Tampilkan postingan dengan label Nabi Muhammad SAW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi Muhammad SAW. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Rosulullah (Muhammad) SAW Teladan Yang Baik


Sesungguhnya pada diri Rasulullah (Muhammad) terdapat teladan yang baik.
(QS Al-Ahzâb [33]: 21)

Setidaknya, ada tiga pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sosok Muhammad, sang rasul penyebar agama Islam. Pertama, ketekunannya dalam melakukan ibadah. Kedua, kepeduliannya terhadap persoalan sosial. Ketiga, kehidupannya yang tidak diperbudak oleh nafsu duniawi.

Muhammad melakukan ritual ibadah, antara lain dengan shalat, zikir, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Dalam momen ibadah ritual, kita berusaha “berinteraksi” dengan Allah, Tuhan yang mengenggam alam semesta dan mengendalikan kehidupan. Dengan beribadah, kita memasuki keheningan dan terus-menerus memperbarui ikrar untuk meneguhkan ikatan batin kita dengan kehidupan.

Dalam momen ibadah ritual, seseorang juga berusaha mengasah ruang “batin” dan “ruhani”-nya terus-menerus agar bisa menapaki kehidupan secara lebih baik, indah, bijak, dan bermakna. Dengan beribadah pulalah, kita berusaha menyelami kesejatian untuk melampaui fenomena duniawi yang fana dan sementara. Kita saat ini menapaki “alam dunia”. Alam yang pernah kita lalui adalah “alam ruh” dan “alam rahim”, sementara dua lainnya yang akan kita jelang adalah “alam barzakh” dan “alam akhirat”.

Kembali pada persoalan ibadah ritual; karena setiap manusia dalam kesehariannya—sadar atau tidak—sering kali terpancing (lagi) untuk melakukan hal-hal yang buruk, jahat, dan tidak terpuji, maka ruang batin dan ruhaninya sebaiknya terus diasah dalam suasana yang tenang, khusyuk, dan hening. Nafsu-nafsu destruktif yang potensinya ada pada diri setiap manusialah yang harus terus-menerus dikendalikan, antara lain, dengan laku-laku ritual semisal shalat, zikir, puasa, dan haji.

Kalau kita cermati secara kritis, momen ritual pun sebenarnya menyimpan makna moral dan sosial yang cukup kental. Dalam Islam, ritual bukanlah hal yang steril dari persoalan sosial. Ritual, dengan demikian, bukan merupakan tindakan untuk menghindar  (eskapisme) dari persoalan sosial yang nyata dan mengelilingi kehidupan manusia setiap hari.

Pesan Rasulullah tentang Kaum Perempuan


Assalaamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh
Berikut adalah beberapa dari pesan-pesan Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam pada kaum perempuan. Semoga bermanfaat.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya, dan hendaklah engkau sekalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada para wanita. Sebab mereka itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas. Jika engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya dan jika engkau membiarkannya, ia tetap akan bengkok. Maka hendaklah kalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada wanita." Muttafaq Alaihi dan lafadznya ini (versi) menurut Bukhari.
Menurut (versi) riwayat Muslim: "Jika engkau menikmatinya, engkau dapat kenikmatan dengannya yang bengkok, dan jika engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, dan mematahkannya adalah menceraikannya." (dari Kitab Hadits Bulughul Maram min Adilatil Ahkam)
Dan ingatlah, Hadits Shohih Muslim no 4621 dengan derajat mutafaq 'alaihi:
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
"Seseorang datang menghadap Rasulullah SAW dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah SAW. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah SAW. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah SAW. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah SAW. menjawab lagi: Kemudian ayahmu."
(Shahih Muslim No.4621)

Setelah Rosulullah SAW Wafat

Setelah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya – tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad!”. 

Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, “Ceritakan padaku keindahan dunia ini!.” 

Badui ini menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini….” Ali menjawab, “Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68] : 4)”

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam yang sering disapa “Khumairah” oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun [23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, “Ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Keutamaan Nabi Muhammad Saw. Diantara Nabi-Nabi Yang lain


Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a. : Nabi Muhammad Saw. Pernah bersabda,”kepada ku telah diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada orang lain sebelumku :

  1. Allah Swt memberikan kemenangan kepada ku dengan rasa keterpesonaan. (Dia membuat musuh-musuhku ketakutan) dari sebuah jarak yang jauh dalam sebuah perjalanan satu bulan.
  2. Bumi dijadikan untuk ku (dan umatku) sebagai sebuah tempat untuk mengerjakan shalat dan menjadi sebuah wahana untuk membersihkan (mengerjakan tayamum), oleh karena itu semua umatku dapat mendirikan shalat di mana pun ia tengah berada apabila waktu shalat telah tiba.
  3. harta rampasan dihalalkan untukku dan tidak dihalalkan kepada orang-orang sebelumku.
  4. aku diperkenankan memberi syafa’ah (pada hari kiamat)
  5. setiap Nabi diutus hanya kepada bangsanya sendiri, tetapi aku diutus kepada seluruh umat manusia

Kemuliaan Hati Rasullullah


Seorang sahabat Nabi Muhammad sangat suka bergurau. Beliau adalah Nuaiman yang juga menjadi tentara, berperang dalam peperangan Badar. Namun begitu, beliau juga merupakan antara sahabat yang miskin. Walaupun Nuaiman miskin, beliau mempunyai hati yang mulia dan suka menolong orang lain. Sekiranya mempunyai lebihan uang, beliau akan menjamu orang miskin di masjid.

Pada suatu hari Nuaiman sedang berjalan-jalan, beliau bertemu dengan seorang penjual madu. Pada masa itu, penjual madu sedang melalui jalan yang dekat dengan rumah Nabi Muhammad. Nuaiman terpikir hendak membeli madu itu, namun beliau tidak mempunyai uang. Akhirnya beliau mendapat satu ide.

“Wahai penjual madu!” panggil Nuaiman.

Penjual madu itu datang menghampiri Nuaiman sambil membawa beberapa botol berisi madu.

“Tuan memanggil saya?” tanya penjual madu.

“Berikan saya satu botol madu,” kata Nuaiman.

“Baiklah. Ini dia, tuan,” kata penjual madu sambil mengulurkan sebotol madu kepada Nuaiman.

Sambil mencapai botol madu yang diulurkan itu, Nuamain berkata, “Saudara tunggu di sini. Nanti uang madu ini akan dibayar oleh tuan rumah ini,” kata Nuaiman sambil menunjukkan rumah Nabi Muhammad.

Nuaiman membawa botol madu itu lalu pergi ke rumah Nabi Muhammad. Nuaiman mengetuk pintu dan memberi salam. Nabi Muhammad keluar sambil menjawab salam Nuaiman.

“Wahai kekasih Allah, terimalah hadiah daripada saya,” kata Nuaiman, sambil memberikan botol madu yang di-pegangnya kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad yang tidak tahu apa-apa itu mengucapkan terima kasih kepada Nuaiman. Nuaiman tersenyum lalu pergi dari situ.

Apabila melihatkan Nuaiman pergi jauh tanpa membayar harga madu yang dibelinya, penjual madu itu naik marah. Lantas beliau pergi menemui Nabi Muhammad.

“Tuan, tuan sudah mendapatkan madu daripada saya, tetapi tuan belum membayarnya,” kata penjual madu.

Tahulah Nabi Muhammad yang Nuaiman bergurau dengan beliau. Nabi Muhammad tersenyum sendirian dan terus membayar harga sebotol madu yang dibeli oleh Nuaiman itu. Penjual madu itu berlalu selepas mendapatkan uangnya.

Keesokan harinya Nabi Muhammad meminta sahabat memanggil Nuaiman. Nuaiman akhirnya datang berjumpa Nabi Muhammad dalam keadaan takut. Nabi Muhammad tidak marah kepada Nuaiman, tetapi beliau ingin tahu Kenapa Nuaiman tidak membayar harga madu yang dibelinya.

Nuaiman pun berkata, “Wahai kekasih Allah. Saya ingin sekali melakukan kebaikan kepada tuan. Tetapi saya tidak mempunyai uang pada saat itu. Maafkanlah saya.” Nabi tersenyum mendengar kata-katanya.

Coba kawan-kawan pikir, bukankah itu sifat nabi kita? Memaafkan sahabatnya. Kita sepatutnya meniru sifat yang ada pada nabi kita tersebut.

wassalam.

Cerita Rosulullah Sebelum Wafat


Cerita pertama adalah cerita nabi Muhammad,S.A.W sebelum wafat,
perhatikan betapa mulianya hati nabi, Disaat beliau sakit parah dan menjelang ajal pun ia masih ingat umatnya , Ketika hendak shalat beliau pingsan, dan ketika sadar yang ditanyakan pun masih umatnya. Simak cerita ini bukti kecintaan kepada umatnya.

Untuk yang sudah pernah baca atau dengar ini , ane Cuma mengulangi dan memberikan pesan kesesama muslim dan untuk yang belum silahkan simak semoga menentramkan hati.
haxims.blogspot.com

Walaupun penyakit yang diderita Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat parah,akan tetapi beliau masih sempat menunaikan semua shalatnya bersama jama’ah para sahabatnya hingga hari itu, yakni hari kamis, empat hari sebelum wafat, dan pada hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menunaikan shalat maghrib bersama mereka, pada saat itu beliau membaca surat “al-Mursalat.” (HR. al-Bukhari dari Umu Fadhl