Selasa, 10 Maret 2015

Perencanaan Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak akan lepas dari kegiatan pendidikan, baik pendidikan dalam bentuk fisik maupun psikis. Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan  kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan manusia. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk pembentukan anak manusia demi menunjang perannya di masa yang akan datang. Oleh karena itu pendidikan merupakan suatu budaya yang mengangkat harkat dan martabat manusia sepanjang hayat. Dengan demikian pendidikan memegang peranan penting yang menentukan eksistensi dan perkembangan manusia.
Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, interaksi pendidikan terjadi antara orangtua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Interaksi ini berjalan tanpa rencana tertulis. Orangtua sering tidak mempunyai rencana yang jelas dan rinci kemana anaknya akan diarahkan, dengan cara apa mereka akan dididik, dan apa isi pendidikannya. Orangtua umumnya mempunyai harapan tertentu pada anaknya, mudah-mudahan ia menjadi orang sholeh, sehat, pandai, dan sebagainya, tetapi bagaimana rincian sifat-sifat tersebut bagi mereka tidak jelas, dan mereka juga tidak tau apa yang harus diberikan dan bagaimana memberikannya agar anak-anaknya memiliki sifat-sifat tersebut.[1]
Interaksi pendidikan antara orangtua dengan anaknya juga sering tidak disadari. Dalam kehidupan keluarga interaksi pendidikan dapat terjadi setiap saat, setiap kali orang tua bertemu, berdialog, bergaul, dan bekerja sama dengan anaknya. Pada saat demikian banyak perilaku dan perlakuan spontan yang diberikan kepada anak, sehingga kemungkinan terjadi kesalahan-kesalahan mendidik besar sekali. Orangtua menjadi pendidik tanpa disiapkan secara formal. Mereka menjadi pendidik karena statusnya sebagai ayah dan ibu. Karena tidak ada rancangan yang konkrit dan adakalanya tidak disadari, maka pendidikan dalam lingkungan keluarga disebut pendidikan informal. Pendidikan tersebut tidak memeliki kurikulum formal dan tertulis.[2]
Sedangkan pendidikan dalam lingkungan sekolah lebih bersifat formal. Guru sebagai pendidik di sekolah telah dipersiapkan secara formal dalam lembaga pendidikan guru. Ia telah mempelajari ilmu, keterampilan, dan seni sebagai guru. Ia juga telah dibina untuk memiliki kepribadian sebagai pendidik. Lebih dari itu mereka juga telah diangkat dan diberi kepercayaan oleh masyarakat menjadi guru, bukan sekadar dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang, tetapi juga pengakuan dan penghargaan dari masyarakat. Guru melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dengan rencana dan persiapan yang matang. Mereka mengajar dengan tujuan yang jelas, dan bahan-bahan yang telah disusun secara sistematis dan rinci, dengan cara dan alat-alat yang dipilih dan dirancang secara cermat. Di sekolah guru melakukan interaksi pendidikan secara berencana dan sadar. Dalam lingkungan sekolah telah ada kurikulum formal, yang bersifat tertulis. Guru-guru melaksanakan tugas mendidik secara formal, karena itu pendidikan di sekolah disebut pendidikan formal.[3]
Akan tetapi pada saat ini, masih banyak terdapat guru-guru mengajar dengan tidak mempunyai rencana dan persiapan mengajar yang matang, dan metode pembelajaran yang cenderung monoton,[4] yang pada akhirnya para guru mengajar hanya sebatas mentransfer ilmu. Guru juga seringkali dihadapkan pada masalah media pembelajaran, mereka mengajar tanpa menggunakan media yang tepat. Hal ini dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah. Sehingga, hasil yang dicapai jauh dari apa yang diharapkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka di dalam makalah ini akan dibahas mengenai bagaimana konsep perencanaan sistem pembelajaran yang baik dan bagaimana signifikansinya terhadap hasil pembelajaran.  

B.    Rumusan Masalah  
Adapun masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.     Bagaimana konsep perencanaan sistem pembelajaran pendidikan agama Islam?
2.     Bagaimana dimensi-dimensi prinsip perencanaan pembelajaran?
3.     Bagaimana karakteristik perencanaan pembelajaran?
4.     Apa manfaat perencanaan pembelajaran?
5.     Bagaimana urgensi perencanaan pembelajaran?


PEMBAHASAN

A. Pengertian Perencanaan Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1.     Pengertian Perencanaan
Dalam ilmu manajemen perencanaan[5] sering disebut dengan istilah planning yaitu persiapan menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada tujuan pencapaian tujuan tertentu.[6]
Perencanaan menurut Willian H. Newman menjelaskan bahwa perencaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan.[7] Perencanaa berisi rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan tentang tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.
Sedangkan Ulbert Silalahi menyatakan bahwa perencanaan merupakan kegiatan menetapkan tujuan serta merumuskan dan mengatur pemberdayaan manusia, informasi, finansial, metode, dan waktu untuk memaksimalkan efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan.[8]
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perencanaan adalah suatu cara yang dilakukan seseorang secara sistemik untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2.     Pengertian Sistem
Menurut Oemar Hamalik sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling terintegrasi untuk mencapai suatu tujuan.[9] Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia sistem adalah perangkat atau unsur yang secara langsung saling berkaitan dan sehingga membentuk totalitas.[10]
Dapat dipahami bahwa, sistem itu tersusun  dari berbagai macam komponen yang saling berhubungan dan bahu membahu dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Misalnya sistem pembelajaran yang terdiri dari tujuan, pembelajaran, materi, metode, dan alat, sumber belajar, serta evaluasi pembelajaran. Semua ini akan bermuara kepada pencapaian tujuan pembelajaran yang dimaksud.
3.     Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses komunikasi yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, maupun siswa dengan siswa yang lain untuk mencapai tujuan yang telag ditentukan. Hal ini sejalan dengan pendapatnya Syaiful bahwa pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru dan belajar dilakukan oleh siswa.
4.     Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan dapat diartikan secara sempit yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak-anak dampai ia dewasa.[11] Sedangkan dalam arti luas adalah segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan itu menjadi bagian dari kepribadian anak yang pandai, baik, mampu hidup, berguna bagi masyarakat.[12]
Definisi di atas mengandung pengertian yang lebih luas, yakni menyangkut perkembangan dan pengembangan manusia. Namun demikian, pengertian tersebut masih terbatas pada persoalan-persoalan duniawi. Dan belum memasukkan aspek spritual religius sebagai bagian terpenting yang mendasari pengembangan dan dan perkembangan manusia dalam proses pendidikan.
Menurut  Naquib al-Attas kata pendidikan berasal dari kata ta’dib, atau tarbiyah yang lebih menekankan pada mengasuh, menanggung, memberi makan, memelihara dan menjadikan bertambah dalam pertumbuhan.[13]
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagian manusia.[14]
Menurut Soergarda Purbakawaca pendidikan mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda untuk melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama sebaik-baiknya.[15]
Ketiga pengertian pendidikan diatas, mempunyai arti yang cukup luas, meliputi pengetahuan, keterampilan dan kecakapan hidup. Dan belum menyentuh aspek-aspek spiritual yang dilandasi ajaran Islam. Untuk  itu akan lebih baik jika dipadukan dengan pengertian pendidikan yang dilandasi oleh semangat keislaman, sebagaimana yang dikemukakan oleh H.M. Arifin tentang rumusan pendidikan Islam hasil seminar Pendidikan Islam se-Indonesia yaitu pendidikan Islam adalah sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan  rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.
Istilah membimbing, mengarahkan dan mengasuh serta mengajarkan dan melatih, mengnadung pengertian usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat demi setingkat menuju tujuan yang ditetapkan, yaitu menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran, sehingga terbentuklah manusia yang berpribadi dan berbudi luhur.[16]
Dari definisi di atas ada tiga poin yang dapat disimpulkan yaitu: Pertama, Pendidikan Islam menyangkut aspek jasmani dan rohani, karena keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, oleh karena itu pembinaan terhadap keduanya harus seimbang.
Kedua, Pendidikan Islam mendasarkan konsepsinya pada nilai-nilai religius. Ini berarti bahwa pendidikan Islam tidak mengabaikan  faktor teologis sebagai sumber dari ilmu itu sendiri. sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Baqarah: 31. 
Ketiga, adanya unsur takwa sebagai tujuan yang harus dicapai, sebagaimana kita ketahui bahwa takwa merupakan benteng yang dapat berfungsi sebagai daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang datang dari luar.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.[17] 

C.    Dimensi-dimensi Prinsip Perencanaan Pembelajaran
Di bawah ini beberapa dimensi perencanaan pembelajaran :
1.     Signifikansi
Perencanaan pembelajaran harus memperhatikan signifikansi dan kegunaan sosial dari tujuan pendidikan yang diajukan. Pengambilan keputusan harus mempunyai garis-garis yang jelas dan mengajukan kriteria evaluasi. Signifikansi dapat ditentukan berdasarkan kriteria yang dibangun di dalam proses perencanaan.
2.     Relevansi
Perencanaan pembelajaran memungkinkan penyelesaian persoalan secara lebih spesifik atau waktu yang tepat agar dapat dicapai secara optimal.
3.     Adaptif
Perencanaan pembelajaran bersifat dinamik, sehingga  perlu mencari umpan balik. Penggunaan proses memungkinkan perencanaan pembelajaran yang fleksibel, adaptif, realistis, yakni dapat dirancang untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan. 
4.     Feasibilitas
Feasibilitas artinya perencanaan terkait dengan teknik dan estimasi biaya serta lainnya dalam pertimbangan yang realistis.
5.     Kepastian atau defenitivenes
Sekalipun perlu banyak alternatif yang disediakan dalam perencanaan pembelajaran, konsep kepastian dapat meminimumkan atau mengurangi kejadia-kejadian yang tidak diduga. 
6.     Ketelitian atau psimoniuseness
Ketelitian hendaknya diperhatikan agar perencanaan pembelajaran disusun dalam bentuk sederhana dan sensitif terhadap kaitan-kaitan antara komponen pembelajaran.
7.     Waktu
Perencanaan pembelajaran hendaknya dapat memprediksi kebutuhan masa depan, dan tetap memperhatikan kemajuan zaman.
8.     Monitoring
Monotoring berguna untuk mengetahui apakah komponen yang ada berjalan sebagaimana mestinya.
9.     Perencanaan
Isi perencanaan merujuk pada hal-hal yang akan direncanakan. Maka perencanaan pengajaran perlu memuat hal-hal berikut ini:
a.      Tujuan apa yang diinginkan
b.     Program dan layanan
c.      Tenaga manusia
d.     Keuangan
e.      Bangunan fisik
f.      Struktur organisasi
g.     Kontek sosial.[18]

D.    Karakteristik Perencanaan Pembelajaran
Ada beberapa karakteristik yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan guru dalam menyusun suatu rencana pembelajaran yaitu:
1.     Penyusunan perencanaan pembelajaran ditujukan terhadap siswa yang belajar dan disusun sesuai dengan tujuan dan kebutuhan siswa.
2.     Memiliki tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi, dan tahap tindak lanjut.
3.     Penysusnan perencanaan harus disusun secara sistematis yaitu dari materi dari yang mudah dan diikuti dengan materi yang sulit dan dari segi pembelajaran yang diberikan harus mempertimbangkan keakuratan metode, media, evaluasi, dan tujuan pembelajaran.
4.     Pembelajaran harus disusun dengan menggunakan pendekatan sistem.[19]   

E.     Manfaat Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran merupakan satu tahapan merupakan satu tahapan dalam proses belajar mengajar. Perencanaan menjadi sangat penting karena dapat berfungsi sebagai dasar, pemandu, alat kontrol, dan arah pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang baik akan melahirkan proses pembelajaran yang baik pula. Perencanaan pembelajaran atau disebut juga desain instruksional merupakan kegiatan organisasi intruksional.[20]
Secara sistematik perencanaan pembelajaran mencakup kegiatan merusmuskan tujuan pembelajaran, merumuskan isi/materi pelajaran yang harus dipelajari, merumuskan kegiatan belajar, dan merumuskan sumber belajar/media pembelajaran yang akan digunakan serta merumuskan evaluasi pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran merupakan kegiatan penting dalam kegiatan pembelajaran, sehingga pembelajaran harus didesain secara sistematis dalam merumuskan tujuan, bagaimana karakteristik siswanya, bagaimana menentukan metodenya, dan bagaimana cara mengevaluasinya.  

F.     Urgensi Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran memainkan peran penting dalam memandu guru untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar siswa-siswinya. Perencanaan pembelajaran juga dimaksudkan sebagai langkah awal sebelum proses pembel;ajaran berlangsung. Dengan demikian maka perencanaan pembelajaran digunakan sebagai pedoman kegiatan guru dalam mengajar dan pedoman siswa-siswinya dalam kegiatan belajar yang disusun secara sistematis dan sistemik.
Perencanaan  pembelajaran seharusnya dipandang sebagai suatu alat yang dapat membantu para pengelola pendidikan lrbih berdaya guna dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang pendidik.perencanaan dapat menolong pencapaian suatu sasaran secara lebih ekonomis, tepat waktu, dan memberi peluang untuk lebih dikontrol dan dimonitor dalam pelaksanaannya. Sedangkan manfaat perencaan pembelajaran adalah sebagai berikut.
1.     Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
2.     Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur ynag terlibat dalam kegiatan.
3.     Sebagai pedoman kerja, baik unsur guru maupun unsur siswa dan sisiwinya.
4.     Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu kegiatan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kegiatan tersebut
5.     Untuk bahan pengususnan data agar tidak terjadi kesenjangan dalam kegiatan pembelajaran.
6.     Untuk menghemat waktu dan tenaga.[21]



SIMPULAN

 Berdasarkan uraian-uraian diatas maka penulis berkesimpulan bahwa perencanaan sistem pembelajaran menjadi sangat penting bagi para guru, karena  perencanaan pembelajaran digunakan sebagai pedoman kegiatan guru dalam mengajar dan pedoman siswa-siswinya dalam kegiatan belajar yang disusun secara sistematis dan sistemik. Perencanaan menjadi sangat penting karena dapat berfungsi sebagai dasar, pemandu, alat kontrol, dan arah pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang baik akan melahirkan proses pembelajaran yang baik pula.
Selain itu, perencanaan  pembelajaran seharusnya dipandang sebagai suatu alat yang dapat membantu para pengelola pendidikan lebih berdaya guna dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang pendidik.perencanaan dapat menolong pencapaian suatu sasaran secara lebih ekonomis, tepat waktu, dan memberi peluang untuk lebih dikontrol dan dimonitor dalam pelaksanaannya.



DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. Natsir. Dasar-dasar Ilmu mendidik. Jakarta: Mutiara. 1997.
Anwar, Kasfu. Perencanaan Sistem Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan
            Pendidikan (KTSP). Bandung: Alfabeta. 2010.
Arifin, H.M. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bina Akasara. 1987.
Dewantara, Ki Hajar Bagian Pertama Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur
            Persatuan Taman Siswa.
Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi aksara.1995.
Marribah, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.
            1981.
Nata, Abuddin. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: Angkasa. 2003.
Syaodih, Nana. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT
            Remaja Rosdakarya. 2010
Syekh Muhammad al-Naquib Al-Attas. Konsep Pendidikan Dalam Islam,
            Bandung: Mizan. 1984.
Tafsiri, Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja
            Rosda Karya. 2001.




[1] Nana Syaodih S. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2010. Hal. 1
[2] Ibid. Nana Syaodih S. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Hal. 1
[3] Ibid. Nana Syaodih S. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Hal 1-2.
[4] Monoton adalah berulang-ulang selalu sama nadanya (bunyinya,ragamnya). Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2007. Hal. 754
[5] Perencaan adalah proses cara, perbuatan merencanakan (merancangkan) Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal. 946
[6] Kasful Anwar Us. Perencanaan Sistem Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Bandung; Alfabeta. 2010. Hal. 21 
[7] Kasful Anwar Us. Perencanaan Sistem Pembelajaran. Hal. 21
[8] Kasful Anwar Us. Perencanaan Sistem Pembelajaran. Hal. 22
[9] Oemar Hamalik. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi aksara. 1995. Hal.1
[10] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal. 1076
[11] Ahmad D. Marribah. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. (Bandung: Al-Ma’arif. 1981). Hal. 31
[12] M. Natsir Ali. Dasar-dasar Ilmu mendidik. (Jakarta: Mutiara. 1997). Hal. 23
[13] Syekh Muhammad al-Naquib Al-Attas. Konsep Pendidikan Dalam Islam. (Bandung: Mizan. 1984) cet. Ke-1. Hal 60
[14] Ki Hajar Dewantara. Bagian Pertama Pendidikan. (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. 1962) sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata dalam Kapita Selekta Pendidikan Islam. Hal. 11 
[15] Abuddin Nata. Kapita Selekta Pendidikan Islam. (Bandung: Angkasa. 2003). Hal. 12
[16] H.M. Arifin,.Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta : Bina Akasara,.1987) cet. Ke-1 Hal. 13
[17] Ahmad Tafsiri. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. (Bandung: Remaja Rosda Karya. 2001) cet ke-4. Hal. 32
[18] Dr. Kasful Anwar Us. Perencanaan Sistem Pembelajaran. Hal. 27
[19] Pendekatan sistem adalah salah satu cara dalam penyusunan rencana pembelajaran yang dapat memperhatikan  berbagai komponen pembelajaran seperti metode, media, evaluasi, dan tujuan pembelajaran, waktu, dan sumber belajar. Semua komponen tersebut harus dapat berkolaborasi dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. Kasful Anwar Us. Perencanaan Sistem Pembelajaran. Hal. 29-30
[20] Organisasi intruksional adalah pembelajaran mengkoordinasikan komponen-komponen pembelajaran atau disebut dengan desain intruksional. Sedangkan komponen organisasi intruksional yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah interaksi pembelajaran,  sumber belajar yang digunakan , dan evaluasi pembelajaran.  Kasful Anwar Us. M.Pd. Perencanaan Sistem Pembelajaran. Hal. 30
[21] Kasful Anwar Us. Perencanaan Sistem Pembelajaran. Hal. 31-32

Rabu, 05 November 2014

Konsep Dasar Teknologi Pendidikan

A. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan investasi yang paling utama bagi setiap bangsa, apalagi bagi bangsa yang sedang berkembang, yang giat membangun negaranya. Pembangunan hanya dapat dilakukan oleh manusia yang dipersiapkan untuk itu melalui pendidikan. Dalam zaman kemajuan ilmu pengetahuan ini para ahli berusaha untuk meningkatkan mengajar itu menjadi suatu ilmu atau science. Dengan metode mengajar yang ilmiah diharapkan, proses belajar mengajar itu lebih terjamin keberhasilannya. Inilah yang sedang diusahakan oleh teknologi pendidikan.
Teknologi pendidikan memberi pendekatan yang sistematis dan kritis tentang proses belajar mengajar. Teknologi pendidikan memandangnya sebagai suatu masalah yang harus dihadapi secara rasional dengan menerapkan metode pemecahan masalah. Penerapan Teknologi di lembaga pendidikan merupakan jawaban persoalan yang sekarang ini dialami oleh dunia pendidikan kita. Sebagai salah satu bagian dari sistem yang ada, teknologi pendidikan sebenarnya adalah suatu cara atau teknis bagaimana agar anak didik secara maksimal mampu menyerap ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh guru-gurunya atau anak dengan cara belajar dari proses alam sekitarnya.

B. PEMBAHASAN
1.     Pengertian Teknologi Pendidikan
Istilah teknologi berasal dari bahasa yunani technologia  yang menurut Webster Dictionary berarti systematic treatment  atau penanganan sesuatu secara sistematis, sedangkan techne sebagai dasar kata teknologi berarti “art”  adalah keterampilan (skill), science atau keahlian, keterampilan, ilmu.[1] Sedang dalam arti luas menurut Association for Educational Communication and Technology (AECT) adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari problem solving, melaksanakan evaluasi dan mengelola pemacahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.[2] Dengan demikian, teknologi tidak lebih dari suatu ilmu yang membahas tentang keterampilan yang diperoleh lewat pengalaman, studi, dan observasi.
Teknologi bukanlah sekedar mesin dan orang. Teknologi pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu yang mencakup orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi, untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, mengimplementasikan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang berkenaan dengan semua aspek belajar manusia.
Teknologi pendidikan dapat ditafsirkan sebagai media yang lahir dari perkembangan alat komunikasi yang digunakan untuk tujuan pendidikan. Teknologi pendidikan mempunyai karakteristik tertentu yang sangat relevan bagi kepentingan pendidikan. Teknologi pendidikan memungkinkan adanya:
a.      Penyebaran informasi secara luas, merata, cepat, seragam, dan terintegrasi, sehingga dengan demikian pesan dapat disampaikan sesuai dengan isi yang dimaksud.
b.     Teknologi pendidikan dapat menyajikan materi secara logis, ilmiah dan sistematis serta mampu melengkapi, menunjang, memperjelas konsep-konsep, prinsip-prinsip atau proposisi materi pelajaran.
c.      Teknologi pendidikan menjadi partner guru dalam rangka mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif, efisien dan produktif sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan anak didik.
d.     Teknologi pendidikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar, dapat menyajikan materi secara lebih menarik, lebih-lebih jika disertai dengan kemampuan memanfaatkannya.
Pengertian lain dari teknologi pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Dalam teknologi pendidikan, pemecahan masalah itu terjelma dalam bentuk semua sumber belajar yang didisain dan dipilih atau digunakan untuk keperluan belajar, sumber-sumber belajar ini diidentifikasi sebagai pesan,orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar lingkungan.[3]
Sumber belajar untuk teknologi pendidikan yaitu semua sumber yang meliputi data, orang dan barang yang mungkin digunakan oleh si (orang) yang belajar, baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kelompok, biasanya dalam situasi informal untuk memberikan kemudahan belajar.
Ada dua jenis sumber belajar:
a.      Sumber yang didesain yaitu sumber-sumber yang secara khusus dikembangkan sebagai komponen sistem intruksional yang diharapkan dapat membantu kemudahan kegiatan belajar yang bersifat formal dan mempunyai tujuan tertentu.
b.     Sumber yang dimanfaatkan yaitu sumber-sumber yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, diperoleh dan digunakan untuk keperluan belajar.[4]
Hasil penelitian secara nyata membuktikan bahwa penggunaan alat bantu sangat membantu aktivitas proses belajar mengajar dikelas, terutama peningkatan prestasi belajar siswa/mahasiswa. Kadang-kadang guru/dosen ingin memilih beban seminimal mungkin dalam pelaksanaan tugas mengajar, ini terbukti, penggunaan metode ceramah (lecture method) monoton paling popular dikalangan dosen/guru. Keterbatasan media teknologi pendidikan disatu pihak dan lemahnya kemampuan dosen/guru menciptakan media tersebut disisi lain membuat penerapan metode ceramah semakin menjamur. Kondisi ini jauh dari menguntungkan. Terbatasnya alat-alat teknologi pendidikan yang dipakai dikelas diduga merupakan salah satu sebab lemahnya mutu studi mahasiswa atau pelajar atau masyarakat pada umumnya.[5]
Tuntutan masyarakat yang makin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan melalui pola tradisional, disamping cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan masyarakat, pemahaman cara belajar anak, kemajuan media komunikasi dan kemajuan lain sebagainya memberi arti tersendiri bagi kegiatan pendidikan dan tuntutan ini pulalah yang membuat kebijaksanaan untuk memanfaatkan media teknologi dan pendekatan teknologis dalam pengelolaan pendidikan. Pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan merupakan sarana penerus nilai-nilai, gagasan-gagasan, sehingga setiap orang mampu berperan serta dalam transformasi nilai demi kemajuan bangsa dan negara. Ini berarti bahwa pendidikan adalah wadah untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kepentingan hidup manusia.[6]

Selasa, 04 November 2014

Pantun Nasehat Anak

 I
 Anakku sayang,..
 Kini fajar telah menjelang,
 ufuk merah muncul cemerlang,
 Bangunlah dirimu segera sembahyang.
 Bekalmu nanti saat janji pasti telah datang.
 
 Gertakkan gigimu untuk  melawan  godaan syaitan.
 Bangun dan ambil wudhu menghadap Tuhan.
 Panjatkanlah  doa  dengan  rintihan.
 Adukan perihmu tanpa segan.
 
 II
 Anakku...
 Usia muda cukupkan upaya,
 Kerahkan energi beserta daya.
 Agar juangmu  kelak  berjaya.
 Niscaya hidupmu akan bahagia.
 
 Perbanyak lakukan ibadah sunnat.
 Karena ia penjaga semangat.
 Untuk hadapi banyak maksiat.
 Serta atasi cobaan yang berat.
 
 Kalau sekarang banyak bermain,
 hasilnya kelak tentulah lain.
 walau sekarang kau kurang yakin,
 setelah terbukti sesal tak mungkin.
 
 III
 Tahanlah gejolak didalam dada,
 banyak istighfar banyak puasa,
 supaya engkau kuat  perkasa,
 terhindar dari beratnya  dosa.
 
 Masa mudamu masa terbaik,
 siapkan bekal saat kau balik,
 menghadap pada Maha Pemilik,
 amal dosamu akan ditilik.
 
 Masa sekarang banyak menghafal,
 ingatnya cepat dan juga kekal,
 setelah tua otak kan majal,
 lidah pun kelu menjelang ajal.
 
 IV
 Anakku...
 Dimasa muda tuntutlah ilmu,
 karena ia jadi bekalmu,
 untuk dunia dan akheratmu,
 ketika janji sudah bertemu.
 
 Ingat selalu pesan wasiat,
 belajar muda bagai memahat,
 berat terasa banjir keringat,
 tapi lekatnya terasa kuat.
 
 Kalaulah tua baru belajar,
 saat membaca terasa lancar,
 barulah guru pergi keluar,
 lupa semua apa diajar.
 
 V
 Nasehat ibu sampai disini,
 baiknya bila engkau renungi,
 sebagai bekal untuk arungi,
 hidup yang berat kelak jalani.
 
 Walau nasehat ini sederhana,
 disusun dengan sayang karena,
 agar tiada sesal dialam sana,
 tatkala nanti ditanyakan-Nya.
 
 Nasehat pendek ini selesai,
 Maafkan bila salah dan lalai,
 atau keliru dalam mengurai,

kalaulah baik silah dipakai.

Kenali Gaya Kerja Anda

Di tempat kerja, hubungan dengan lingkungan sedikit banyak berpengaruh terhadap prestasi kerja. Hubungan dengan lingkungan dipengaruhi dengan bagaimana bentuk interaksi ketika menyelesaikan pekerjaan, maupun hal yang terkait dengan persoalan di luar pekerja.

Bentuk interaksi ketika menyelesaikan pekerjaan dengan atasan, rekan kerja maupun bawahan dikenal dengan istilah gaya kerja.

Gaya kerja dibedakan menjadi 5 tipe yaitu commanding, marginal, indifferent, humanistic dan enlighting.

Seseorang dapat mengetahui kecenderungan gaya kerja yang dominan melalui kuesioner sebagai alat ukur. Dengan mengetahui gaya kerja, seseorang dapat menggunakan kelebihan dan memperbaiki kelemahan.

1.     Commanding

Gaya kerja commanding atau dikenal juga dengan gaya kerja memerintah. Gaya kerja ini berorientasi pada kekuasaan. Hubungan kerja didasarkan pada pola atasan dan bawahan. Orang dengan gaya kerja ini cenderung merasa benar sendiri. Gaya kerja ini biasanya diperlukan pada saat keadaan kritis yang memerlukan pengambilan keputusan secara cepat.

2.     Marginal

Gaya kerja marginal berorientasi pada aturan yang harus dipatuhi dan perintah dari atasan. Orang dengan gaya kerja ini biasanya hanya mengikuti perintah dan tidak kreatif. Gaya kerja ini diperlukan pada tempat kerja yang memerlukan orang tipe hanya do-er atau pelaksana.

3.     Indiffirent

Gaya kerja indifferent atau masa bodoh hanya berorientasi pada tugas sendiri. Seseorang dengan gaya kerja dominan indifferent hanya fokus untuk menyelesaikan kewajibannya tanpa peduli pada keadaan sistem secara keseluruhan. Gaya kerja ini akan tepat diterapkan pada tempat kerja dengan tipikal pekerjaan tak saling bergantung satu dengan lainnya.

4.     Humanistic

Gaya kerja humanistic adalah gaya kerja yang berorientasi pada perasaan. Seseorang dengan gaya kerja ini cenderung untuk menghindari keributan di tempat kerja akibat konflik. Berbeda pendapat adalah sesuatu yang sangat dihindarkan.

Kekurangan dari gaya kerja ini adalah tidak bisanya diambil keputusan secara tegas, apalagi bila waktunya mendesak. Sedangkan kelebihannya adalah membina hubungan yang baik dan kekompakan personil di tempat kerja.

5.     Enlighting


Gaya kerja enlighting merupakan gaya kerja yang dipandang paling ideal untuk diterapkan secara umum. Gaya kerja ini berorientasi pada prestasi atau keberhasilan bersama. Kelebihan gaya kerja ini pada diskusi, proses sharing ide, evaluasi bersama, dan teamwork yang kuat. Gaya kerja ini akan sesuai dengan tipikal pekerjaan yang melibatkan banyak personil dengan peranan sejajar. Penerapan gaya kerja sangat ditentukan juga oleh tempat kerja dan tipikal pekerjaan. Tidak ada gaya kerja yang paling baik, tetapi hanya ada gaya kerja yang paling sesuai.

MENUNGGU !!!

Banyak orang yang suka mengeluh dalam

hidupnya. Misalnya, dengan menyalahkan

nasib buruk yang menimpanya.



Tentu saja cara ini tidak akan pernah menjadikan

kehidupannya menjadi lebih baik, bukan?



Ada pepatah bijak mengatakan :

   "You can not chance the wind direction,
       but you can only chance your wing
       direction"




Kita  tidak akan pernah bisa merubah

arah angin, yang dapat kita lakukan

adalah mengubah arah sayap.



Dengan kata lain...



'Realita' kehidupan tidak akan berubah

kecuali kita sendirilah yang mengubah

'sudut pandang' terhadap realita yang ada!



     Fakta: "Tidak ada seorang pun yang

     memilih kita untuk sukses. Kita sendirilah

     yang menentukan pilihan tersebut!"



Kebanyakan orang akan tertarik sejenak

ketika diingatkan akan hal di atas, tapi

kemudian berlalu kembali.... Sementara

waktu terus berjalan, dan akhirnya tidak

pernah ada perubahan dalam hidupnya!



Sangat disayangkan.



Seringkali orang tidak berani melakukan

perubahan dalam hidupnya. Dia hanya

menunggu, dan menunggu adanya

perubahan tersebut.



Menunggu bantuan orang lain, menunggu

bantuan teman untuk mendapatkan

pekerjaan yang enak, sampai menunggu

warisan ;-)



Sekarang logikanya, jika memang hanya

dengan menunggu perubahan itu akan

datang, maka jumlah orang sukses

seharusnya jauh lebih banyak.



Bukankah kenyatannya tidak demikian?



Lalu, jika ingin sukses, apa yang

seharusnya kita lakukan?



Ciptakan perubahan!




Jangan selalu menunggu orang lain.

Perilaku dan Pribadi Remaja

A.    Perubahan Pada Remaja
Masa remaja adalah suatu tahap dalam perkembangan jiwa manusia yang merupakan masa perpindahan dari tahap kanak-kanak ke tahap dewasa. Masa remaja di awali dengan masa pubertas, yaitu kematangan alat-alat reproduksi seksual yang diikuti dengan perubahan fisik dan psikis seseorang.

Secara umum ada dua bentuk perubahan yang terjadi pada masa remaja, yaitu        perubahan fisik dan Psikologis :

1.     Perubahan Fisik
Perubahan fisik ini sangat terlihat dari perubahan biologisnya. Pada masa remaja awal seorang remaja putri memiliki sistem reproduksi yang sudah aktif, yang di awali dengan mensturasi.  Jenis hormon estrogen dan progesteron pada seorang remaja putri semakin meningkat aktivitasnya. Sehingga terjadi perubahan pada payudara, kulit menjadi lebih halus, pinggul yang melebar dan sebagainya. Sedangkan fase remaja untuk anak lelaki/ putra diawali dengan mimpi basah. Jenis hormon testosteron pada remaja putra menjadi lebih aktif, sehingga terjadi perubahan suara, otot, tumbuhnya kumis dan sebagainya.

2.     Perubahan Psikologis
Masa remaja merupakan suatu masa yang penuh dengan beberapa gejolak kejadian. Kondisi ini dapat disebabkan meluasnya jangkauan dan wawasan  pergaulan sosial remaja yang menuntut penyusaian diri dengan perubahan fisik yang sangat cepat, sehingga membuat remaja mengalami beban mental, terjadinya perubahan kadar emosi atau perasaan seperti begitu cepat marah, puas, gembira, atau sedih.
Dalam fase ini, suasana hati sangat drastis mengalami perubahan. Sebagaimana dikemukakan Mihalki Csikszentmihalyi  dan Reed Larson (1984) bahwa remaja hanya memerlukan waktu 45 menit saja untuk berubah dari suasana hatinya, seperti  perasaan “senang luar biasa” menjadi “sedih luar biasa”. Sedangkan pada orang dewasa memerlukan waktu beberapa jam. Terjadinya mood swing (perubahan suasana hati) yang drastis seperti ini pada remaja lebih banyak disebabkan oleh beban pekerjaan rumah, tugas sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Namun mood swing ini bukanlah suatu gejala atau masalah psikologis.

B.    Perilaku Remaja
Berbagai karakteristik perilaku dan  masa remaja, terbagi ke dalam dua kelompok   yaitu masa remaja awal (usia 11-13 s.d. 14-15 tahun) dan masa remaja akhir (usia 14-16 s.d. 18-20 tahun) yang meliputi aspek : fisik, psikomotor, bahasa, kognitif, sosial,   moralitas, keagamaan,  konatif, emosi afektif dan kepribadian.

1.     Fisik
Pada fase remaja awal, laju perkembangan fisiknya secara umum berlangsung sangat pesat, proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang, dan munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region, otot mengembang pada bagian-bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki.
Sedangkan pada fase remaja akhir, laju perkembangan secara umum kembali menurun, sangat lambat, proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa, dan siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa.

TENTUKAN PERUBAHAN....JANGAN MENUNGGU !!!

Banyak orang yang suka mengeluh dalam

hidupnya. Misalnya, dengan menyalahkan

nasib buruk yang menimpanya.



Tentu saja cara ini tidak akan pernah menjadikan

kehidupannya menjadi lebih baik, bukan?



Ada pepatah bijak mengatakan :

   "You can not chance the wind direction,

       but you can only chance your wing
       direction"




Kita  tidak akan pernah bisa merubah

arah angin, yang dapat kita lakukan

adalah mengubah arah sayap.



Dengan kata lain...



'Realita' kehidupan tidak akan berubah

kecuali kita sendirilah yang mengubah

'sudut pandang' terhadap realita yang ada!



     Fakta: "Tidak ada seorang pun yang

     memilih kita untuk sukses. Kita sendirilah

     yang menentukan pilihan tersebut!"



Kebanyakan orang akan tertarik sejenak

ketika diingatkan akan hal di atas, tapi

kemudian berlalu kembali.... Sementara

waktu terus berjalan, dan akhirnya tidak

pernah ada perubahan dalam hidupnya!



Sangat disayangkan.



Seringkali orang tidak berani melakukan

perubahan dalam hidupnya. Dia hanya

menunggu, dan menunggu adanya

perubahan tersebut.



Menunggu bantuan orang lain, menunggu

bantuan teman untuk mendapatkan

pekerjaan yang enak, sampai menunggu

warisan ;-)



Sekarang logikanya, jika memang hanya

dengan menunggu perubahan itu akan

datang, maka jumlah orang sukses

seharusnya jauh lebih banyak.



Bukankah kenyatannya tidak demikian?



Lalu, jika ingin sukses, apa yang

seharusnya kita lakukan?



Ciptakan perubahan!




Jangan selalu menunggu orang lain.

Dimanakah Kebahagiaan Itu?


Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-2 di tepi sungai.



Sang Ayah berkata kpd anaknya,
“Lihatlah anakku,
air begitu penting dlm kehidupan ini,
tanpa air kita semua akan mati.”



Pada saat yg bersamaan,

seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air.



Ikan kecil itu mendadak gelisah & ingin tau apakah air itu, yg katanya begitu penting dlm kehidupan ini.



Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kpd setiap ikan yg ditemuinya, “Hai taukah kamu dimana tempat air berada?

Aku tlah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”



Ternyata semua ikan yg tlah ditanya tdk mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air utk bertemu dgn ikan sepuh yg sudah berpengalaman.



Kpd ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yg sama, “Dimanakah air?”



Ikan sepuh itu menjawab dgn bijak,

“Tak usah gelisah anakku,

air itu tlah mengelilingimu,

sehingga kamu bahkan tdk menyadari kehadirannya.

Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.”



Sahabatku,

Manusia kadang-2 mengalami situasi yg sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan & kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-2 ia sendiri tdk menyadarinya.



Hari ini,

Mari kita intropeksi diri...

Jangan menjadi orang yg merasa tidak pernah cukup dgn apa yg kita miliki sekarang.



Cukupkan diri dlm segala hal,


Maka kebahagiaan akan otomatis kita rasakan !!!

Biji Sawi & Kebijaksanaan


Ada sebuah cerita Cina kuno tentang wanita yang begitu sedih karena anaknya meninggal dunia. Dalam dukanya, dia mendatang seorang bijaksana, “Doa seperti apa, adakah yang bisa dilakukan untuk membuat anak saya hidup kembali?”

Alih-alih mengusirnya atau memberinya pengertian, orang tersebut berkata kepada wanita itu, “Mintalah biji sesawi dari sebuah rumah yang belum pernah merasakan kesedihan. Kita akan gunakannya untuk mengusir kesedihan itu dari kehidupanmu.”
Mendengar permintaan orang bijak itu, wanita itu segera pergi mencari biji sesawi ajaib itu.

Yang pertama kali di kunjunginya adalah sebuah rumah yang indah, ia mengetuk pintu itu dan berkata, “Saya mencari sebuah rumah yang belum pernah mengalami kesedihan. Apakah rumah ini seperti itu? Tolonglah, hal ini sangat penting bagi saya.”

Mereka berkata, “Anda pasti datang ketempat yang salah,” lalu pemilik rumah itu mulai menjelaskan semua hal tragis yag baru-baru ini mereka alami.

Wanita itu berkata kepada dirinya sendiri, “Siapakah yang dapat membantu orang malang ini, orang yang mengalami kemalangan seperti saya. Sedangkan saya sendiri juga memiliki kesusahan sendiri.”

Wanita itu kemudian tinggal sebentar untuk menghibur si pemilik rumah yang indah itu, lalu melanjutkan pencariannya. Dari satu rumah ke rumah yang lainnya, ia selalu menemui kesedihan. Mulai dari gubuk-gubung reyot hingga rumah yang indah, semuanya memiliki kisah kemalangannya sendiri-sendiri. Setiap kali ia mengetuk pintu dan mengdengar cerita sedih, ia tidak bisa tidak memberikan penghiburan dan akhirnya lupa untuk mencari biji sesawi ajaibnya. Apa yang ia lakukan dari satu rumah ke rumah yang lain, lambat laun mengusir kesedihannya keluar dari hidupnya.


Sahabatku,Tidak seorangpun yang tidak pernah mengalami kemalangan, kesedihan dan duka. Untuk itu sangat tidak tepat jika kita berpikir bahwa diri kita adalah orang yang paling malang di dunia. Bangkitlah dari kesedihan Anda, dan mulailah lihat ke sekeliling Anda. Berikan bantuan, nasihat dan penghiburan kepada orang lain yang juga memiliki kesedihan dan kemalangan. Dengan cara ini, Anda akan menyembuhkan kesedihan Anda.

Tingkatan dan Jenis Hadits

1.     Hadits Shohih (Sah/benar/sehat)
2.     Hadits Hasan (Bagus/Baik)
3.     Hadits Dho’if (Lemah)
4.     Hadits Marfu’ (Semua sanadnya bersandar kepada Rasulullah Saw)
5.     Hadits Mushahhaf (Kesalahan terjadi pada catatan / bacaannya)
6.     Hadits Muttasil (Sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw)
7.     Hadits Mauquf (Sanadnya boleh jadi bersambung, boleh jadi terputus)
8.     Hadits Mun-qoti’ (Dho’if, karena terputus sanadnya)
9.     Hadits Mursal (Dho’if dan Mardud)
10.  Hadits Mu’allal (Terselubung cacatnya / merusak keshohihan Hadits)
11.  Hadits Ghorib (Yang menyendiri)
12.  Hadits Masyhur (Nyata)
13.  Hadits Mudallas (Gelap / Menyembunyikan cacat dalam sanad)
14.  Hadits Mutawatir (Berturut Sanadnya)
15.  Hadits Syadz (Bertentangan)
16.  Hadits Mudraj (Ada tambahan, yang bukan bagian dari Hadits)
17.  Hadits Maqlub (Dho’if. Karena ada pergantian lafaz)
18.  Hadits Mudhtorib (Rusak susunan)
19.  Hadits Mu’adhal (Menggugurkan dua Perawi aslinya)(Hukumnya Dho’if)
20.  Hadits Matruk (Dho’if yang paling buruk. Perawinya tertuduh Pendusta)
21.  Hadits Maudhu’ (Palsu. Kebohongan yang diciptakan dan disandarkan kepada Rasul Saw)
22.  Hadits Munkar (Cacat dan Palsu perawinya kedapatan berbuat Fasiq)

Jika Hadits-hadits yang kita baca terdapat Keterangan yang mengatakan seperti dibawah ini :
7 Imam :   Al-Bukhari. Muslim. Ahmad. Abu Daud. At-Turmudzy. An-Nasa’iy. Ibnu Majah.
6 Imam:   Al-Bukhari. Muslim. Abu Daud. At-Turmudzy. An-Nasa’iy dan Ibnu Majah.
5 Imam :   Ahmad. Abu Daud. At-Turmudzy. An-Nasa’iy. Ibnu Majah.
4 Imam :   Ahmad. At-tirimidzy. An-Nasa’iy. Ibnu Majah.
3 Imam : Abu Daud. At-turmudzy. An-Nasaiy.Muttafaqun ‘Alaih : Al-Bukhari dan Muslim.

Banyak orang yang berjiwa ta’at dan patuh kepada Agama. Tetapi karena pengetahuannya tentang Hadits sangat terbatas, sehingga ia nampak seperti orang yang hidup dalam kegelapan. Yaitu meraba-raba dan seperti berjalan tiada tentu arah tujuan. Tidak ada pegangan yang menimbulkan ketenangan dalam hati untuk menetapkan langkahnya. Dan ia akan berhati-hati dengan tidak ada alasan. Kadang-kadang mereka bisa bersikap sangat pemberani (agresip). Padahal ia berbuat salah.
Maka untuk menghindarkan segala sifat yang buruk dan merugikan diri sendiri seperti yang demikian itu !!! Hendaknya kita selalu mencari tambahan ilmu tentang Hadits. Dengan demikian kita berjalan menurut Cahaya yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. kepada seluruh umatnya. Kita mengharap kepada Allah SWT semoga kita jangan sampai terperangkap dengan Hadits-hadits palsu !!! Yang pada akhirnya kita sendiri yang akan rugi.
Karena dari dahulu hingga sekarang. Kebanyakan dari kita, hanya menerima Cerita-cerita Israiliyat yang sampai kepada kita melalui cerita entah berantah, lalu kita katakan itu adalah Hadits Nabi Saw. Maka sanksinya adalah Neraka ! Oleh karena itu. Wajib bagi kita belajar lagi untuk memperhalus kaji.
Agar jangan menjadi orang yang hanya ikut-ikutan saja, alias ikut saja apa kata orang. Yakni bertaqlid buta (tiada ‘ilmu). Ingatlah ! Neraka tetap menanti kehadiran orang yang demikian ini !Dan semoga para pembaca yang berminat dengan pelajaran ini, kita harapkan untuk mencari atau bertanya kepada Ahli Hadits yang banyak liku-likunya, karena maksud dari pelajaran ini bukan menguraikan ilmu Hadits, tetapi mengurai isi Hadits yang berkaitan dengan ketetapan Ibadah. Maka dipersilahkan menambah ‘ilmu kepada para Ahli Hadits yang Mu’tabar dimanapun ia berada.

Sunnah ada enam Kitab Hadits yang ternama, yang merupakan pegangan penjelasan utama bagi umat Islam. Keenam Kitab tersebut ialah :
  1. Shohih Imam Al-Bukhari.
  2. Shohih Imam Muslim.
  3. Imam Abu Daud.
  4. Imam An-Nasa’iy.
  5. Shohih At-Turmudzy.
  6. Imam Ibnu Majah.