Rabu, 17 September 2014

Ciri-ciri Kematangan Belajar

A.  Pengertian Kematangan dan Belajar
Menurut para ahli kematangan itu didefinisikan sebagai berikut:
  1. Menurut David C. Edward : kematangan adalah merupakan suatu keadaan tahap pencapaian proses pertumbuhan atau perkembangan.
  2. Menurut Garret : kematangan dapat berarti matanganya suatu sifat atau potensi fisik yang terjadi secara kodrat akibat proses pertumbuhan dan hanya tergantung pada waktu belaka.
  3. Menurut Elizabet B. Hurlock : kemtangan juga dapat berarti suatu fungsi atau potensial mental psikologis akibat proses perkembangan karena pengalaman dan latihan.
  4. Menurut Diana E. Papalia & Sally Wendkos Olds : kematangan potensi fisik dan mental psikologis iru merupakan suatu keadaan yang akan berfungsi sebagai prenequiaite dalam proses perkembangan kearah pematangan fungsi / potensitersebut selanjutnya.
Dengan demikian, kematangan yang dimaksud adalah kematangan potensi fisik dan potensi mental psikologis yang telah dicapai dalam sutau tahap pertumbuhan atau perkembangan.
Adapun pengertian belajar yang dimaksud dalam kaitan dengan proses perkembangan itu secara luas akan dibahas pada makalah ini. Tetapi secara ringkasnya pengertian belajar dapat dikemukakan dari penjelasan Elizabeth B. Horluck yaitu: “Learning is development that comes from exercise and effot; through learning children acquire competence in using their hereditary resources”. Jadi belajar ialah perubahan yang terjadi melalui latihan atau usaha dengan belajar itulah anak memiliki berbagai kemampuan, pengetahuan dan sebagainya. Atau dengan kata lain, semua aspek perkembangan yang diperoleh sianak itu terjadi karena belajar, tanpa belajar anak tidak mungkin tahu apa-apa dan tidak akan bisa apa-apa.

B.   Fungsi Kematangan Dan Belajar Dalam Perkembangan
Dalam proses pertumbuhan kearah tercapainya kematangan/ kedewaaan fisik, kematangan merupakan faktor penyebab, yang berarti kedewasaan fisik seorang anak sangat tergantung pada waktunya matang saja ( Kalau umumnya sudah 17 tahun maka kematangan dari pertumbuhan fisik akan terjadi dengan sendirinya ).
Dalam kaitanya dengan proses perkembangan mental psikologis kematangan untuk fisik berfungsi sebagai perquisite untuk perkembangan, misalnya perkembangan bicara/ bahasa tidak mungkin terjadi dengan baik tanpa adanya/ didukung oleh pematangan alat bicara (Alat ini matang pada waktu banyi berumur 6 bulan ). Kematanagan otak pada umur 6/7 tahun merupakan perquisite untuk perkembangan intelektual/ pengetahuan akademik disekolah.Perkembangan psikoseksual dapat dimulai setelah anak matang seksualnya.Jadi dalam kaitanya dengan belajar, pematangan itu berfungsi sebagai pemberi “raw material” atau bahan dasar untuk belajar.
Adapun posisi belajar dalam proses perkembangan itu sangat menentukan. Dalam hal ini belajar akan berfungsi sebagai penentu atau sebab terjadibnya perkembangan (cause of development). Tanpa melalui belajar mental psikologis anak tidak mungkin akan dapat dikembangakan. Atau dengan kata lain tanpa belajar maka manudsia tidak akan dapat bertingkah laku seperti manusia. Dan perkembangan pribadi manusia itu merupakan hasil perpaduan unsure kematangan dan belajar.
Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa kematangan itu sangat penting artinya dalam proses perkembangan. Tanpa adanya unsurkematangan tersebut perkembanan sulit untuk di wujudkan. Dalam proses perkembangan fungsi kematangan itu adalah sebagai berikut :
1.     Pemberi bahan mentah atau bahan baku bagi suatu perkembangan, misalnya kematangan otot dan urat kaki sebagai bahan untuk perkembangan berjalan
2.     Pemberi batas dan kualitas perkembangan. Semakin baik kualitas kematangan suatu fungsi akan makin baik kualitas hasil perkembangan yang akan terjadi, tetapi sebaliknya semakin kurang baik kematangannya akan makin kurang baik pula perkembangannya.
3.     Pemberi kemudahan bagi pendidik atau pengasuh apabila melatih atau membimbing/ mengajarinya.

Tentang perkembangan itu sendiri para ahli mengemukakan sebagai berikut:

a.      Menurut Aristoteles
Pembagiannya berdasarkan adanya perubahan-perubahan jasmani yang penting ialah lebih kurang umur 7 tahun pertukaran gigi, umur lebih kurang 14 tahun, tumbuhnya tanda-tanda kelamin sekunder lainnya. Pembagiannya:
a.      0 – 7 tahun, periode anak kecil,
b.     14 – 14 tahun, periode anak sekolah,
c.      14 – 21 tahun, periode pemuda.

b.     Menurut Chalotte Buchler
Pembagiannya adalah sebagai berikut, umur:
a.      0 – 7 tahun,     masa timbulnya dinamika dari subjek menuju ke objek.
b.     2 – 4 tahun,  masa menyadari “aku”-nya. Dia mengenal dunia secara subjektif.
c.      5 – 8 tahun, masa memasukkan diri ke dalam masyarakat menuju kepada objekvitas.
d.     9 – 13 tahun, masa memisahkan diri sendiri dari orang lain.
e.      14 – 19 tahun, masa mempertemukan sikap ke dalam dan ke luar.

c.  Menurut Masrun, MA
a.      0 - 2 tahun, masa vital.
b.     2 – 6 tahun, masa kanak-kanak.
c.      6 – 12 tahun, masa sekolah.
d.     12 – 18 tahun, masa remaja.
e.      18 – 21 tahun, masa transisi dari remaja menuju dewasa.
f.      21 -  24 tahun, telah matang jasmani dan rohaninya.

C.    Pembentuk Kematangan Belajar
Kematangan belajar dapat terbentuk karena adanya factor-factor yang lebih dalam dan lebih mendorong sehingga terbentuknya seatu kematangan dalam belajar. Pembentukan kematangan belajar dibentuk oleh pembentukan fisik dan pembentukan fsikis antra lain adalah sebagai berikut :

a.      Dasar-dasar biologis tingkah laku
Tingkah laku individu didasari oleh pertumbuhan biologisnya. System saraf merupakan penggerak tingkah laku manusia secara biologis.System saraf terdiri atas komposisi sel-sel yang disebut neurons. Tiap- tiap neurons mengandung tenaga yang berasal dari  proses kimiawi dan elektronik. Apabila mendapat stimulasi, neurons melepaskan dorongan-dorongan elektronis yang merangsang gerakan neurons lainnya guna merangsang gerakan urat-urat dan otot-otot tubuh.

b.     Perubahan-perubahan dalam otak yang menimbulkan kematangan
Perkembangan struktur dan fungsi otak tampak sempurna atau hampir sempurna pada saat anak tiba saatnya masuk sekolah dasar.Pada umur-umur setelah 6 tahun, terjadilah perubahan-perubahan penting dalam struktur otak, namun perkembangan kapasitas mental lebih banyak diakibatkan karena pengalaman atau belajar.
Setelah otak menjadi masak mengalami prubahan fisik pada manusia. Perubahan ini dapat menimbulkan tingkah laku baru yang tidak terduga sebelumnya. Urat-urat syaraf dalam otak mempunyai “electrical condoktors”. Untuk pengiriman messages ketempat-tempat yang tetrap perlu ada isolasi otak, isolasi itu disebut “ myelin” selama dorong-dorngan saraf menuju salurannya, aru gerakkannya tak di batasi oleh myelinDorongan itu akan mengalir mengaktifkan banyak sel saraf lebih dari yang diperlukan. Sel-sel saraf itu menggerakan banyak otot.Banyaknya gerakan bayi yang tak bekoordinasi adalah akibat dari kurangnya myelin.
Pada umur 6 tahun, myrlin dimiliki 95% dari orang dewasa. Readiness anak untuk berlatih toelit, bergantung pada banyaknya myelin  yangb telah tersimpan. Anak laki-laki baru berhasil dilatih tpelit bila sudah berumur mendekati umur 2 tahun.Ini berarti bahwa tingkah laku belajar memerlukan kematangan fisik, termasuk kematangan fungsi otak.
Perkembangan struktur dan fungsi otak tampak sempurna atau hampir sempurnab pada saat anak tiba saatnya amsuk sekolah dasar.Pada umur-umur setelah 6 tahun, terjadilah perubahan-perubahan penting dalan struktur oatak, namun perkembangan kapasitas mental lebih banyak diakibatkan karena pengalaman atau belajar.Perkembanagan prestasi akademik pada anak-anak sudah mencapai masa remaja lebih banayak dipengaruhi oleh faktor motifasi dan belajar.
Khusus tentang prinsip kematangan, bahwa yang di maksud dengan kematangan adalah kemampuan seoranguntuk berbuat sesuatu dengan cara-cara tertentu. Singkatnya ia telah memiliki intelengensi.
William Stern berpendapat bahwa integensi sebagian besar tergantung dengan dasar dan turunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang.Juga Prof. Waterink seorang Mahaguru di Amsterdam, menyatakan menurut penyelidikannya belum dapat dibuktikan bahwa intelegensi dapat diperbaiki atau dilatih, bahwa banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak berarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik.
Dari batasan yang di kemukakan di atas, dapat kita ketahui bahwa:
a.      Integensi ialah faktor total. Berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya (ingatan, fantasi, perasaan, perhatian, minat, dan sebagainya ikut mempengaruhi integensi seseorang.
b.     Kita hanya bisa mengetahui intelegensi, dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak
c.      Bagi suatu perbuatan integensi bukan hanya kemampuan yang di bawa sejak lahir saja yang penting. Faktor-faktor lingkungan, melalui kekuatan intelegensinya.
d.     Bahwa manusia dalam kehidupannya itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru, dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu.

D.        Ciri-ciri kematangan belajar antara lain :
Mengetahui adanya tahap kematangan suatu sifat sangat penting artinya bagi seorang pendidik atau pengasuh, karena pada tingkat itulah si anak akan memberikan reaksi yang sebaik-baiknya terahadap semua usaha bimbingan atau pendidikan yang sesuai bagim mereka.
Oleh karena itu kalau ingin mengajar atau melatih dengan berhasil, tunggulah saatnya yang tepat yaitu timbulnya kematangan yang bagi siterdidik merupakan masa peka atau masa yang tepat untuk dikembangkan/ dilatih.
Adanya ciri-ciri adanya kematangan tersebut pada diri si anak adalah di tandai dengan adanya :
a.      Perhatian si anak                       
b.      Lamanya perhatian berlangsung
c.      Kemajuan jika diajar atau dilatih.
Dan bila ditinjau dari aspek umum maka ciri-ciri dari kematangan ditandai dengan beberapa hal yaitu terdiri dari:
1.    Kematangan belajar ditandai dengan terbentuknya readinees (kemampuan)
Kematangan disebabkan karena perubahan “genes” yang menentukan perkembangan struktur fisiologis dalam system saraf, otak dan indra sehingga semua itu memungkinkan individu matang mengadakan reaksi-reaksi terhadap setiap stimulus lingkungan.
Memang, anak megalami pertumbuhan, dan pertumbuhan fisiknya merupakan penyumbang terpenting bagi pembentukan readines, akan tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa perkembanganmereka tergantung pada pengaruh lingkungan dan kultur disamping akibat tumbuhnya pola-pola jasmaniah. Stimulasi lingkungan serta hambatan-hambatan mental individu mempengaruhi perkembangan mental, kebutuhan dan lain sebagainya.
Seseorang  baru dapat belajar tentang sesuatu apabila dalam dirinya sudah terdapat “readiness”(kemampuan) untuk mempelajari sesuatu itu. Sesuai dengan kenyataan, bahwa masing-masing individu mempunyai perbedaan individual, maka masing-masing individu mempunyai sejarah atau latar belakang perkembangan yang berbeda-beda.Hal ini menyebabkan adanya pola pembentukan readiness yang berbeda-beda pula di dalam diri masing-masing individu.
Individu mengalami pertumbuhan material jasmaniahnya.Kecepatan pertumbuhan pada masing-masing individu tidak sama. Perbedaan itu dapat disebabkan oleh karena pengaruh fisiologis, psikologis, dan bahkan sosial.

2.     Kematangan belajar ditandai dengan terbentuknya emosional
Emosi yang kita ketahui adalah sebuah perasaan yang dapat dibagi menjadi beberapa perasaan lagi. Dengan ini penulis menerangkan sedikit mengenai pembagian tersebut dengan mengangkat study kasus yang subjeknya adalah pemuda
a.      Perasaan atau emosi marah
Marah pada pemuda timbul karena “social slighting”, yaitu kebimbangan pemuda akan status sosialnya yang belum jelas dan stabil.
b.     Perasaan dan emosi kasih sayang
Pemuda mulai mempersempit hubungan-hubungan kasih sayangnya. Rasa kasih sayang yang kuat dicurahkan kepada seorang teman istimewanya, entah teman istimewa itu orang yang lebih tua maupun sebaliknya, baik wanita maupun pria.
c.      Perasaan dan emosi takut
Rasa takut pada pemuda timbul karena kedudukannya yang terasa asing kebimbangan akan status sosialnya yang menentu dan jelas. Pernyataan takut itu dinyatakan dalam bentuk kata-kata (tongue tied).

3.     Kematangan belajar ditandai dengan terbentuknya intelektual
Intelektual secara harfiah berasal dari Bahasa Inggris “intellectual” termasuk adjective (kata sifat), menurut As.Hornby et.al berarti menunjukkan kekuatan penalaran yang baik. Dalam Bahasa Indonesia di lihat lebih luas, kata intelektual dapat di artikan arif (cerdik, pandai, bijaksana, berilmu). Dalam Bahasa Arab, intelektual adalah orang yang berakal, orang yang mengetahui, berbudaya,akal pikiran.
Kematangan Intelektual adalah orang yang mampu menghadapi segala persoalan dengan mempergunakan Nalar–Logika, melakukan pertimbangan-pertimbangan yang logis, sistimatis dan efisien berdasarkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya.
Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendiskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual.
Kesiapan belajar secara umum adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan. Sementara itu kesiapan kognisi bertallian dengan pengetahuan, pikiran, dan kualitas berfikir seseorang dalam menghadapi situasi belajar yang baru. Kemapuan-kemampuan itu bergantung pada tingkat kematangan intelektual. Latar belakang pengalaman, dan cara-cara pengetahuan sebelumnya distruktur (Connell, 1974).
Contoh kematangan intelektual antara lain adalah tingkat-tingkat perkembangan kognisi piaget yang telah diuraikan pada bagian psikologi perkembangan. Berkaitan dengan latar belakang pengalaman tersebut diatas, Ausebel mengatakan faktor yang paling penting mempengaruhi belajar adalah apa yang sudah diketahui oleh anak-anak. Sedangkan perihal menstrutur kembali pengetahuannya untuk penyesuaian dengan materi-materi baru yang diterima dari pendidik. Akan  tetapi pada kasus-kasus lain struktur kognisi itu dipegang erat-erat sehingga membuat pedidik mencari pendekatan lain agar anak-anak dapat menangkap materi pelajaran baru itu.
Bagai mana dengan kesiapan afeksi? Connell (1974) menulis bahwa sejumlah hasil penelitian mengatakan motivasi atau kesiapan sfrksi belajar dikelas bergantung kepada kekuatan motif atau kebutuhan berprestasi, orientasi motivasi itusendiri, dan faktor-faktor situasional yang mungkin dapat membangunkan motivasui.Ciri-ciri motivasi yang mendorong umtuk berprestasi adalah mengajar kompetensi, uaha mengaktualiasi diri, dan uaha berprestasi. Hal ini dikenal dengan istilah kebutuhan untuk ber[restasi, salah satu kebutuhan teori motivasi Mclelland.`2dxs2
Pendekatan yang lain yang dapat dilakukan dalam mengembangkan motivasi adalah dengan program intervensi selama anak duduk di TK dan kelas-kelas awal di SD. Intervensi ini bisa dalam bentuk:
1.     Memperbanyak ragam fasilitas di TK
2.     Memberi kesempatan kepada orang tua untuk menyaksikan interaksi yang efektif di TK dan SD. Pola interaksi ini adalah:
a.      Memberikesempatan untuk mngembangakan ketrampilan.
b.     Membuat kegiatan-kegiatan berprestasi berhasil
c.      Menciptakan tujuan-tujuan yang menantang, tidak terlalu gampang  atau terlalu    sukar.
d.     Memberkeyakinan untuk sukses serta menghargai kemampuan-kemampuannya.
e.      Membuat setiap anak tertarik dan gemar belajar.
Sesudah mendapatkan informasi tentang kesiapan belajar, baik kesiapan kognisi Maupun kesiapan afeksi atau motivasi, kini tiba gilisannya untuk membahas aspek-aspek individu.Mengapa hal ini perlu dilakukan, mengingat yang belajar atau yang dikenal pendidikan adalah individu itu sendiri.
Dalam proses pendidikan peserta didik atau warga belajarlah yang harus memegang peranan utama. Sebab mereka adalah individu yang hidup dan mampu berkembang sendiri.Pendidikan harus memperlakukan dan melayani perkembangan mereka secara wajar.
Karena peserta didik atau warga belajar sebagai individu, maka  ada pula orang menyebutnya sebagai subjek didik. Disini terkandung makna bahwa merekamerupaka subjek yang mempunyai pendirian sendiri, aspirasi sendiri, dan sebagainya. Mereka mampu melakukan kegiatan sendiri untuk mengembangkan dirinya masing-masing dengan  menggunakan perlengkapan-perlengkapan yang mereka miliki. Dengan demikian tidak dapat dibenarkan bila pendidik memandang mereka sebagai objek yang dapat diperlakukan semaunya oleh para pendidik.
Perlengkap peserta didik atau warga belajar sebagai subjek, dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi lima kelompok, yaitu :
a.      Watak, ialah sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang hampir tidak dapat di ubah, misalnya watak pemarah, pendiam, menyendiri, suka berbicara,cinta kasih dan sebagainya.
b.     Kemampuan umum atau IQ, ialah kecerdasan yang bersifat umum.
c.      Kemamppuan khusus atau bakat ialah kemampuan tertentu yang dibawa sejak lahir. Kemampuan ini pada umumya memberi arah kepada cita-cita seseorang terutama bila bakatnya terlayani dalam pendidikan.
d.     Kepribadian, ialah penampilan seseorang secara umum, seperti sikap, besarnya motivasi, kuatnya kemauan, tabahnya mnghadapi rintangan, penghargaannya terhadap orang lain, kesopanannya, toleransinya, dan sebagainya.
e.      Latar belakang, ialah lingkungan tempat dibesarkan terutama lingkungn keluarga. Lingkungan ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkmbangan jiwa bayi dan kanak-kanak

4.     Kematangan belajar ditandai dengan terbentuknya spiritual
Spiritual dalam arti sempitnya adalah pemujaan, atau pemujaan. Sedangkan  Dalam arti luasnya spritual berabti tinngka ataau tarap keagamman seseorang. Dalam hal ini terbentuknya spritual berarti kematangan dalam diri seseorang itu telah terbentuk karena dimana setiap insan yang telah memiliki suatu pilihan baik dan buruknya suatu al maka itu merupakan suatu perkembanaan atau seatu kematangan yang lahir dari intelektual. Dan dengan keintelektualan ini maka adanya suatu penyeimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan setelah dunia yakni yang menyeimbangkan yakni kematangan seseorang dalam berspritual.


DAFTAR PUSTAKA

Dalyono, M. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Muhibbin Syah, 1994, Psikologi Pendidikanbandung: Remaja Rosdakarya.





Tidak ada komentar: