Selasa, 25 Desember 2012

Pengertian Tasawuf, Esensi Tasawuf, Serta Teladan Sufi Nabi & Para Sahabat


1. Pengantar
Apabila Anda menggali sumur, Anda harus menggalinya jauh ke dalam sampai Anda menemukan sumber mata airnya. Dapatkah sumur itu penuh tanpa mencapai sumber yang dalam itu? Bila Anda bergantung pada hujan atau sumber luar lain untuk mengisi sumur itu, maka air itu hanya akan menguap atau diserap oleh tanah. Lalu, bagaimana Anda dapat membasuh diri Anda atau menghilangkan dahaga Anda? Hanya jika Anda menggali cukup dalam untuk mendapatkan mata air, maka Anda akan sampai pada sumber air yang tak habis-habisnya.
Demikian juga halnya, jika Anda hanya membaca ayat-ayat dari kitab suci, tanpa menggali lebih dalam untuk mencari maknanya, hal itu seperti menggali sebuah sumur tanpa mencapai mata airnya atau seperti mencoba mengisinya dengan air hujan. Kedua cara ini tidak akan memadai. Hanya apabila Anda membuka mata air yang ada di dalamnya dan ilmu Tuhan mengalir dari sana, maka mata air sifat-sifat Tuhan akan mengisi hatimu.
Hanya setelah itu Anda dapat menerima kekayaan-Nya. Hanya setelah itu Anda akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Kearifan dan ilmu Tuhan ini harus timbul dari dalam diri Anda; kisah Tuhan dan doa mesti dipahami dari sisi batin. Maka Anda akan memperoleh semua yang Anda butuhkan untuk diri Anda, dan Anda juga akan merasa cukup untuk berbagi dengan orang lain.
2. Pengertian Tasawuf.
Tasawuf dalam wacana keilmuan barat disebut misticism (mistisisme Islam), kalangan orentalis menyebutnya sufisme. Kata mistisisme berasal dari bahasa Yunani “myein” artinya “menutup mata”. Mistisisme dalam pengertian umum, khususnya dalam artian lektur barat dipahami sesuatu yang bertalian dengan “rahasia-rahasia Tuhan” atau pengetahuan bercampur cinta, yang jauh dari kenyataan irrasional, atau sumber pemikiran yang pancarannya menjernihkan pikiran dan memberikannya pengetahuan tentang tarekat kerohanian.
Sedangkan mistisisme Islam adalah aspek dalam (esotoris) dari agama wahyu atau ortodoks, terikat kepada metode-metode dan tekhnik-tekhnik kerohanian yang bersumber dari wahyu itu, dan bukan kepada mimpi kabur, tingkah laku individualistik dan khayalan atau yang paling celaka dari semuanya sampai kepada bentuk-bentuk pseudo-okultisme yang terpisah jauh dari konteks keagamaan.
Tasawuf juga disebut pengetahuan tentang diri. Tasawuf adalah pencapaian karakter mulia melalui penyucian hati. Tasawuf adalah adab. Seseorang yang tergerak untuk mencapai pengetahuan tentang Allah adalah mustashawwif. Seseorang yang telah tersucikan, disebut seorang sufi., Sufi sempurna yang diketahui oleh manusia, disebut seorang malamatiyyah. Tasawuf adalah pengetahuan yang membawa sang penempuh (salik) mendaki pengetahuan tanpa akhir tentang Allah.
Tujuan utama tasawuf adalah “Ilahi”. “Engkau jua yang menjadi tujuan dan keredaan Engkau yang daku cari”. Tasawuf menjurus sepenuhnya kepada usaha mendekatkan kepada Allah S.W.T. mengabdikan diri kepada-Nya sebaik mungkin dan mengenali-Nya sebagaimana layaknya. Pokok ajaran tasawuf adalah penyucian hati. Hati yang suci bisa dibawa menghadap Allah, bahkan bisa bersatu dengan Allah. 
Memperhatikan pentingnya penyucian hati maka dalam menetapkan esensi ajaran tasawuf terdapat dua pandangan berbeda. Pendapat pertama, memandang bahwa ajaran tasawuf adalah zuhud. Yaitu, cara hidup yang terkonsentrasi penuh dengan ibadah kepada Allah, dan meninggalkan kemewahan dan perhiasan duniawi. Menurut pandangan ini, figur seorang sufi sejati adalah Hasan Basri, Sofyan al-Tsauri dan para sahabat Nabi seperti Abu Dzar al-Ghafiri, Abu Hurairah dan lainnya. Pendapat kedua, menjelaskan bahwa tasawuf sesungguhnya adalah pencapaian penghayatan batin sampai ke fana’ dan ma’rifat kepada Allah, yaitu pencapaian penghayatan tertinggi dengan mengadakan tatap muka kepada Allah melalui trance atau ectasy. 

Beberapa pandangan ahli tentang apa yang dimaksud dengan tasawuf, antara lain:
Pertama:
·         Al-Hujwiri, menyebutkan bahwa tasawuf itu berarti suci, lawan dari kotor. Tasawuf juga berarti hanya melihat kepada Allah semata-mata-mata. Barangsiapa yang memberikan perhatian pada makhluk maka ia akan binasa dan siapa saja yang memgembalikan sesuatu kepada yang memiliki (Allah) maka ia akan mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
·         Imam Junayd (w. 297/909) berkata, Tasawuf adalah satu sifat yang di dalamnya terletak kehidupan manusia artinya hakikat tasawuf adalah bahwa sifat Tuhan dan sifat manusia lenyap pada hakikat Tuhan.
·         Abu al-Hasan Nuri mengatakan, Tasawuf adalah penyangkalan terhadap semua kesenangan diri sendiri. Artinya, yang dimaksud dengan tasawuf adalah sifat yang meninggalkan segala kesenangan diri.
·         Muhammad bin Ali bin Husen bin Ali bin Abi Thalib menyebut, Tasawuf adalah kebaikan budi pekerti yang lebih baik; orang yang mempunyai budi pekerti lebih baik adalah sufi lebih baik.[5]
Kedua :
Imam Qusairy al-Naisyaburi mengutip beberapa difinisi yang diberikan oleh para sufi sesuai dengan pengalaman rohani yang dimilikinya, antara lain ;
·         Muhammad Al-Jariri (w.311H) berkata, bahwa tasawuf ialah: mengerjakan akhlak yang baik dan meningalkan akhlak yang buruk.
·         Zun Nun al-Misry (w.279H) menyebutkan ; Tasawuf adalah engkau tidak memiliki sesuatu dan dimiliki oleh sesuatu.
·         Ruwaim berkata ; Tasawuf ialah membiarkan diri bersama Allãh menurut apa yang dikehendaki oleh Allãh.
·         Al-Kattani (w.222H) mengatakan :Tasawuf ialah akhlak, barang siapa yang bertambah akhlaknya bertambah pula tasawufnya.
Ketiga:
Tasawuf pada dasarnya adalah berusaha mencintai Allah, Abu al-Hawary berkata ; bahwa tanda orang yang cinta pada Allah adalah cinta pada taat dan dzikir kepada Allah. Bukti cinta kepada Allah itu adalah berupaya secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Allah. Ia melanjutkan bahwa orang yang tahu tentang dunia maka ia akan zuhud terhadapnya, siapa yang mengenal akhirat maka ia akan mengingininya dan barangsiapa yang kenal akan Allah maka ia akan berusaha mendapatkan ridha-Nya.

3. ESENSI TASAWUF
Islam sebagai agama yang diturunkan pada masyarakat madani (kota), yaitu Mekah dan Medinah dengan mudah dan cepat telah diserap masyarakat secara logis dan rasional. Pemahaman, penghayatan dan pengamalan Islam yang benar dan lurus diperagakan Nabi dengan baik, sehingga dalam waktu singkat nabi berhasil membentuk masyarakat Islam yang kokoh. Mereka hidup tunduk dan patuh melaksanakan kewajiban keagamaan, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Kehidupan yang sederhana dan zuhud dikembangkan sedemikian rupa, sehingga memunculkan istilah Ihsan.
Ihsan ialah menurut suatu hadits yang artinya : “Sembahlah Allãh seakan-akan engkau sungguh melihatnya dan bila tidak melihatnya (memang engkau tidak bisa melihatnya) maka sadarilah bawa Dia sungguh melihatmu (Hadis Riwayat Bukhari- Muslim).
Ihsan dimaknai sebagai suatu kondisi atau keadaan seseorang dalam beribadah dan dalam hidup kesehariannya seolah-olahnya melihat Tuhan atau paling tidak merasakan bahwa Tuhan selalu melihat apapun yang sedang dilakukan seorang.
Ihsan adalah penyembahan kepada Tuhannya dengan penuh kesadaran, merasakan bahwa Tuhan melihatnya, Tuhan mengawasinya, Tuhan pun tahu setiap sudut kehidupan, hamba selalu berdiri hadir dihadapan-Nya. Ihsan berarti, bahwa penglihatan Tuhan terhadap hambanya, secara terus menerus tanpa dibatas ruang dan waktu.
·         Abu Nasr al-Sarajj menjelaskan; bahwa Islam itu adalah zahir, Iman itu zahir dan batin sedangkan Ihsan itu adalah hakikat zahir dan batin.
Usaha para zahid mengembalikan kehidupan sosial masyarakat pada kesederhanaan (qanâ’ah), dan berusaha mengidentifikasikan diri dengan Allãh melalui perbuatan terpuji (takhallûqu bi akhlâqil Allãh) dengan menjaga kesucian diri serta melakukan ibadah-ibadah yang membersihkan hati, menjauhkan diri dari pengaruh buruk. Inilah yang kemudian menjadi karakteristik tasawuf, yang meliputi ; the code of the heart (fiqh al-bâtin), or the purification of the soul ( tazkîyatu al-nafs) or feeling of God’s presence (al-Ihsân).
·         Muhammad Syibly berucap tentang zuhud, zuhud itu sebenarnya adalah gaflah (lalai) di dunia ini tidak ada sesuatu apapun jua yang dia punyai. Zuhud pada yang tak bernilai adalah lalai. Dari bermacam-macam difinisi dan penjelasan tentang zuhud dapat ditarik suatu pengertian bahwa zuhud itu bukanlah orang yang anti dunia, tetapi orang yang tidak mau dijajah oleh dirinya dan dunia material.
Pemahaman tentang zuhud sebagaimana di atas didasarkannya pada ayat-ayat al-Qur’an antara lain :Surat al-Syams :(91:7-8), Surat Al-Jâtshiyah (45: 24),Surat Yusuf (12:53) Surat Al-Ankabut (29 :69 )
Sebagai ilmu tasawuf, merupakan media yang dapat mengantar manusia mengenal penciptanya secara cepat, tepat dan dapat berhubungan dengan terus menerus. Untuk mencapai tujuan tersebut maka mereka mengunakan instrument rasa (dzouq). Disamping itu, juga ada pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf adalah ilmu yang berkaitan erat dengan taqwa, memelihara diri dari kesalahan, memakai pakaian wool kasar. Pendapat yang ekstrim lagi adalah menempatkan tasawuf sebagai sumber kesesatan dan zindik. 
Pengembaraan sipritual seseorang mencari Tuhan (salik) tidak mungkin dilaksanakan, kecuali setelah melewati proses penyucian hati. Untuk mendapatkan kebersihan hati maka langkah utama adalah menjalani proses :
·         Pertama, Takhalli, yaitu penyuciaan hati dari sifat-sifat tercela, baik tercela dalam pengertian akhlak zahir demikian juga halnya pembersihan hati dari akhlak batin, misalnya taubat, zuhud, dan wara’.
·         Kedua, Tahalli, yang memenuhi hati dengan sifat terpuji seperti shabar, tawakul, faqir, taqwa, dan ridha.
·         Ketiga, Tajjali, yaitu adanya bukti konkrit hubungan manusia dengan Tuhan bisa dalam bentuk ma’rifah, mahabbah, uns, wajd dan lainnya. Menurut Al-Kalabazi ada sepuluh maqam, yaitu taubat, zuhud, sabar, faqir, tawadhu’, taqwa, tawakkul, ridha, mahabbah dan makrifah. Al-Thusi mengajukan tujuh maqam, yaitu taubat, sabar, faqir, zuhud, tawakkul, cinta, ma’rifah, ridha. Al-Ghazali menyebut delapan maqam, yaitu taubat, shabar, faqir, zuhud, tawakul, mahabbah, ma’rifah dan ridha.

Pada diri manusia terdapat dua hal yang sangat pokok, yaitu jasmani dan rohani, keduanya memiliki kebutuhan masing-masing. Jasmani memerlukan makan, minum, berpakaian, pelampiasan syahwat, tempat tinggal dan lain-lain. Sedangkan unsur rohani yang ada pada diri manusia memerlukan ketenangan hati, kedamaian, kesejahteraan akan tetapi kebahagian yang hakiki menurut para kalangan sufi kesucian hati dengan melalui kedekatannya kepada tuhan.
Para sufi menegaskan hal yang terpenting yang menjadi ujung tombak dari segala kehidupan terletak pada rohaninya. Karena kebahagiaan jasmani  tergantung pada kebahagiaan rohaninya. Rohani manusia dapat terpenuhi jika selalu dapat mendekatkan diri kepada tuhan dengan sedekat-dekat mungkin sehingga dapat memperoleh hubungan khusus, seakan-seakan diri manusia selalu berada di kehadhiratnya. Dan tasawwuf tidak lain mempunyai tujuan.
·         pola hidup sederhana dengan cara zuhud
·         memperoleh kedekatan dengan tuhan dengan cara melakukan semua amalan-amalan, para sufi mengemukakan ibadah Wajib  saja tidak cukup untuk menambah kedekatan terhadap tuhan harus ditambah dengan amalan-amalan sunnah.
·         mensucikan hati dari hal keburukan.
·         menjauhi larangan Allah dan melaksanakan perintahnya serta menjauhi perilaku yang hina yang tidak sesuai dengan Tatanan sosial.

4. Teladan Sufi Nabi dan Sahabat Nabi

·         Rosulullah (Muhammad saw) Teladan yang Baik

Sesungguhnya pada diri Rasulullah (Muhammad) terdapat teladan yang baik.
(QS Al-Ahzâb [33]: 21)

Setidaknya, ada tiga pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sosok Muhammad, sang rasul penyebar agama Islam. Pertama, ketekunannya dalam melakukan ibadah. Kedua, kepeduliannya terhadap persoalan sosial. Ketiga, kehidupannya yang tidak diperbudak oleh nafsu duniawi.

Muhammad melakukan ritual ibadah, antara lain dengan shalat, zikir, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Dalam momen ibadah ritual, kita berusaha “berinteraksi” dengan Allah, Tuhan yang mengenggam alam semesta dan mengendalikan kehidupan. Dengan beribadah, kita memasuki keheningan dan terus-menerus memperbarui ikrar untuk meneguhkan ikatan batin kita dengan kehidupan.
Dalam momen ibadah ritual, seseorang juga berusaha mengasah ruang “batin” dan “ruhani”-nya terus-menerus agar bisa menapaki kehidupan secara lebih baik, indah, bijak, dan bermakna. Dengan beribadah pulalah, kita berusaha menyelami kesejatian untuk melampaui fenomena duniawi yang fana dan sementara. Kita saat ini menapaki “alam dunia”. Alam yang pernah kita lalui adalah “alam ruh” dan “alam rahim”, sementara dua lainnya yang akan kita jelang adalah “alam barzakh” dan “alam akhirat”.
Kembali pada persoalan ibadah ritual; karena setiap manusia dalam kesehariannya—sadar atau tidak—sering kali terpancing (lagi) untuk melakukan hal-hal yang buruk, jahat, dan tidak terpuji, maka ruang batin dan ruhaninya sebaiknya terus diasah dalam suasana yang tenang, khusyuk, dan hening. Nafsu-nafsu destruktif yang potensinya ada pada diri setiap manusialah yang harus terus-menerus dikendalikan, antara lain, dengan laku-laku ritual semisal shalat, zikir, puasa, dan haji.
Kalau kita cermati secara kritis, momen ritual pun sebenarnya menyimpan makna moral dan sosial yang cukup kental. Dalam Islam, ritual bukanlah hal yang steril dari persoalan sosial. Ritual, dengan demikian, bukan merupakan tindakan untuk menghindar  (eskapisme) dari persoalan sosial yang nyata dan mengelilingi kehidupan manusia setiap hari.
Sufi yang Peduli Sosial
Tak diragukan lagi, bercermin dari sejarah kehidupannya, Muhammad adalah sosok manusia yang terlibat aktif dalam persoalan sosial serta melakukan upaya transformasi sosial yang nyata. Kepedulian sosial Muhammad, antara lain tampak dari sepak terjangnya dalam membantu dan membela kaum miskin, sengsara, dan tertindas di satu sisi, serta melawan komunitas (baca: rezim politik dan ekonomi) yang otoriter dan zalim di sisi yang lain. Komunitas yang otoriter dan zalim ini misalnya adalah orang-orang Quraisy yang kaya dan berkuasa.
Muhammad juga sering mendamaikan beberapa komunitas (suku-suku Arab) yang bertikai satu sama lain. Visi sosial Muhammad sangat tampak dalam upaya menegakkan keadilan (sosial), kesetaraan, dan perdamaian.
Selain tekun melakukan ibadah dan punya kepedulian sosial, Muhammad juga seorang pribadi yang tidak pernah diperbudak oleh nafsu duniawi, semisal harta, kekuasaan, dan jabatan. Muhammad adalah sosok yang bersahaja. Meskipun mempunyai seorang istri yang kaya-raya bernama Siti Khâdijah serta cukup sukses sebagai seorang pedagang, Muhammad tidak pernah silau oleh materi.
Sosok zuhud dan sufi adalah orang yang mampu mengatasi dan mengendalikan “keinginan”-nya akan harta, kekuasaan, dan jabatan di satu sisi, serta tekun melakukan ibadah di sisi yang lain. Ibadah ini sangat penting bagi setiap umat Islam, sebagai upaya untuk menziarahi ruang batin dan ruhani serta mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah.
Kesufian yang diteladankan Muhammad bukanlah sufi yang “eskapis” (lari dari kenyataan), yakni sibuk melakukan ritual tetapi tidak peduli sosial, melainkan sufi yang taat beribadah sekaligus sangat peduli dan peka terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Sama seperti nabi-nabi lainnya yang pernah muncul dalam sejarah, Muhammad adalah sosok revolusioner yang mencoba mengubah tatanan sosial yang timpang, tidak adil, dan menindas.
Melalui syariat dan ajaran agama yang disebarkannyalah Muhammad dan nabi-nabi lainnya mampu mewujudkan tatanan sosial yang adil, setara, demokratis, manusiawi, dan beradab. Untuk itu, tampaknya tak terelakkan, dalam perjalanan hidupnya para nabi sering kali melawan para penguasa yang zalim, otoriter, dan menindas. Nabi Ibrahim melawan raja Namrud, Nabi Musa melawan raja Firaun, Nabi Isa melawan para penguasa Romawi, serta Nabi Muhammad melawan para penguasa Quraisy dan suku-suku Arab lainnya yang arogan dan zalim.
·         Teladan Empat Nabi Legendaris

Ibrahim, Musa, Isa, dan (terutama) Muhammad (sang empat nabi legendaris) adalah para sufi besar yang mampu mengekspresikan tiga hal dalam diri mereka, sebagaimana saya sebut dalam awal tulisan ini; yaitu, tekun beribadah, peduli sosial, serta tidak diperbudak oleh nafsu duniawi. Nafsu duniawi yang dimaksudkan di sini adalah keinginan (yang berlebihan) akan harta, kekuasaan, dan jabatan duniawi.
Kalaupun pernah mempunyai harta dan materi dalam jumlah yang cukup besar, maka Muhammad adalah contoh seorang pribadi yang kaya dan selalu berusaha mendermakan kekayaannya untuk kepentingan orang banyak yang membutuhkan. Selain itu, kekayaan Muhammad juga untuk mendanai jihad dan perjuangan menuju sistem sosial yang adil, demokratis, dan manusiawi.
Seorang sufi yang kaya—sebagaimana pernah diteladankan Muhammad—seyogyanya bertekad memanfaatkan kekayaannya untuk sebanyak mungkin manusia. Harta benda sang sufi berguna dan berkah bagi masyarakat luas. Untuk itu, citra sufi sebenarnya tidak identik dengan kemiskinan, keprihatinan, dan hidup pas-pasan. Seseorang tentu saja sangat sah menjadi kaya, asalkan memeroleh kekayaan dengan cara yang baik, sehat, dan halal. Kekayaannya pun menjadi berkah dan berfaedah untuk sebanyak mungkin manusia.
Hanya orang yang mampu secara ekonomilah yang bisa menunaikan rukun iman kelima, yakni ibadah haji. Hanya orang yang (cukup) kayalah yang bisa membantu rakyat miskin dan kaum papa yang terpuruk. Hanya orang kayalah yang mampu mendermakan harta bendanya guna mendanai “perjuangan” di jalan Allah yang baik dan mulia.
Bercermin dari sosok Muhammad, kita seharusnya tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga mampu “melampaui” nafsu dan kesenangan duniawi yang acapkali menjebak dan menjerumuskan. Selain itu, jauh lebih penting lagi kita sebaiknya punya kepedulian sosial yang tinggi terhadap persoalan kehidupan dan umat manusia di sekitar kita, baik pada level lokal, nasional, dan syukur bisa menyentuh level internasional.
Kepedulian sosial dalam konteks Indonesia sekarang yang relevan, antara lain memperjuangkan keadilan, demokrasi, dan kemaslahatan di satu sisi, serta melawan korupsi, kekerasan, penindasan, dan kezaliman pada sisi yang lain.
Dengan meneladani sosok Muhammad, marilah kita teguhkan diri kita untuk berhijrah, yakni berpindah dan berubah, misalnya dari kondisi yang pasif  menuju tindakan aktif untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, adil, indah, dan maslahah.
·         Sifat Teladan Sufi Sayidina Abubakar RA.
Diriwayatkan dari Rasulullah saw. Bahwa beliau pernah bersabda. “Umatku yang paling belas-kasih kepada sesama umat adalah Abu Bakr r.a., yang paling kokoh dan kuat memegang agama Allah adalah Umar r.a., yang paling pemalu adalah Utsman r.a., yang paling tahu tentang ilmu faraidh (hukum waris) adalah Zaid bin Tsabit r.a., yang paling faham tentang hukum halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal r.a., yang paling adil dalam memberikan keputusan hukum adalahAli r.a., Sedangkan sahabatku Abu Dzar r.a. adalah orang yang dialek bicaranya memiliki ketajaman dan kebenaran.” (H.r. Ahmad, Tirmidzi dari Anas, ath-Thabrani dari Jabir, dari Ibnu adi dari Ibnu Umar).

Adapun yang menyangkut masalah batin, maka kami akan memulainya dengan apa yang disabdakan Rasulullah saw.: Ikutilah dua orang setelahku yaitu: Abu Bakr dan Umar r.a.”
(H.r. Tirmidzi dari Hudzaifah, Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Abd dari Anas)

Sementara kami memulainya dengan Abu Bakr r.a lebih dahulu kemudian baru Umar r.a.

Sebagaimana berita yang saya terima dari Abu Utbah al-Halwa-ni—-rahimahullah—yang pernah berkata, “Bolehkah aku memberitahu kalian tentang kondisi spiritual para sahabat Rasulullah?

·         Pertama, bertemu dengan Allah lebih mereka senangi daripada hidup di dunia.
·         Kedua, mereka tidak pernah takut musuh, baik mereka dalam jumlah sedikit maupun banyak.
·         Ketiga, mereka tidak pernah takut miskin dan selalu yakin, bahwa Allah selalu memberinya rezeki.
·         Keempat, jika dilanda wabah penyakit, mereka tidak pernah lari dari tempat tinggal sampai Allah memutuskan nasibnya.

Mereka sangat khawatir dengan kematian dalam makna yang sebenarnya.”Dikisahkan dari Muhammad bin Ali al-Kattani -rahimahullah- yang berkata, “Orang-orang dalam kurun waktu pertama Islam selalu bermuamalah denga agama sehingga agama itu menipis.
Kemudian pada kurun kedua mereka bermuamalah dengan wafa’ (kesetian dan tepat janji), sehingga kesetiaan itu pun sirna. Kemudian pada kurun ketiga mereka bermuamalah dengan muru’ah (kesatria) sehingga kesatria itu pun lenyap.
Pada kurun keempat bermuamalah dengan rasa malu, sampai akhirnya rasa malu itu pun hilang. Pada akhirnya manusia bermuamalah dengan landasan rasa suka dankekhawatiran.”

Keistemewaan Abu Bakr As-Shiddiq RA 

Diriwayatkan dari Mutharraf bin Abdullah asy-Syukhair -rahimahullah- yang berkata: Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. berkata “Andaikan ada seseorang memanggil dari langit bahwa tidak ada yang masuk surga kecuali satu orang, maka aku berharap satu orang itu adalah aku. Dan andaikan ada seseorang memanggil dari langit bahwa tidak ada yang masuk neraka kecuali satu orang, maka aku sangat takut orang tersebut adalah aku.”

Mutharraf -rahimahullah- berkata, “Demi Allah ini adalah ungkapan rasa takut yang sangat besar dan harapan yang sangat tinggi.”

Diriwayatkan dari Abu al-Abbas bin Atha’ -rahimahullah- bahwa, ia pernah pernah ditanya tentang firman Allah:

Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu mempelajarinya.” (Q.s. Ali Imran: 79)

Maka ia menjawab, “Artinya, jadilah kalian seperti Abu Bakr ash-Shiddiq. Karena saat Rasulullah wafat hati kaum muslimin goncang akibat wafatnya Rasul. Namun kepergian Rasulullah sama sekali tidak mempengaruhi lubuk hati Abu Bakr. Ia keluar dan berkata kepada umat Islam. ‘Wahai umat manusia, barang siapa menyembah Muhammad maka sesunggunhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah adalah Dzat yang senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati. Orang yang memiliki sifat rabbani ini, kejadian apapun sama sekali tidak mempengaruhi lubuk hatinya, meskipun orang-orang takut tergoncang.”

Abu Bakr al-Wasithi -rahimahullah- berkata, “Lisan (bahasa) kaum sufi yang pertama kali muncul dikalangan umat memalui lisan Abu Bakr adalah bahasa isyarat, yang kemudian oleh orang-orang yang memilikik kemampua pemahaman yang tajam diambil makna-makna lembut yang sering kali orang-orang yang berakal terkecoh dalam memahaminya.”

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah- berkata: Apa yang dikatakan oleh al-Wasithi, bahwa lisan kaum sufi yang muncul pertama kali melalui lisan Abu Bakr ialah saat ia mengeluarkan seluruh harta miliknya yang diinfakkan demi agama Allah. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakr menjawab, “Allah dan Rasul-Nya”. (H.r. Tirmidzi dari Umar).

Ia menjawab pertama kali dengan Allah, kemudia Rasul-Nya. Hal ini merupakan suatu isyarat yang sangat agung bagi para ahli tauhid dalam hakikat-hakikat panauhidan kepada Allah. Namun bukan berarti ini saja isyarat yang keluar dari lisan Abu Bakr. Masih sangat banyak isyarat-isyarat lain yang darinya bisa diambil kesimpulan-kesimpulan yang sangat lembut.

Isyarat-isyarat tersebut dapat diketahui dan dipahami oleh para ahli hakikat untuk mereka jadikan referensi dan cermin dalam berakhlak. Di antaranya ialah pidato Abu Bakr ketika ia naik diatas mimbar setelah rasulullah wafat, dimana hati para sahabat saat itu goncang dan khawatir kalau Islam akan hilang karena wafat dan hilangnya Rasulullah dari lingkungan mereka. Kemudian Abu Bakr berkata, “Barangsiapa menyembah Muhammad maka ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat, dan barangsiapa menyembah Allah swt. Maka sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha hidup dan tidak akan pernah mati.” (H.r Ahmad, Abdurrazzaq dari Aisyah dan Ibanu Abbas, dan Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Umar).
Makna yang sangat halus dalam ungkapan tersebut ialah keteguhan dalam bertauhid dan berusaha memperkokoh hati para sahabat dalam bertauhid.

Diantara ungkapan yang lain ialah saat Perang Badar, ketika Rasulullah berdo’a:
Ya Allah, jika sekelompok manusia (dari umat Islam) ini Engkau hancurkan, maka setelah itu Engakau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.”

Kemudian Abu Bakr berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah tinggalkanlah permohonanmu kepada Tuhan, sebab -demi Allah- Dia pasti mengabulkan apa yang dijanjikan kepada-Mu.”(H.r. Muslim dan Tarmidzi dari Ibnu Abbas dan Umar).

Dimana janji itu adalah firman Allah swt., “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyuka kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman’. Kelak akan Aku jadikan rasa ketakutan kedalam hati orang-orang kafir.” (Q.s. al-Anfal: 12)

Di sini tampak satu keistimewaan Abu Bakr, dimana ia telah memiliki hakikat tashdiq ( pembenaran ) terhadap kemenangan yang dijanjikan Allah kepada umat Islam . Dimana hati para sahabat yang lain goncang . Ini menunjukkan hakikat keimanan dan keistimewaan Abu Bakr.

Jika ada orang yang bertanya “ Apa makna perubahan Rasulullah dan keteguhan hati Abu Bakr , sementara Rasulullah jauh lebih sempurna daripada Abu Bakr dalam segala kondisi spiritual?”

Maka jawabannya adalah karena Rasulullah lebih tahu tentang Allah daripada Abu Bakr . Sementara itu, Abu Bakr lebih kuat imannya daripada para sahabat Rasulullah yang lain . Keteguhan Abu Bakr mencerminkan hakikat keimanannya terhadap kebenaran janji Allah . Sedangkan perubahan pada diri Nabi adalah karena beliau lebih tahu tentang Allah. Sehingga beliau tahu dari Allah apa yang tidak diketahui Abu Bakr dan juga sahabat yang lain. Apakah Anda tidak tahu , bahwa ketika angin bertiup kencang maka warna kulit beliau berubah, sementara tidak seorang pun dari sahabatnya yang warna kulitnya berubah ?

Rasulullah juga bersabda ,” Andaikan kalian tahu apa yang aku ketahui tentu kalian kurang bisa tertawa, banyak menangis, keluar menuju ke berbagai jalan { untuk mencari perlindungan kepada Allah }, dan tidak akan tenang di atas tempat tidur .” ( H.r. Bukhari, al-Hakim dan ath-Thabrani, lihat kembali hlm. 247).


Abu Bakr juga memiliki kekhususan di antara para sahabat dalam hal firasat dan ilham . Itu bisa diketahui dalam tiga kasus :
·         Pertama, ketika pendapat para sahabat Rasulullah telah mencapai titik sepakat untuk tidak memerangi orang-orang murtad yang tidak mau membayar zakat setelah wafat Rasulullah saw. Namun Abu Bakr tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk memerangi mereka . Kemudian ia berkata,”Demi allah , andaikan mereka tidak mau membayarku zakat unta dan kambing yang pernah mereka bayarkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka dengan pedang.” Sementara pendapat Abu Bakr inilah yang benar. Kemudian para sahabat berkata.”

Sesungguhnya yang benar adalah pendapatnya sekalipun ia berbeda pendapat dengan sahabat-sahabat yang lain tentang apa yang mereka kemukakan.” Akhirnya sahabat-sahabat yang lain merujuk kepada pendapat Abu Bakr, dimana mereka melihat bahwa pendapat dialah yang benar.

·         Kedua, Saat ia berbeda pendapat dengan sebagaian besar sahabat mengenai penarikan mundur pasukan Usamah. Dan ia berkata,” Demi Allah, saya tidak akan mengingkari janji yang pernah disepakati oleh Rasulullah.”

·         Ketiga, ialah ucapan Abu Bakr kepada Aisyah. “Sesungguhnya aku akan memberimu dua saudara laki-laki dn dua perempuan.” Aisyah saat itu hanya tahu bahwa ia hanya memiliki dua saudara laki-laki dan seorang perempuan.

Pada saat itu Abu Bakr memiliki seorang budak perempuan yang sedang hamil. Maka ia berkata,” Hati nuraniku mengatakan bahwa janin yang ada dalam rahimnya adalah perempuan.”

Ini menunjukkan firasat dan ilham yang sangat tajam dan sempurna.

Nabi saw bersabda:
Hati-hatilah terhadap firasat orang mukmin karena ia melihat dengan Nur Allah.”
(H.r. ath-Thabrani dari Abu Umamah, Tirmidzi dari Abi Said, Abu Nu’aim dan al-Bazzar dari Anas).

Sementara itu pada diri Abu Bakr masih terdapat makna-makna lain yang banyak dijadikan referensi para ahli hakikat dan mereka yang mampu mengendalikan hati nurani. Dan jika disebutkan semua maka kitab ini akan menjadi sangat tebal.
Di ceritakan dari Bakr bin Abdullah al-Muzani yang mengatakan,”Abu Bakr tidak melibihi semua sahabat Rasul yang lain dalam hal banyak berpuasa dan shalat, namun ia memiliki kelebihan yang ada di dalam hatinya.”

Sebagian kaum sufi mengatakan, bahwa apa yang terjadi didalam hati Abu Bakr adalah cintanya kepada Allah Azza wa Jalla dan nasihat karena-Nya.

Disebutkan, Tatkala tiba waku shalat, Abu Bakr berkata, “Wahai anak Adam bangunlah ke neraka yang kalian nyalakan, kemudian padamkanlah.”

Diriwayatkan, bahwa suatu saat ia pernah makan makanan yang ada syubhatnya. Ketika ia tahu bahwa itu ada syubhatnya, maka ia muntahkan sembari berkata, “Demi Allah andaikan makanan itu tidak bisa keluar kecuali dengan mengorbankan jiwa (ruh)ku maka akan aku keluarkan juga, Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda, “Tubuh yang diberi makan dari barang haram maka neraka lebih pantas untuknya.” (H.r. Tirmidzi danIbnu Hibban dari Ka’ab bin ‘Ajarah).

Abu Bakr pernah berkata, “Aku ingin menjadi tumbuhan hijau yang dimakan oleh binatang, dan tidak pernah diciptakan, karena aku takut siksa Allah dan ketakutan di hari Kiamat.”

Diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq yang mengatakan: Ada tiga ayat dalam kitab Allah yang menyibukkanku dari yang lain:

Pertama: “Jika Allah menimpakan suatu bahaya kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghalanginya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan untukmu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.” (Q.s. Yunus: 107)

Maka aku tahu bahwa, apabila Allah menghendaki kebaikan untukku, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghilangkannya dariku selain Dia sendiri. Dan jika Dia menghendaki kejelekan untukku, maka tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkannya selain Dia sendiri.

Kedua: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.”
  (Q.s. al-Baqarah: 152)

Maka demi Allah, sejak aku membaca ayat ini tidak lagi pernah memikirkan masalah rezekiku.”

Disebutkan pula, bahwa bait syair berikut adalah dari Abu Bakr ash-Shiddiq:

Wahai orang yang membanggakan dunia dan perhiasannya,
Bukankah kebanggaan itu mengangkat tanah dengan tanah
Jika Anda ingin melihat manusia yang paling mulia
Maka lihatlah seorang raja yang mengenakan pakaian orang miskin
Itulah yang besar kasih sayangnya dimata manusia
Itulah yang berguna bagi dunia dan agama.

Dikisahkan dari al-Junaid yang mengatakan, “Kalimat tentang tauhid yang paling mulia adalah apa yang dikatakan Abu Bakr, ‘Mahasuci Dzat Yang tidak membuka jalan untuk ma’rifat-Nya kecuali dengan menjadikan seseorang tidak sanggup mengetahui-Nya’

5.  HUBUNGAN ANTARA TASAWUF DENGAN AKHLAK

Para ahli tasawwuf membagi tasawwuf ke dalam tiga   bagian yaitu tasawwuf  falsafi, tasawwuf amali dan tasawwuf akhlaki  ketiga macam ini mempunyai tujuan yang sama yaitu memdekatkan diri kepada tuhan dengan membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasinya dengan perbuatan yang terpuji.
Tentunya dalam praktek pendekatannya pun sangat berbeda, pendekatan kepada tuhan yang digunakan oleh tasawwuf falsafi ialah dengan menggunakan rasio dan akal karena bahan yang menjadi rujukan dari ajaran ini pemikiran para filosof islam diantara ajaran tasawwuf falsafi yang terkenal ialah seperti wihdatul wujud,Hulul, Al-ittihad dan fana’ baqa’. Yang kedua tasawwuf akhlaki metode pendekata kepada tuhan yang digunkan oleh penganut ajaran ini pendekatan akhlak yang melalui tahapan.
·         takhalli ialah membersihkan hati dengan mengosongkan hati dari sifat yang menduaniawi seperti anak, istri, jabatan, harta, benda Dll. Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.

·         sebagai tahapan yang ke dua ialah Tahalli ialah mengisi hati yang dikosongkan tadi dengan sifat-siafat yang terpuji dengan cara mengasibukkan hatinya kapanpun dan dimanapun dengan berdzikir kepada allah karena mendekatkan diri dengan cara bedzikir menurut para sufi dapat membawa ketentraman pada hati, ibadah yang diwajibkan saja tidak cukup, untuk lebih memuaskan pendekatan diri kepada tuhan diperlukan amalan-amalan khusus dengan cara berdzikir.

·         Tajalli, yang merupakan kelanjutan proses dari takhalli dan tahalli yang intinya terbukanya pintu hijab yang membatasi manusia dengan tuhan, para kalangan sufi menyebut dengan ungkapan ma’rifah.

Tasawwuf yang ketiga yaitu  tasawwuf amali , tasawwuf  amali  cara pendekatannya dengan cara melakukan suluk, pengetian dari pada suluk sendiri ialah  amalan dan wirid atau perbuatan yg harus dikerjakan oleh salik berdasarkan perintah syekh; zawiyah yaitu majlis tempat para salik mengamalkan suluk.
Disamping itu ada satu syarat yg harus dipenuhi oleh kandidat salik yaitu baiat antara dia dan syekh. Baiat itu sendiri ada dua macam yaitu ;    Baiat suwariyah yaitu baiat bagi seorang kandidat salik yg hanya sekedar ia mengakui bahwa syekh yg membaiatnya ialah gurunya tempat ia berkonsultasi dan syekh itupun mengakui orang tersebut adalah muridnya. Ia tidak perlu meninggalkan keluarganya untuk menetap tinggal dalam zawiyah tarikat itu utk terus menerus bersuluk atau berdzikir.
Ia boleh tinggal dirumahnya dan bekerja sehari-hari sesuai dgn tugasnya. Ia sekadar mengamalkan wirid yg diberikan oleh gurunya itu pada malam-malam tertentu dan bertawassul kepada gurunya itu. Ia dan keluarganya bersilaturrahmi kepada gurunya itu sewaktu-waktu pula. Apabila ia memperoleh kesulitan dalam hidup ini ia berkonsultasi dgn gurunya itu pula.
Baiat ma`nawiyah yaitu baiat bagi seorang kandidat salik yg bersedia utk dididik dan dilatih menjadi sufi yg arif bi I-lah. Salik yg masuk tarikat melalui baiat yg demikian harus meninggalkan anak-istri dan tugas keduniaan. Ia berkhalwat dalam zawiyah tarikat didalam penegelolaan syekhnya. Khalwat ini bisa berlangsung selama beberapa tahun bahkan belasan tahun.  Tasawwuf  akhlaki maupun tasawwuf amali disebut dalam kategori ajaran sunni yaitu pemaduan antara syari’at dan hakekat.
Dalam hal ini antara tasawwuf dan akhlak  ternyata mempunyai hubungan yang sangat erat, tasawwuf sebagaimana yang dinyatakan Harun Nasution ialah salah satu ajran yang lebih menonjolkan dalam aspek ibadah seperti dzikir,shalat, puasa haji Dll. sedangkan akhlak lebih menonjolkan dalam aspek sosial seperti jujur, sopan santun, bijaksana, disiplin, sabar, pemurah,baik hati, hemat, tepat janji.
Lebih lanjut Harun Nasution Menyatakan Ibadah di dalam Al-Qur’an  Dikaitkan dengan taqwa yaitu taat kepada perintah allah dan menjauhi segala larangan-Nya, bertaqwa kepada allah merupakan brakhlak mulia. Maka dari itu bertasawwuf sebagian dari berakhlak.

Tidak ada komentar: