Rabu, 17 September 2014

SYAIKH KHALID AL-BAGHDADI

WALI DENGAN DUA SAYAP

Karena penguasaannya di bidang ilmu lahir dan ilmu batin, ia mendapat sebutan “Orang dengan Dua Sayap”

Syaikh Khalid Al-Baghdadi adalah mursyid Tariqat Naqsyabandiyah ke-31, penerus rahasia Tariqat Naqsyabandi dari Syaikh Abdullah Ad-Dahlawi. Dia menyebarkan ilmu-ilmu syariat dan tasawuf, seorang mujtahid dalam hukum ilahi (syari’at) dan realitas ilahi (hakikat).

Dia dianggap cendekiawan para cendekiawan dan wali para wali, sehingga diibaratkan laksana cahaya bulan purnama dalam aliran Thariqat Naqsyabandi, pusat lingkaran kutub.

Khalid lahir pada tahun 1193 H/1779 M di Desa Karada, Sulaymaniyyah, Irak. Karena keturunan Sayyidina Utsman bin Affan, khalifah ketiga, dia berhak menyandang gelar “Utsmani”.

Dia tumbuh dan belajar di sekolah-sekolah dan masjid yang tersebar di kota tersebut. Pada saat itu Sulaymaniyyah merupakan kota pelajar utama. Dia mempelajari Al-Qur’an dan tafsir Imam Rafica.

Ketika umur 15 tahun dia menetapkan asketisisme, doktrin keagamaan yang menyatakan bahwa seseorang bisa mencapai posisi spiritual yang tinggi melalui disiplin diri dan penyangkalan diri yang ketat sebagai falsafah hidupnya, kelaparan sebagai kudanya, tetap terjaga (tidak tidur) sebagai jalannya, khalwat sebagai sahabatnya, dan energi spiritual sebagai cahayanya.

Dia berguru kepada dua cendekiawan besar, Syaikh ‘Abdul Karim Al-Barjanzi dan Syaikh Abdur Rahim Al-Barjanzi, sebelum akhirnya mempelajari matematika, filosofi, dan logika di kota kelahirannya.

Lalu ia kembali ke Baghdad dan mempelajari Mukhtasar al-Muntaha fil-Usul, sebuah ensiklopedia tentang yurisprudensi, dan mempelajari karya-karya Ibnu Hajar, Suyuti, dan Haythami. Dia dapat menghafal tafsir Al-Qur’an dari Baydawi dan mampu menemukan pemecahan atas segala pertanyaan pelik mengenai yurisprudensi. Dia hafal Al-Qur’an dengan 14 cara membaca yang berbeda, dan ini merupakan kelebihannya sehingga membuatnya sangat terkenal.

Pangeran Ihsan Ibrahim Pasha, gubernur Baban, gagal membujuknya untuk mengasuh sekolah di kerajannya. Dia lebih tertarik mempelajari matematika, teknik, astronomi, dan kimia kepada Muhammad Al-Qasim As-Sanandaji di kota Sanandaj.

Setelah menguasai ilmu-ilmu umum, dia kembali ke Sulaymaniyyah dan mengajar ilmu-ilmu modern. Meneliti dan menelaah persamaan-persamaan yang sulit di bidang astronomi dan kimia di sekolah Abdul Karim Al-Barzanji menyusul wabah penyakit yang melanda kota itu pada tahun 1213 H/1798 M.

Kemudian dia berkhalwat, meninggalkan segala yang telah dipelajari, datang ke pintu Allah dengan segala keshalihan dan memperbanyak dzikir. Lalu dia meninggalkan segalanya dan pergi ke Hijaz, menemui para cendekiawan, dan mengikuti Syaikh Muhammad Al-Kuzbara, seorang ahli ilmu-ilmu kuno dan modern dan pengajar hadits yang memberinya otorisasi terhadap Thariqat Qadiriyah.

Dalam perjalanan menuju Makkah, seorang syaikh menasehatinya agar tidak berkeluh kesah atas segala masalah yang mungkin bertentangan dengan syari’at ketika memasuki kota Makkah. Pada hari Jum’at, ketika duduk dekat Ka’bah dan membaca Dala’il al-Khayrat, dia melihat seseorang dengan jenggot hitam bersandar pada sebuah pilar, menatap dirinya. Ia merasa, orang itu tidak layak berlaku demikian, apalagi di depan Ka’bah.

Orang itu melihat Khalid dan menegurnya, “Hei orang bodoh, apakah kamu tidak tahu bahwa kemuliaan hati seorang mukmin jauh lebih berarti daripada keistimewaan Ka’bah? Mengapa kamu diam-diam mengkritik aku. Apakah kamu tidak mendengar nasihat syaikhku di Madinah agar tidak mengkritik sesuatu?”

Syaikh Khalid minta maaf, mencium tangan dan kakinya dan minta bimbingannya. Dia mengatakan, “Wahai anakku, harta dan kunci hatimu bukan disini, melainkan di India. Syaikhmu berada di sana. Pergilah kesana, dia akan menunjukkan apa yang harus kamu lakukan.”

Tapi karena orang itu tidak mengatakan ke mana dia harus pergi ke India, dia memutuskan pulang ke Syam.

*MENYATU DENGAN ILAHI*

          Syaikh Khalid pindah ke India pada tahun 1224 H/1809 M. Dalam perjalanan ke anak benua Asia itu, dia bertemu Isma’il al-Kashi, mengunjungi makam Guru dari Induk Segala Thariqat di Bistam, Syaikh Bayazid Al-Bistami, mengunjungi Sayyid Al-Jalal al-Ma’nas al-imam ‘Ali Rida, dan mengunjungi Syaikh Ahmad An-Namiqi al-Jami.
          Di Herat, Afghanistan, Kandahar, Kabul, dan Peshawar, semua cendekiawan besar yang ditemuinya selalu menguji pengetahuannya tentang hukum Ilahi (syariat) dan kesadaran ilahi (ma’rifat), ilmu-ilmu logika, matematika, dan astronomi. Mereka menyebutnya seperti sungai yang luas, mengalir dengan ilmu, atau seperti samudera tanpa pantai.
          Ketika di Lahore, ia bertemu Syaikh Thana’ullah An-Naqsyabandi dan meminta doa. “Malam itu aku mimpi bahwa Syaikh Thana’ullah An-Naqsyabandi menarikku dengan giginya. Ketika aku terbangun dan ingin mengatakan mimpiku itu kepadanya, dia mengatakan, ‘Jangan ceritakan mimpi itu kepadaku, kami telah mengetahuinya’.
          Lalu aku mulai merasakan daya tarik spiritual dari Syaikh ‘Abdullah Ad-Dahlawi. Aku meninggalkan Lahore, menyeberangi pegunungan dan lembah, hutan dan padang pasir, sampai tiba di Kesultanan Delhi, yang dikenal dengan Jenahabad. Perjalanan itu memakan waktu satu tahun 40 hari. Sebelum aku tiba, dia berkata kepada para pengikutnya, ‘Penerusku akan datang.”
          Sesampai di kota Jehanabad dia memberi penghormatan kepada Syaikhnya dengan puisi yang sangat elok. Semua barang yang dibawanya dan segala yang ada di kantungnya diserahkan kepada fakir miskin. Kemudian dia melakukan bai’at dengan Syaikh ‘Abdullah Ad-Dahlawi. Di sini dia mencapai perkembangan yang pesat dalam berperang melawan egonya. Tidak sampai lima bulan dia telah menjadi salah seorang yang menyatu dengan ilahi dan mempunyai penglihatan ilahi.
          Oleh Syaikh ‘Abdullah, dia diizinkan kembali ke Irak dan memberinya otoritas tertulis dalam 5 thariqat : Thariqat Naqsyabandi, atau Rantai Emas, Thaqiqat Qadiri, Thariqat As-Suhrawardiyyah, Thariqat Kubrawiyya, dan Thariqat Chishti.
          Pada masanya, Baghdad sangat terkenal dengan ilmu pengetahuan, sehingga kota itu dinamakan “Tempat Dua Matahari”.
          Dia sendiri dikenal dengan sebutan “ Orang dengan Dua Sayap” (zhuljanahain), sebuah perumpamaan karena penguasaannya di bidang ilmu lahir dan ilmu batin. Dia mengirimkan kalifahnya ke mana saja, mulai dari Hijaz ke Irak, dari Syam (Syria) ke Turki, dari Iran ke India dan Transoxania, untuk menyebarkan jalan leluhurnya dalam Thariqat Naqsyabandi.
          Ke mana pun dia pergi, orang akan mengundang ke rumahnya. Dan rumah seperti apapun yang dia kunjungi, akan mendapat berkah dan menjadi makmur.
          Suatu hari, ketika mengunjungi Kubah Batu di Yerussalem dengan para pengikutnya, Abdullah Al-Fardi datang menemuinya dengan kerumunan orang. Beberapa orang Kristen memintanya untuk masuk ke Gereja Kumama agar mendapat berkah dengan kehadirannya.
          Lalu dia melanjutkan perjalanan ke Al-Khalil (Hebron), kota Nabi Ibrahim, memasuki Masjid Ibrahim Al-Khalil dan mengambil berkah dari temboknya.
          Dia pergi lagi ke Hijaz untuk mengunjungi Baitullah pada tahun 1241 H/1826 M. Warga kota dengan para cendekiawan dan wali mendatangi dan melakukan bai’at dengannya. Mereka memberi kunci untuk memasuki dua Kota Suci dan mengangkatnya sebagai Syaikh Spiritual untuk kedua kota tersebut.
          Setelah berhaji dan kunjungannya kepada Rasulullah, dia kembali ke Syam. Di sini dia disambut 25 ribut orang di pintu kota, pertanda bahwa Sultan Ottoman, Mahmud Khan, juga sangat menghormati dirinya. Semua cendekiawan, menteri, syaikh, fakir miskin, dan orang-orang kaya datang untuk mendapatkan berkah dan meminta do’a darinya. Para penyair melantunkan syair mereka, sementara itu orang kaya memberi makan yang miskin. Semua orang adalah sama di hadapan beliau. Dia membangkitkan pengetahuan spiritual dan pengetahuan lahiriah dan menyebarkan cahaya kepada semua orang, baik Arab maupun non-Arab, yang datang dan menerima Thariqat Naqsyabandi darinya.
          Dalam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan 1242 H/1827 M, ia memutuskan untuk mengunjungi Quds (Yerusalem) dari Damaskus. Mungkin itu adalah suatu tanda bahwa ia akan meninggalkan dunia ini.
          Pada hari pertama bulan Syawwal, wabah penyakit menyebar dengan cepat di kota Syam (Damaskus). Salah seorang pengikutnya minta Syaikh Khalid mendoakan dia agar diselamatkan dari wabah tersebut, dan menambahkan, “... untukmu juga, Syaikh.”
          “Aku malu kepada Allah, karena niatku memasuki Syam adalah untuk meninggal di tempat ini.”
          Orang pertama yang meninggal karena wabah ini anaknya sendiri, Bahauddin, pada Jum’at malam.
          “Alhamdulillah, ini adalah jalan kita,” katanya. Lalu anak itu dikuburkan di Gunung Qasiyun. Dia baru berusia lima tahun lewat beberapa hari. Anak itu sangat fasih dalam 3 bahasa : Persia, Arab, dan Kurdi. Dia juga pandai membaca Al-Qur’an.
          Beberapa hari kemudian, anak lainnya, Abdurrahman, juga meninggal dunia. Dia lebih tua satu tahun. “Banyak pengikutku yang akan meninggal dunia,” katanya. Lalu dia menunjuk Syaikh Isma’il Ash-Shirwani untuk menggantikannya di Thariqat Naqsyabandi. Saat itu adalah tahun 1242 H/1827 M.
          Dia sendiri akhirnya wafat pada hari Jum’at 13 Dzulqaidah 1242 H/1827 M setelah sebelumnya membaca ayat 27-30 dari surah Al-Fajr, “Wahai jiwa yang tenang dan tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku! Masuklah ke dalam syurga-Ku!”
          Sehari sebelumnya, kamis, dia telah mengisyaratkan banyak hal kepada keluarganya, seperti bahwa dirinya akan wafat besok harinya dengan membawa seluruh wabah yang menerjang Damaskus, nisannya tidak boleh ditulis macam-macam kecuali Ini adalah makam orang asing, Khalid.
          Hari berikutnya, Sabtu, terjadi keajaiban di Syam. Wabah penyakit tiba-tiba menghilang.


Sumber : Alkisah No.05/26 FEB – 11 MAR 2007

Tidak ada komentar: