madrasah.
a)     Toko Buku (al-Hawanit al-Warraqien)
Kemajuan dalam ilmu pengetahuan tersebut mendorong lahirnya indistri perbukuan, dan industry perbukuan mendorong lahirnya took-toko buku. Di beberapa kota atau negara yang di dalamnya terdapat took-toko buku, menggambarkan bahwa kota atau negara tersebut  telah mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan.
b)     Rumah-rumah Para Ulama (Manazil al-Ulama)
Di antara rumah yang sering digunakan untuk kegiatan ilmiah adalah rumah al-Rais Ibn Sina. Dalam hubungan ini al-Jauzajani berkata kepada sahabatnya, bahwa pada setiap malam ia berkumpul di rumah Ibn Sina untuk menimba ilmu, dan membaca kitab al-Syifa’ dan sebagian lain ada yang membaca kitab al-Qanun. Abu Sulaiman al-Sijistani juga menggunakan rumahnya untuk kegiatan orang-orang yang mau menimba ilmu, dan mia menggunakan rumahnya untuk para ulama senior untuk memvalidasi bacaan-bacaannya.
Selanjutnya rumah yang sering digunakan sebagai majelis ilmu yang didatangi para pelajar dan para guru untuk mematangkan ilmunya adalah rumah Imam al-Ghazali (504 H) yang menerima para siswa di rumahnya, setelah ia berhenti sebagai guru di Madrasah al-Nidzamiyah di Nisafur, serta menuntaskan pejalanan spiritualnya, yaitu mengerjakan ibadah haji, beriktikaf di masjid al-Amawiy di Damaskus serta menulis kitabnya yang terkenal Ihya’ Ulum al-Din. Demikian pula rumah Ya’kub bin Kalas wazir al-Aziz billah al-Fathimy, rumah al-Sulfiy Ahmad bin Muhammad  Abu Thahir di Iskandariyah digunakan sebagai tempat untuk kegiatan ilmiah.
c)     Sanggar Sastra (al-Sholun al-Adabiyah)
Sanggar sastra ini mulai tumbuh sederhana pada masa Bani Umayyah kemudian berkembang pesat pada zaman Abbasiyah, dan merupakan perkembangan lebih lanjut dari perkumpulan yang ada pada zaman Khulafa’ al-Rasyidin. Di sanggar sastra ini terdapat ketentuan kode etik yang khusus. Dalam hubungan ini Ibn Abd Rabbih, al-Muqri dan al-Maqrizi berkata berkata, bahwa sanggar sastra tidak bisa menerima setiap orang yang menginginkannya, melainkan sanggar tersebut hanya dibolehkan untuk kelompok orang tertentu.
d)     Madrasah
Dalam sejarah, madrasah ini mulai muncul di zaman khalifah Bani Abbas, sebagai kelanjutan dari pendidikan yang dilaksanakan di masjid dan tempat lainnya. Dalam kaitan ini, Ahmad Tsalabi berpendapat, bahwa ketika minat masyarakat untuk mempelajari ilmu di Halaqah yang ada di masjid makin menibgkat dari tahun ke tahun, dsan menimbulkan kegaduhan akibat dari suara para pengajar dan siswa yang berdiskusi dan lainnya yang mengganggu kekhusukan shalat. Selain itu, berdirinya madrasah ini juga karena ilmu pengetahuan dan berbagai keterampilan semakin berkembang, dan untuk mengajarkannya diperlukan guru yamg banyak, peralatan belajar mengajar yang lebih lengkap, serta pengaturan administrasi yang lebih tertib. Selain itu, madrasah juga didirikan dengan tujuan untuk memasyarakatkan ajaran atau paham keagamaan dan ideology tertentu.
e)     Perpustakaan dan Observatorium
Para ulama’  dan sarjana dari berbagai macam keahlian, pada umumnya menulis buku dalam bidangnya masing-masing dan selanjutnya untuk diajarkan atau disampaikan kepada para penuntut ilmu. Bahkan para ulama’  dan sarjana tersebut memberikan kesempatan kepada para penuntut ilmu untuk belajar di perpustakaan pribadi mereka.
Baitul hikmah di Baghdad yang didirikan khalifah Al-Rasyid adalah merupakan salah satu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap, yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dan bahasa arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada masa itu.[14]
Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas karena disamping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.[15]
Tempat-tempat ini juga digunakan sebagai tempat belajar mengajar dalam arti luas, yaitu belajar bukan dalam arti menerima ilmu dari guru sebagaimana yang umumnya dipahami, melainkan kegiatan belajar yang bertumpu pada aktivitas siswa (student centris), seperti  belajar  dengan  cara memecahkan masalah, eksperime, belajar sambil bekerja  (learning be doing),  dan   penemuan  (inquiri).  Kegiatan  belajar yang demikian itu dilakukan bukan hanya di kelas, melainkan di lembaga-lembaga pusat kajian ilmiah. 
f)      Al-Ribath
Secara harfiah al-ribath berarti ikatan yang mudah di buka. Sedangkan dalam arti yang umum, al ribath adalah tempat untuk melakukan latihan, bimbingan, dan pengajran bagi calon sufi. Di dalam al-ribath tersebut terdapat beberapa ketentuan atau komponen yang terkait dengan pendidikan tasawuf, misalnya komponen guru yang terdiri dari syekh (guru besar), mursyid (guru utama), mu’id (asisten guru), dan mufid (fasilitator). Murid pada al-ribath dibagi sesuai dengan tingkatannya, mulai dari ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah. Adapun bagi yang lulus diberikan pengakuan berupa ijazah.[16]

6.  Metode Pendidikan Pada Masa Abbasiyah
Dalam proses belajar mengajar, metode pendidikan/pengajaran merupakan salah satu aspek pendidikan/pengajaran yang sangat penting guna mentransfer pengetahuan atau kebudayaan dari seorang guru kepada para muridnya. Melalui metode pengajaran terjadi proses internalisasi dan pemilikan pengetahuan oleh murid hingga murid dapat menyerap dan memahami dengan baik apa yang telah disampaikan gurunya.
Pada masa Dinasti abbasiyah metode pendidikan/pengajaran yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam: lisan, hafalan, dan tulisan.
a.  Metode Lisan
Metode lisan berupa dikte, ceramah, qira’ah dan diskusi. Metode dikte (imla’)adalah metode penyampaian pengetahuan yang dianggap baik dan aman karena denganimla’ ini murid mempunyai catatan yang akan dapat membantunya ketika ia lupa. Metode ini dianggap penting, karena pada masa klasik buku-buku cetak seperti masa sekarang sulit dimiliki.
b.  Metode ceramah
Metode ceramah disebut juga metode as-sama’, sebab dalam metode ceramah, guru menjelaskan isi buku dengan hafalan, sedangkan murid mendengarkannya.Metodeqiro’ah biasanya digunakan untuk belajar membaca sedangkan diskusi merupakan metode yang khas pada masa ini.
c.  Metode Menghafal
Metode menghafal Merupakan ciri umum pendidikan pada masa ini.Murid-murid harus membaca secara berulang-ulang pelajarannya sehingga pelajaran tersebut melekat pada benak mereka, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Hanafi, seorang murid harus membaca suatu pelajaran berulang kali sampai dia menghafalnya. Sehingga dalam proses selanjutnya murid akan mengeluarkan kembali dan mengkonstektualisasikan pelajaran yang dihafalnya sehingga dalam diskusi dan perdebatan murid dapat merespons, mematahkan lawan, atau memunculkan sesuatu yang baru.
d.  Metode Tulisan
Metode tulisan dianggap metode yang paling penting pada masa ini.Metode tulisan adalah pengkopian karya-karya ulama. Dalam pengkajian buku-buku terjadi proses intelektualisasi hingga tingkat penguasaan ilmu murid semakin meningkat. Metode ini disamping berguna bagi proses penguasaan  ilmu pengetahuan juga sangat penting artinya bagi penggandaan jumlah buku teks, karena pada masa ini belum ada mesin cetak, dengan pengkopian buku-buku kebutuhan terhadap teks buku sedikit teratasi.[17]

7.  Materi Pendidikan Pada Masa Abbasiyah
Materi pendidikan dasar pada masa daulat Abbasiyah terlihat ada unsur demokrasinya, disamping materi pelajaran yang bersifat wajib (ijbari) bagi setiap murid juga ada materi yang bersifat pillihan (ikhtiari).Hal ini tampaknya sangat berbeda dengan materi pendidikan dasar pada masa sekarang.Di saat sekarang ini materi pendidikan tingkat dasar dan menengah semuanya adalah materi wajib, tidak ada materi pilihan.Materi pilihan baru ada pada tingkat perguruan tinggi.
Menurut Mahmud  Yunus dalam bukunya “Sejarah Pendidikan Islam”, yang dikutip oleh Suwito menjelaskan tentang materi pelajaran yang bersifat wajib (ijbari) yakni,  Al-Qur’an, Shalat,  Do’a, Sedikit ilmu nahwu dan bahasa arab (maksudnya yang dipelajari baru pokok-pokok dari ilmu nahwu dan bahasa arab belum secara tuntas dan detail), Membaca dan menulis
Sedangkan materi pelajaran ikhtiari (pilihan) ialah; Berhitung; Semua ilmu nahwu dan bahasa arab (maksudnya nahwu yang berhubungan dengan ilmu nahwu dipelajari secara tuntans dan detail); Syair-syair; Riwayat/ Tarikh Arab.[18]

8.  Kurikulum
Kurikulum pendidikan pada zaman Bani Abbasiyah dari segi muatannya telah mengalami perkembangan, sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Namun dari segi susunan atau konsepnya belum seperti yang dijumpai di masa sekarang. Kurikulum pada masa itu lebih merupakan susunan mata pelajaran yang harus diajarkan pada peserta didik sesuai dengan sifat dan tingkatannya. Kurikulum pendidikan ini misalnya terlihat dalam pembagian ilmu yang dikemukakan para tokoh sebagai berikut.

 a. Kurikulum Menurut Al-Ghazali
Ia membagi ilmu dalam tiga pendekatan. Pertama, pembagian ilmu dari segi sumbernya. Kedua, pembagian ilmu dilihat dari segi jauh dekatnya dengan Tuhan. Dan yang ketiga, pembagian ilmu dari segi hukumnya.
Menurut al-Ghazali, bahwa dilihat dari segi sumbernya, ada ilmu yang bersumber dari syariat (Al-Qur’an dan Al-Hadis), dan ilmu yang sumbernya bukan dari syariat. Selanjutnya dilihat dari segi obyeknya:
a)     Ada ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak , baik sedikit maupun banyak, seperti sihir, azimat, nujum dan ilmu tentang ramalan nasib. Ilmu ini tercela, karena tidak memiliki sifat manfaat, baik di dunia maupun di akhirat.
b)     Ilmu pengetahuan yang terpuji, baik sedikit maupun banyak. Seperti ilmu agama dan ilmu tentang peribadatan.
c)     Ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu, terpuji, tetapi jika mendalaminya tercela, seperti filsafat naturalisme.
Selanjutnya dilihat dari segi hukum mempelajarinya dalam kaitannya dengan nilai gunanya, ilmu pengetahuan dapat digolongkan:
a)         Ilmu fardhu ‘ain yang wajib dipelajari setiap individu, seperti ilmu agama dan cabang-cabangnya.
b)         Ilmu fardhu kifayah, ilmu ini tidak wajib dipelajari oleh setiap muslim, melainkan cukup jika di antara kaum muslimin ada yang mempelajarinya. Dan jika seorang pun di antara kaum muslim tidak ada yang mempelajarinya, maka mereka akan berdosa. Di antara yang tergolong fardhu kifayah adalah ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, pertenunan, politik, pengobatan tradisional dan jahit menjahit.[19]

2. Kurikulum Menurut Ibn Khaldun
Ibn Khaldun menyusun kurikulum sesuai dengan akal dan kejiwaan peserta dididk, dengan tujuan agar pesrta didik menyukainya dan bersungguh-sungguh mempelajarinya. Ibn Khaldun membagi ilmu menjadi 3 macam, yaitu :
a)     Kelompok ilmu lisan (bahasa), ilmu tentang bahasa (gramatika), sastra dan bahasa yang tersusun secara puitis (syair).
b)     Kelompok ilmu naqli, yaitu ilmu yang di ambil dari kitab suci dan sunnah Nabi.
c)     Kelompok ilmu aqli, yaitu ilmu yang diperoleh melalui kemampuan berfikir. Proses perolehan tersebut dilakukan melalui pancaindra dan akal.

9.    Tradisi Ilmiah Dan Atmosfer Akademik
Tradisi ilmiah dapat diartikan sebagai kebiasaan yang berkaitan dengan pengembangan ilmu yang sudah memasyarakat dan digunakan secara merata di kalangan ilmuwan. Tradisi ilmiah ini selanjutnya membentuk sebuah keadaan yang khas yang selanjutnya disebut atmosfer akademik.
Di antara tradisi ilmiah dan atmosfer akademik yang terjadi pada zaman Abbasiyah dan masa sebelumnya adalah sebagai berikut.
a.     Tukar Menukar Informasi ( Muzakarah )
Tradisi ini dilakukan oleh para pelajar dari berbagai daerah untuk saling bertukar pikiran, pemahaman dan pengamalan sesuatu ajaran.
b.     Berdebat
Tradisi ini dilakukan oleh para pelajar dan pakar dalam bidang tertentu untuk saling menguji kedalaman ilmu, ketajaman analisis, dan kekuatan argumentasi yang dimiliki masing-masing ulama. Tradisi ini memiliki pengaruh yang kuat kepada para ilmuwan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas keilmuannya masing-masing.
c.      Rihlah Ilmiah
Rihlah ilmiah berarti melakukan perjalanan atau pengembaraan dari suatu daerah ke daerah lain dalam rangka menuntut ilmu atau melakukan penelitian terhadap sesuatu masalah. Tradisi ini terjadi seiring dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam dan tersebarnya para ilmuwan pada berbagai wilayah tersebut.
d.     Penerjemahan
Tradisi penerjemahan ini terjadi karena didorong oleh keingintahuan dan keperluan para ilmuwan dalam menjelaskan tentang sesuatu masalah. Khalifah Bani Abbasiyah bernama Al-Makmun sangat memberikan perhatian terhadap kegiatan penerjemahan. Ia mendirikan Bait al-Hikmah (rumah kegiatan ilmu ) untuk melakukan kegiatan penerjemahan karya-karya Yunani, India, dan Cina dan menyewa penerjemah asing, seperti, Hunain Ibn Ishak.
e.     Mengoleksi Buku dan Mendirikan Perpustakaan
Tradisi mengoleksi buku ini tumbuh sejalan dengan adanya tradisi penghormatan yang tinggi kepada para ilmuwan serta tradisi penghormatan yang tinggi kepada para ilmuwan serta tradisi membaca dan menulis buku. Kegiatan mengoleksi buku ini tidak hanya terjadi terjadi pada perorangan, malainkan juga secara kelembagaan.
f.      Membangun Lembaga Pendidikan
Yang dimaksud dengan lembaga pendidikan disini adalah tempat atau wadah yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, pengajaran, bimbingan, dan pelatihan, baik yang bersifat formal, non formal maupun informal. Lembaga pendidikan tersebut seperti, berupa toko buku, rumah para ulama, majelis al-ilmu, sanggar kesusastraan, observatorium, dan madrasah.
g.     Melakukan Penelitian Ilmiah
Penelitian adalah suatu kegiatan ilmiah yang secara garis besar diarahkan kepada dua hal. Pertama, penelitian untuk mendapatkan temuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan atau teori. Penelitian jenis pertama ini disebut sebagai penelitian ilmiah. Kedua, penelitian untuk menerapkan teori atau kosep menjadi sebuah program atau kegiatan yang secara pragmatis mendatangkan manfaat atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik secara lahir naupun batin. Penelitian jenis kedua ini disebut sebagai penelitian terapan.
h.     Menulis Buku
Sejalan dengan adanya tradisi meneliti yang demikian kuat dan bervariasi, maka pada zaman Abbasiyah juga muncul tradisi menulis buku. Di antara penulis penulis tersebut adalah :  
1.     Al-Jahidz, ia di kenal sebagai seorang sastrawan terkenal yang hidup pada zaman al-Makmun dan berani menulis tanpa terikat pada tradisi lama.
2.     Imam Bukhari, ia dikenal sebagai peneliti dan penulis Hadis yang mahsyur.
3.     Ibn Sa’id, ia mengarang buku tentang kemenangan umat islam dalam peperangan dengan judul Thabaqat al-Qubra sebanyak 8 jilid.
i.       Memberikan Wakaf
Tradisi memberikan wakaf ini terjadi antara lain ketika seseorang yang memiliki banyak harta, sedangkan tidak ada keturunan untuk merawat dan memanfaatkannya dengan baik, maka harta tersebut diserahkan kepada sebuah lembaga untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umum, seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan dengan dasar ikhlas karena Allah SWT. Selain itu, wakaf juga muncul sebagai jalan untuk menjalin kesalihan sosial dan pendekatan diri kepada Allah SWT, serta bekal pahala di akhirat.[20]

10.  Sarana Dan Prasarana
Sarana prasarana pendidikan seperti lembaga pendidikan, peralatan kegiatan penelitian dan percobaan, tersedia lebih lengkap dibanding dengan masa sebelumnya. Hal ini sejalan dengan terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan yang memerlukan peralatan khusus dalam mengajarkannya. Gedung sekolah, perkantoran, alat-alat tulis, rumah tempat tinggal bagi para guru, asrama bagi mahasiswa, ruang praktikum bagi para mahasiswa, dan berbagai sarana lainnya yang dibutuhkan tersedia dengan memadai. Ketersediaan sarana prasarana dan peralatan belajar mengajar terjadi berkat adanya perhatian yang besar dari pemerintah serta masyarakat pada umumnya terhadap masalah pendidikan.

11.   Pembiayaan Pendidikan
Sumber pembiayaan pendidikan ini berasal dari anggaran belanja pemerintah serta dari dan wakaf yang berhasil dihimpun. Dana tersebut digunakan untuk biaya hidup para guru, para pelajar, pembangunan gedung sekolah, serta pengadaan saran dan prasarana serta peralatan pendidikan lainnya. Biaya pendidikan ini dikeluarkan karena pada umumnya lembaga pendidikan yang diselenggarakan bersifat gratis, yakni dibiayai oleh pemerintah. Menurut catatan para ahli sejarah, bahwa pada setiap tahunnya, pemerintah Abbasiyah mengeluarkan dan tidak kurang dari 600.000 dinar atau setra dengan 6 miliat rupiah untuk ukuran waktu itu, atau sebanyak 6 triliun untuk ukuran waktu sekarang.[21]

12.  Manajemen Pendidikan
Terjadinya kemajuan dalam sistem pendidikan Islam tidak terlepas dari adany manajemen pengelolaan pendidikan yang rapi dan tertib. Gedung-gedung sekolah dibanmgun, diatur, dipelihara, digunakan dan dikelola dengan tertib. Rumah-rumah bagi guru, dan asrama bagi para pelajar dibangun sesuai dengan rapid an tertib. Demikian pula jadwal kegiatan belajar mengajar, tugas-tugas bagi para guru dan lainnya diatur dengan baik. Hubungan antara lembaga pendidikan yang berada di pusat pemerintahan dan yang ada di daerah diatur dan dikelola dengan baik. Lembaga pendidikan tersebut dikelola oleh sebuah kementrian pendidikan.

13.  Para Pelajar
Para pelajar yang menimba ilmu pada zaman Abbasiyah berasal dari daerah sekitarnya serta mancanegara. Keadaan para pelajar yang demikian itu menyebabkan kota Baghdad menjadi masyarakat multi etnis dan multikultural. Interaksi antara para pelajar yang berasal dari latar belakang daerah yang berbeda-beda. Hal itu menyebabkan timbulnya atmosfer akademik dan tradisi ilmiah yang luar biasa. Keadaan ini semakin menambah suasana kegiatan intelektual makin meningkat dan mendorong proses pematang keilmuan seseorang.

C. KEMUNDURAN BANI ABBASIYAH

     1. Faktor Internal
Puncak runtuhnya dinasti ini terjadi kira-kira 656 H/1258 M pada akhir kekhalifahan Al-Mu’tasim Billah,[22] diawali dari para pembangkang dan para pemberontak yang tidak rela dan tidak terima dengan kepemimpinan bani Abbasiyah, kelompok-kelompok separatis pun mulai ikut bermunculan. Ditambah lagi dari serangan bangsa Mongol yang kejam dan ingin menguasai wilayah dinasti Abbasiyah. Disamping kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:[23]
a)     Pemberontakan Zang
Revolusi ini yang mengancam keberadaan dinasti Abbasiyah lebih dari ancaman Negara Turki, revolusi atau pemberontakan ini terjadi di daerah ibukota Abbasiyah, Baghdad. Pemberontakan ini terjadi karena sebab ekonomi, yaitu orang-orang negro dari Afrika timur yang dipekerjakan oleh para pejabat pemerintah dan orang-orang kaya tanpa upah, atau diberi tepung yang hanya cukup untuk makan sekali. Sebenarnya mereka adalah kelompok yang sangat banyak, tapi kelemahan ekonomilah yang membuat mereka diperlakaukan dengan tidak layak.[24]
b)     Persaingan Antara Bangsa Persia Dan Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas atau Al-Mansur 754 M, yang bersekutu dengan Persia, karena persamaan nasib diantara kedua bangsa itu yang pada masa dinasti Umayyah sama-sama tertindas. Dan setelah dinasti Abbasiyah berdiri kecenderungan untuk berkuasa diantara kedua bangsa itu muncul.[25]

c)     Memburuknya Ekonomi Negara
Para menteri yang suka menghambur-hamburkan uang dan mengambil keuntungan dari pungutan pajak uang rakyat, tanpa memberikannya pada khalifah Al-Muqtadir 903-932 M. Sedangkan kebutuhan negara semakin meningkat, tentara dan penjaga sangatlah banyak. Mereka menuntut gaji dan keadaan pun semakin kacau.[26]
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.[27]

d)     Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan juga mengakibatkan persoalan kebangsaan mengalami perpecahan, berbagai aliran keagamaan seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Sunni, dan kelompok-kelompok garis keras yang menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk menyatukan fahamnya.[28]

e)     Gerakan-gerakan yang Memisahkan Diri
Sebab-sebab pecahnya dinasti dan pemisahan dinasti-dinasti kecil karena penguasa bani Abbasiyah lebih mementingkan pada pembinaan peradaban dan kebudayaaan dari pada politik, persaingan antar bangsa, terutama Arab, Persia, dan Turki. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan, dan juga karena dipengaruhi oleh paham keagamaan seperti Sunni, Syi’ah, Mu’tazilah, dan lainnya. Akibat dari beberapa faktor itulah banyak provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari kekuasaan Abbasiyah, diantaranya ialah[29]:
1.     Thahiriyah di Khurasan, Persia (820-870 M)
2.     Safariyah di Fars, Persia (868-901 M)
3.     Samaniyah di Transoxania (873-998 M)
4.     Thuluniyah di Mesir (837-903 M)
5.     Ghazwaniyah di Afghanistan (962-1189 M)
6.     Dinasti Buwaihi di Iran (905-1004 M)
7.     Dinasti Saljuk (1055-1157 M)
8.     Hamdaniyah di Aleppo dan Musil (929-1002 M)
9.     Ayyubiyah di Kurdi (1167-1250 M)
10.  Mirdasiyah di Aleppo (1023-1078 M)
11.   Ukailiyah di Mausil (996-1095 M)
12.   Idrisiyiah di Maroko (788-985 M)
13.   Aghlabiyah di Tunisia (800-900 M)
14.   Abu Ali di Kurdi (990-1095 M)
15.   Al-Barzuqani di Kurdi (959-1015 M)
16.   Alawiyah di Tabiristan (864-928 M)
17.   Sajiyyah di Azerbaijan (878-930 M)
18.   Dulafiyah di Kurdistan (825-898 M)
19.   Mazyadiyah di Hillah (1011-1150 M)

2. Faktor Eksternal
Selain yang disebutkan diatas, yang merupakan faktor-faktor internal kemunduran dan kehancuran Khilafah bani Abbas. Ada pula faktor-faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.

1. Perang Salib
Kekalahan tentara Romawi telah menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang kristen terhadap ummat Islam. Kebencian itu bertambah setelah Dinasti Saljuk  menguasai Baitul Maqdis menerapkan beberapa peraturan yang dirasakan sangat menyulitkan orang-orang Kristen yang ingin berziarah kesana. Oleh karena itu pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II menyerukan kepada ummat kristen Eropa untuk melakukan perang suci, yang kemudian dikenal dengan nama Perang Salib.
Perang salib yang berlangsung  dalam beberapa gelombang atau periode telah banyak menelan korban dan menguasai beberapa wilaya Islam. Setelah melakukan peperangan antara tahun 1097-1124 M mereka berhasil menguasai Nicea, Edessa, Baitul Maqdis, Akka, Tripoli dan kota Tyre. [30]
2. Serangan Bangsa Mongol
Hulagu Khan (cucu Jengis Khan) pemimpin penguasa Mongol dan sebagai pendiri kerajaan mongol di Persia yang terbentang dari Amudarya sampai ke perbatasan Suriah dan dari pegunungan Kaukakus sampai Samudra Hindia, dia mengundang khalifah Al-Mu’tasim bekerjasama untuk menghancurkan kelompok Hasyasyim Ismailiyah, tetetapi khalifah Al-Mu’tasim tidak memberikan jawaban.
Pada tahun 1256 M sejumlah besar benteng Hasyasyim termasuk Alamut, berhasil ditakhlukkan dan dihancur leburkan oleh pasukan Hulagu sendiri, bayi-bayi pun disembelih dengan kejam. Pada tahun berikutnya Hulagu mengirim ultimatum kepada khalifah agar menyerah, tetapi khalifah enggan memberikan jawaban.[31]
Akhirnya pada tahun 1258 M, Hulagu dan pasukannya bergerak dengan efektif dan merangsek ke jantung kota, dan khalifah beserta tiga ratus pejabat dan qadhi menawarkan penyerahan diri tanpa syarat. Tetapi sepuluh hari berikutnya mereka dibunuh, kota-kota dijarah dan dibakar, mayoritas penduduk dan keluarga khalifah dibantai habis, mayat-mayatnya tidak dikubur tapi dibiarkan bergeletakan di jalanan.[32] 
Buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke Sungai Tigris sehingga sungai yang jernih menjadi hitam kelam,[33] dan sebagai salah satu faktor hilangnya karya-karya umat muslim dalam bidang ilmu pengetahuan.
Tetapi cicit dari Hulagu, Ghazan, seorang muslim yang taat dan nanti yang akan berusaha mencurahkan waktu dan energi untuk memulihkan kembali peradaban islam. Itulah akhir dari dinasti Abbasiyah yang besar akan wilayah kekuasaan, budaya, dan ilmu pengetahuan, berakhir dengan kesedihan.











DAFTAR PUSTAKA

Aen, Nurul. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Al-Isy, Yusuf. 2007. Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-Abbasiyah. Damaskus: Darul
Fikr
Amin, Samsul Munir. 2009  Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah
Hasjmi, A. 1997. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta : PT. Bulan Bintang
Hitti, Philip K. 2010. History Of The Arabs. Jakarta : Serambi Ilmu Semesta
Muchtarom, Zuhairi. 1995. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara
Nata, Abuddin. 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana Perdana
            Media Group
Nizar, Syamsul. 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana Media Group
Nurhakim, Muh. 2004. Sejarah & Peradaban Islam. Malang: UMM Press
Soebahar, Abd. Halim.  2002. Wawasan Baru Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam
 Mulia
Subki, A’la. 2010. Sejarah Kebudayaan Islam. Klaten : CV. Gema Nusa
Sunanto, Musyrifah. 2004.  Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu
            Pengetahuan Islam. Jakarta : Prenada Media
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : CV Pustaka Setia
Suwito. 2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta : Katalog Dalam Terbitan
Suwito. 2008. Sejarah Sosial Pendidikan. Jakarta : Kencana
Wahid, N Abbas dan Suratno. 2009. Khazanah Sejarah Kebudayaan Islam. Solo :
            PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Yatim, Badri. 2000. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Jakarta : PT.
 Raja Grafindo Persada
Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Rajawali Pers
Yunus, Mahmud. 1990. Sejarah Pendidikan Islam.  Jakarta : PT. Hidakarya
            Agung.






[1] A Hasjmi. Sejarah Kebudayaan Islam. ( Jakarta : PT.Bulan Bintang, 1997 ), Hal. 212
[2] A’la Subki.  Sejarah Kebudayaan Islam. ( Klaten : CV. Gema Nusa, 2010), Hal. 37
[3] Nizar Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:Kencana Predana Media Grup,2011) Hal. 65-66
[4] Abd. Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, ( Jakarta, Kalam Mulia, 2002), Hal. 95
[5] Hasjmi. Sejarah Kebudayaan Islam. ( Jakarta : PT.Bulan Bintang, 1997 ), Hal. 210
[6] Suwito, dkk. Sejarah Sosial Pendidikan Islam ( Jakarta: Katalog Dalam Terbitan,2005), Hal. 11
[7] Aen, Nurul. Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2008), Hal.127
[8] Ibid, 130
[9] A’la Subki.  Sejarah Kebudayaan Islam. ( Klaten : CV. Gema Nusa, 2010), Hal. 38

[10] Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung,1990) Hal. 46.
[11] N Abbas Wahid dan Suratno, Khazanah Sejarah Kebudayaan Islam, (Solo : PT Tiga Serangkai), Hal.50
[12] Yatim,Badri, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2000) Hal. 54
[13] Sunanto,Musyrifah,  Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta: Prenada Media) Hal. 57
[14] Zuhairi Muchtarom, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta, Bumi Aksara, 1995), Hal. 98
[15] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: rajawali pers, 2010), Hal. 55
[16] Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, ( Jakarta : Kencana Perdana Media Group, 2011 ), Hal. 162
[17] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan, (Jakarta. Kencana, 2008) Hal. 14
[18] Ibid, Hal. 15
[19] Op.Cit Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan…..,163
[20] Ibid, Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan…..,173
[21] Ibid, Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan…..,176

[22] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 156
[23] Badri yatim , sejarah peradaban Islam Dirasah islamiayah II,  hlm.80
[24] Yusuf Al-Isy, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-Abbasiyyah, hal. 125-126
[25] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 153
[26] Op.Cit. Yusuf Al-Isy, hal 181
[27] Dedi Supriyadi, M. Ag, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008). Hal. 140
[28] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 156
[29] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 579-599
[30] Muh. Nurhakim, Sejarah & Peradaban Islam, (Malang: UMM Press, 2004), Hal. 74
[31] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, hal. 619
[32] Ibid, hal. 620
[33] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 156-157

Tidak ada komentar: