Minggu, 12 Oktober 2014

Etika Profesi Keguruan

A.    PENDAHULUAN
Standarisasi dan Profesionalisme pendidikan yang sedang dilakukan dewasa ini menuntut pemahaman berbagai pihak terhadap perubahan yang terjadi dalam berbagai komponen sistem pendidikan. Agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi kesimpangsiuran dalam menafsirkan kewenangan yang diberikan, dituntut pemahaman semua pihak terhadap berbagai kebijakan baik itu secara  makro maupun Mikro.
   Keberhasilan atau kegagalan Implementasi kurikulum disekolah sangat bergantung pada guru dan kepala sekolah, karena dua figur  tersebut merupakan kunci  yang menentukan serta menggerakan berbagai komponen dan dimensi sekolah yang lain. Dalam posisi tersebut baik buruknya komponen sekolah yang lain sangat ditentukan oleh kualitas guru dan kepala sekolah, tanpa mengurangi arti penting tenaga kependidikan lainnya, mereka dituntut untuk mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan (RPP) berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) yang dapat digali dan dikembangkan oleh peserta didik.
   Kesuksesan  siswa dalam belajar tergantung kepada guru yang memiliki peran  dalam mengajar. Oleh karna itu guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang guru, pengajar, pendidik, pembimbing, penasehat, pelatih, model/teladan dan kulminator. Guru tidak hanya dituntut sebagai pendidik atau pengajar namun guru harus memberikan lebih perihatin kepada peserta didiknya.
   Guru adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Keberhasilan atau kegagalan dari suatu sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh faktor tersebut. Guru merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran, karena guru yang akan berhadapan langsung dengan peserta didik dalam proses belajar-mengajar. Melalui guru pula ilmu pengetahuan dapat ditransperkan.
Bila kita membicarakan tentang konsep dasar, maka bila dihubungkan dengan etika profesi, maka memiliki arti bahwa mengapa muncul pertanyaan mengapa muncul etika dalam berprofesi dan harus seperti apa etika yang baik dalam berprofesi ini. Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami apa arti dari etika dan profesi itu sendiri dan selanjutnya konsep dasar etika profesi guru.

B.    PEMBAHASAN 
1.  ETIKA
Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter,watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Menurut Martin, etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act as the performance index or reference for our control system”.
Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau  adat. Etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.[1] Sedangkan jika ditinjau dari bahasa latin   etika   adalah “ethnic”,  yang berarti kebiasaan, serta dalam bahasa Greec “Ethikos” yang berarti a body of moral principles or values.[2]
Secara bahasa etika adalah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang jahat.[3]
Etika menurut berbagai literatur sama juga dengan akhlak, moral, serta budi pekerti, dimana akhlak berarti perbuatan manusia (bahasa arab), moral berasal dari kata “mores” yang berarti perbuatan manusia, sedangkan budi adalah berasal dari dalam jiwa, ketika menjadi perbuatan yang berupa manifestasi dari dalam jiwa menjadi pekerti (bahasa sanskerta).[4]
Jadi kata etika, moral, akhlaq, serta budi pekerti secara bahasa adalah sama, yaitu perbuatan atau tingkah laku manusia. Dimana objek etika itu sendiri adalah perbuatan manusia sehingga menjadi pembahasan yang sampai saat ini terus diperbincangkan.
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ethos yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :
a)     H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
b)     Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.

Sayyid Ahmad Khan dan Gerakan Aligarh

A. Pendahuluan
Pada permulaan abad ke-19 imperium Mughal di anak Benua Indo-Pakistan secara pasti memasuki fase keruntuhan. Walaupun nama dan bayangannya masih tetap nampak, khususnya di Delhi untuk setengah abad kemudian, namun kekuasaanya yang riil telah musnah. Kerajaan-kerajaan kecil, seperti Rajput, Jat, Maratha, Sikh serta lainnya, yang muncul akibat kerapuhan para emperor Mughal setelah Awrangzeb, secara bertahap dilindas oleh East India Company yang mulai membentuk koloninya di Indo – Pakistan pada tahun 1757. Setelah pemberontakan 1857, imperium Mughal secara resmi bertekuk lutut di bawah penjajahan Inggris.
Dengan runtuhnya imperium Mughal, masyarakat Muslim Indo-Pakistan pun ikut runtuh. Kemegahan budaya, intelektual dan kekuasaan mereka memudar dengan cepat. Sebaliknya, orang-orang Hindu, yang pada masa kejayaan Islam di anak benua Indiamerupakan masyarakat kelas bawah, kecuali pada Akbar, kini mulai mendominasi seluruh lapangan kehidupan. Hal ini memang bertentangan dengan sejarah masa lalu mereka.
Akan tetapi, “penganakemasan” orang Hindu oleh Inggeris serta kurangnya respons kaum muslimin terhadap kekuasaan dan institusi-institusi Inggeris, ditambah lagi dengan ketidakmampuan warisan keagamaan tradisional dalam menjawab tantangan zaman mengakibatkan tenggelamnya masyarakat Muslim Indo-Pakistan. Inilah yang menandai mulainya sejarah kontemporer umat Muslim di anak benua India. Pergantian rezim ini menggerakkan beberapa kekuatan yang menimbulkan perubahan sejumlah praktek keagamaan dan struktur sosio politik umat Muslim di anak benua ini dan pada ujungnya mengantarkan pada pembentukan tiga negara nasional, dua di antaranya didominasi oleh mayoritas Muslim, sedang satu di antaranya umat Muslim berada pada posisi minoritas. 
Dalam peta pembaharuan di anak Benua India ini muncullah “dewa-dewa penyelamat” yang mengajak kaum Muslimin kembali kepada semangat asli Islam untuk merebut kejayaan yang pernah dimiliki serta menjawab tantangan-tantangan zaman yang dihadapi khususnya yang datang dari Barat. Implementasi ajakan ini berupa reorientasi dan reformasi pemahaman terhadap warisan-warisan keagamaan yang dimiliki kaum Muslimin pada Bangsa Indo-Pakistan. Salah seorang tokoh pembaruan yang terkenal di anak benua adalah Sayyid Ahmad Khan, yang terkenal lewat Gerakan Madrasah Aligarh yang melahirkan tokoh-tokoh pembaharu selanjutnya.

Kisah Seorang Anak dan Ibunya yang Sudah Tua di Jepang



Bismillahirrohmanirrohim

Hikmah hari ini sahabat-sahabat....

Dahulu kala di Jepang terdapat sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh para petani miskin yang disebut ‘Ubasute’, yaitu membuang orang tua mereka yang telah lanjut usia di daerah pegunungan. Hal ini dilakukan karena mereka terlalu miskin untuk menghidupi orang tua mereka. Cerita ini adalah cerita kuno dan di masa ini tentu saja tidak dilakukan hal seperti itu.

Ceritanya : Pada hari itu, seorang ibu tua dengan digendong oleh puteranya berangkat menuju gunung untuk ‘disisihkan’ . Namun selama perjalanan ia mematahkan ranting-ranting dan menjatuhkannya. Ketika ditanya oleh puteranya, ia menjawab, ‘Agar kau tidak tersesat pada waktu kembali ke desa’. Mendengar hal itu, puteranya terharu dan menangis lalu menggendong ibunya dan kembali ke rumah mereka.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari kisah diatas?
Tentu banyak sekali, melimpah bagaikan air yang mengucur, mengalir deras ke telaga hati. Betapa kasih sayang orangtua kita tak akan luntur sepanjang zaman, walaupun mungkin kita sendiri telah menjadi orang tua dari anak-anak kita. Semoga kita selalu mencintai Ibu kita selama masih ada dan jika sudah dipanggil oleh Alloh SWT mari kita selalu berdo'a buat Ibu & bapak.

Pemikiran Sayyid Amir Ali, Muhammad Iqbal, dan Muhammad Ali Jinnah

A. PENDAHULUAN
1.     Latar Belakang
Pada pertengahan abad ke dua puluh, tepatnya pada tahun 1947 di India secara resmi muncul sebuah negara yaitu Pakistan. Jika kita mau menelusuri sejarah terbentuknnya negara tersebut maka akan didapatkan bahwa umat Islam adalah pendiri dan penggagas terbentuknya negara  tersebut, dalam artian yang meng-konsep, dan mencita-citakan terbentuknya negara adalah umat Islam.
Terkait pembahasan mengenai konseptor, maka tidak bisa dilepaskan dari pembahasan tentang tokoh, oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas tentang tokoh yang berperan besar terkait dengan terbentuknya negara Pakistan, yaitu  Sayyid Amir Ali,  Muhammad Iqbal yang dikenal sebagai Bapak Pakistan dan Muhammadi Ali Jinnah yang dikenal sebagai tokoh yang mewujudkan terbentuknya Negara Pakistan.

2.     Rumusan Masalah
a.      Siapakah Sayyid Amir Ali, Muhammad Iqbal, dan Muhammad Ali Jinnah?
b.  Bagaimana pemikiran ketiga tokoh tersebut dalam pembaharuan Islam di India-Pakistan?
c.  Apa hikmah atau pelajaran yang bisa diambil dari pemikiran 3 tokoh pembaharu tersebut?

3.     Tujuan Penulisan
a.  Untuk mengetahui latar belakang pendidikan dari 3 tokoh pembaharu di India-Pakistan.
b.  Dapat mengerti dan memahami dasar pemikiran 3 tokoh tersebut dalam pembaharuan Islam di India-Pakistan.
c.   Untuk bisa mengambil hikmah dari hasil pemikiran 3 tokoh pembaharu tersebut.


B. PEMBAHASAN

1. SAYYID AMIR ALI
a.     Biografi Sayyid Amir Ali
Sayyid Amir Ali berasal dari keluarga Syiah di zaman Nadir Syah (1736-1747) pindah dari Khurasan di Persia ke India. Keluarga itu kemudian bekerja di istana Raja Mughal. Sayyid Amir Ali lahir pada tahun 1849, dan meninggal pada tahun 1928 dalam usia 79 tahun. Pendidikannya ia peroleh di perguruan tinggi Muhsiniyyah yang berada di dekat Kalkuta. Ia belajar bahasa Arab dan Inggris, kemudian sastra Inggris dan hukum Inggris.[1]
Di tahun 1869, ia pergi ke Inggris untuk meneruskan studi dan selesai tahun 1873 dengan memperoleh kesarjanaan dalam bidang hukum. Ia kembali ke India dan bekerja sebagai pegawai pemerintah Inggris, pengacara, hakim, dan guru besar dalam hukum Islam. Pada tahun 1877, ia membentuk National Muhammedan Association, sebagai wadah persatuan umat Islam India, dan tujuannya ialah untuk membela kepentingan umat Islam dan untuk melatih mereka dalam bidang politik.
Di tahun 1883, ia diangkat menjadi salah satu dari ketiga anggota Majelis Wakil Raja Inggris di India. Ia adalah satu-satunya anggota Islam dalam majelis itu. Selanjutnya di tahun 1904, ia meninggalkan India dan menetap untuk selama-lamanya di Inggris.
Pada tahun 1906, ia diangkat menjadi anggota The Judicial Committee of the Privy Council (Komite Kehakiman Dewan Raja) di London, dan merupakan orang India pertama yang menduduki jabatan tersebut.[2] Amir Ali sendiri adalah seorang pemimpin yang dekat dengan pemerintah Inggris di India. Dia melihat pemerintahan Inggris adalah suatu alternatif untuk menghindari kemungkinan dominasi orang Hindu di India setelah kemerdekaan diperolehnya. Setelah berada di London, ia mendirikan cabang Liga Muslimin (didirikan tahun 1906). Ia terlibat pula dalam perundingan-perundingan di London tentang rancangan pembaharuan politik di India.

Perguruan Tinggi Islam Negeri di Indonesia

A. PENDAHULUAN

1.     Latar Belakang
Pendidikan Islam lahir seiring dengan datangnya Islam itu sendiri, meskipun pada mulanya dalam bentuk yang sangat sederhana. Dalam sejarahnya tidak pernah sunyi dari persoalan dan rintangan yang dihadapinya. Pada masa sebelum kemerdekaan berhadapan dengan tenakan dan intimidasi pemerintah kolonial Belanda dan Jepang. Pada masa kemerdekaan berhadapan dengan berbagai kebijakan pemerintah yang tampak belum memberikan dukungan sepenuhnya terhadap lembaga pendidikan Islam. Meski demikian, satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa Pendidikan Islam dengan semua lembaga pendidikannya telah mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia.[1] Umat Islam yang merupakan mayoritas dari penduduk Indonesia selalu mencari berbagai cara untuk membangun sistem pendidikan Islam yang lengkap, mulai pesantren yang sederhana sampai tingkat perguruan tinggi.[2]
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang sekarang menyebar hampir di seluruh nusantara bukan merupakan bentuk kelembagaan yang final dalam perkembangan kelembagaan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Seperti tercatat dalam sejarah, nama Perguruan Tinggi Islam (PTI) di Indonesia terus berubah sebagai upaya meresponi perkembangan masyarakat dan sekaligus juga sebagai obyek tarik menarik antara berbagai kekuatan atau kelompok dalam masyarakat. Perjalanan sejarah pendidikan Islam di Indonesia hingga sekarang telah melalui tiga periodesasi.
Pertama, periode awal sejak kedatangan Islam yang ditandai dengan pendidikan Islam yang terkonsentrasi di pesantren, dayah, surau atau masjid. Kedua, periode ketika pendidikan Islam telah dimasuki oleh ide-ide pembaruan pemikiran islam pada wal abad ke-20. Periode ini ditandai dengan lahirnya madrasah yang telah memasukkan pelajaran “umum” kedalam program kurikulumnya. Ketiga, periode lahirnya perguruan tinggi Islam negeri dan pendidikan Islam telah terintegrasi ke dalam system pendidikan nasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam semakin memperhatikan dinamikanya sejak Indonesia merdeka. Lahirnya perguruan tinggi Islam inilah yang kemudian melahirkan sejumlah terobosan yang luar biasa, karena lembaga pendidikan tinggi Islam ini melahirkan sejumlah ilmuan Islam modern di kemudian hari.
Sebenarnya ide pendirian perguruan tinggi Islam sudah muncul sebelum Indonesia merdeka. Namun di antara sekian banyak ide untuk mendirikan perguruan tinggi Islam pada masa penjajahan bisa dikatakan gagal karena perguruan tinggi yang didirikan tidak bertahan lama, kecuali sekolah tinggi yang dibentuk oleh masyumi. Setelah Indonesia merdeka, lahirlah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kemudian berkembang menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Yang dimaksud dengan PTAIN adalah Agama  sedangkan secara fungsional dilakukan oleh Kementerian Agama.
Saat ini PTAIN terdiri atas 3 jenis yakni: Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), dan Universitas Islam Negeri (UIN). Sampai saat sekarang ini konsentrasi kelimuan di IAIN adalah pengembangan ilmu-ilmu agama. Menyikapi globalisasi dengan tuntutan yang semakin berkembang serta cita-cita untuk mengitegrasikan ilmu yang tergolong perennial knowledge dan ilmu yang tergolong ecquired knowledge, maka muncullah ide untuk mengembangkan lagi IAIN menjadi universitas. Ide ini akhirnya melahirkan Universitas Islam Negeri (UIN). Sejarah perkembangan PTAIN ini menjadi sebuah kajian yang menarik untuk ditelusuri dan selanjutnya diuraikan dalam makalah ini.

2.     Rumusan Masalah
a.      Bagaimana sejarah singkat Perguruan Tinggi Islam Negeri di Indonesia?
b.     Berapa jenis Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia?
c.      Bagaimana masa depan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia?

Perjalanan Dakwah Rasulullah ke Thaif

A. PENDAHULUAN

Sesudah Abu Thalib dan Khadijah meninggal dunia, Nabi melihat bahwa penganiayaan kaum kafir Quraisy terhadap beliau daqn sahabat-sahabatnya makin menjadi-jadi, di luar perikemanusiaan dan sopan santun. Beliau yakin bahwa kota Makkah tidak sesuai lagi untuk dijadikan pusat dakwah.

Karena itu, dibuatlah rencana akan menjalankan seruan agama Islam keluar kota makkah, dengan harapan akan dapat menemukan tempat lain yang sesuai untuk dijadikan pusat dakwah. Nabi mulai mengunjungi beberapa negeri sambil memperkenalkan diri pokok-pokok agama Islam kepada penduduk.

Akan tetapi, Nabi senantiasa juga menemui kesengsaraan dan kesulitan-kesulitan. Sering kali beliau mendengar penduduk negeri-negeri itu mengejek : “Sekiranya kata-kata yang diserukan itu baik, tentu keluarga dan kaum kerabatnyalah yang menerima lebih dahulu”.

Akhirnya sampailah Nabi bersama Zaid bin Tsabit di negeri Thaif. Negeri Thaif terkenal berhawa sejuk dan keramahan penduduknya terhadap tamu yang datang.

Di Thaif Nabi menyeru orang-orang terkemuka di kota itu agar menyembah kepada Allah SWT. Penduduk Thaif menolak sambil mengusir kedatangan Nabi. Mereka mencaci maki, mempersorakkan dan melempari Nabi dengan batu, Nabi menderita luka-luka. Dan bagaimanakah perjuangan Nabi saw selanjutnya di kota Thaif akan kami bahas di dalam makalah ini.

B. PEMBAHASAN

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Abdullah ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata:  “Barangsiapa yang ingin meniru, hendaklah ia meniru perjalanan orang yang sudah mati, yaitu perjalanan para sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka itu adalah sebaik-baik ummat ini, dan sebersih-bersihnya hati, sedalam dalamnya ilmu.  
                        
Pengetahuan, dan seringan-ringannya penanggungan. Mereka itu adalah suatu kaum yang telah dipilih Allah untuk menjadi para sahabat NabiNya SAW dan bekerja untuk menyebarkan agamaNya. Karena itu, hendaklah kamu mencontohi kelakuan mereka dan ikut perjalanan mereka. Mereka itulah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berdiri di atas jalan lurus, demi Allah yang memiliki Ka’bah!”[1]

Taif satu Bandar yang terletak kurang lebih 60 KM dari Mekah. Ia merupakan satu kawasan bukit. Dari atas bukit Taif, kita bisa melihat Bandar Mekah. Hawa di sini dingin. Bukit ini menjadi saksi peritnya Nabi berdakwah di bumi ini. Malaikat pernah meminta izin untuk mengambil salah satu bukit ini untuk dihempapkan kepada penduduk Taif.

Tempat Nabi berhenti bermunajat di dirikan sebuah masjid. Ia diberi nama Masjid Kuu’, maksudnya masjid siku. Ia mengambil nama tersebut dengan keadaan Nabi bermunajat dengan sikunya dalam keadaan luka-luka. Masjid ini sudah tidak digunakan lagi.  Ia dipagar oleh Kerajaan Arab Saudi dan  coba mengatakan bahwa tempat ini bukan tempatnya Nabi bermunajat, tetapi penduduk Taif mengatakan bahwa inilah tempatnya lantaran tempat inilah merupakan kawasan yang tidak jauh dari Bustan as-Thaqif tempat Nabi bertemu dengan pembesar kaum.

Dan tidak jauh dari sana terdapat Masjid Abdullah Ibn Abbas. Sahabat Abdullah bin al-Abbas r.a, utusan dakwah Nabi bagi penduduk Taif. Makamnya tidak jauh dari masjid ini. Beliau terus duduk di sini membimbing penduduk Taif hinggalah kewafatannya.

Rabu, 17 September 2014

Al-Habib Abdul Rahman bin Muhammad Al-Aidrus

(Tokku Paloh - Terengganu)

ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kebimbangan terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati" Yunus: 62

TOKKU PALOH atau nama sebenarnya Sayid Abdul Rahman bin Muhammad Al-Aidrus adalah ulama kerohanian yang berkecimpung dalam bidang pentadbiran dan diplomatik di Terengganu. Beliau hidup dalam zaman pemeritahan lapan orang sultan silih berganti; paling lama dan paling kuat pengaruh beliau ialah semasa pemerintahan Sultan Zainal Abidin III, Sultan Terengganu ke-II.

Kerana kewibawaannya, beliau diberi
 mandat oleh Sultan mentadbir kawasan Paloh dan mengawasi kawasan Hulu Terengganu. Beliau juga diterima sebagai penasihat pertama dan utama kepada Sultan dalam berbagai persoalan. Beliau tegas dan pintar dalam bidang diplomatik, dan sering diberi peluang mewakili Sultan berunding dengan pihak British sehingga pada zaman itu British gagal menjajah Terengganu.

Tokku Paloh terkenal sebagai seorang wali Allah yang mempunyai berbagai karamah dan sentiasa mendapat bantuan Allah SWT khususnya sewaktu mengendalikan urusan rakyat. Tokku Paloh adalah khalifah Tareqat Naqsyabandiah, dan beliau turut mengamal dan mengembangluaskan 'Syahadat Tokku', satu amalan yang disusun oleh ayahnya Tokku Tuan Besar

SYAIKH KHALID AL-BAGHDADI

WALI DENGAN DUA SAYAP

Karena penguasaannya di bidang ilmu lahir dan ilmu batin, ia mendapat sebutan “Orang dengan Dua Sayap”

Syaikh Khalid Al-Baghdadi adalah mursyid Tariqat Naqsyabandiyah ke-31, penerus rahasia Tariqat Naqsyabandi dari Syaikh Abdullah Ad-Dahlawi. Dia menyebarkan ilmu-ilmu syariat dan tasawuf, seorang mujtahid dalam hukum ilahi (syari’at) dan realitas ilahi (hakikat).

Dia dianggap cendekiawan para cendekiawan dan wali para wali, sehingga diibaratkan laksana cahaya bulan purnama dalam aliran Thariqat Naqsyabandi, pusat lingkaran kutub.

Khalid lahir pada tahun 1193 H/1779 M di Desa Karada, Sulaymaniyyah, Irak. Karena keturunan Sayyidina Utsman bin Affan, khalifah ketiga, dia berhak menyandang gelar “Utsmani”.

Dia tumbuh dan belajar di sekolah-sekolah dan masjid yang tersebar di kota tersebut. Pada saat itu Sulaymaniyyah merupakan kota pelajar utama. Dia mempelajari Al-Qur’an dan tafsir Imam Rafica.

Ketika umur 15 tahun dia menetapkan asketisisme, doktrin keagamaan yang menyatakan bahwa seseorang bisa mencapai posisi spiritual yang tinggi melalui disiplin diri dan penyangkalan diri yang ketat sebagai falsafah hidupnya, kelaparan sebagai kudanya, tetap terjaga (tidak tidur) sebagai jalannya, khalwat sebagai sahabatnya, dan energi spiritual sebagai cahayanya.

Dia berguru kepada dua cendekiawan besar, Syaikh ‘Abdul Karim Al-Barjanzi dan Syaikh Abdur Rahim Al-Barjanzi, sebelum akhirnya mempelajari matematika, filosofi, dan logika di kota kelahirannya.

Lalu ia kembali ke Baghdad dan mempelajari Mukhtasar al-Muntaha fil-Usul, sebuah ensiklopedia tentang yurisprudensi, dan mempelajari karya-karya Ibnu Hajar, Suyuti, dan Haythami. Dia dapat menghafal tafsir Al-Qur’an dari Baydawi dan mampu menemukan pemecahan atas segala pertanyaan pelik mengenai yurisprudensi. Dia hafal Al-Qur’an dengan 14 cara membaca yang berbeda, dan ini merupakan kelebihannya sehingga membuatnya sangat terkenal.

Pangeran Ihsan Ibrahim Pasha, gubernur Baban, gagal membujuknya untuk mengasuh sekolah di kerajannya. Dia lebih tertarik mempelajari matematika, teknik, astronomi, dan kimia kepada Muhammad Al-Qasim As-Sanandaji di kota Sanandaj.

Setelah menguasai ilmu-ilmu umum, dia kembali ke Sulaymaniyyah dan mengajar ilmu-ilmu modern. Meneliti dan menelaah persamaan-persamaan yang sulit di bidang astronomi dan kimia di sekolah Abdul Karim Al-Barzanji menyusul wabah penyakit yang melanda kota itu pada tahun 1213 H/1798 M.

Kemudian dia berkhalwat, meninggalkan segala yang telah dipelajari, datang ke pintu Allah dengan segala keshalihan dan memperbanyak dzikir. Lalu dia meninggalkan segalanya dan pergi ke Hijaz, menemui para cendekiawan, dan mengikuti Syaikh Muhammad Al-Kuzbara, seorang ahli ilmu-ilmu kuno dan modern dan pengajar hadits yang memberinya otorisasi terhadap Thariqat Qadiriyah.

Dalam perjalanan menuju Makkah, seorang syaikh menasehatinya agar tidak berkeluh kesah atas segala masalah yang mungkin bertentangan dengan syari’at ketika memasuki kota Makkah. Pada hari Jum’at, ketika duduk dekat Ka’bah dan membaca Dala’il al-Khayrat, dia melihat seseorang dengan jenggot hitam bersandar pada sebuah pilar, menatap dirinya. Ia merasa, orang itu tidak layak berlaku demikian, apalagi di depan Ka’bah.

Orang itu melihat Khalid dan menegurnya, “Hei orang bodoh, apakah kamu tidak tahu bahwa kemuliaan hati seorang mukmin jauh lebih berarti daripada keistimewaan Ka’bah? Mengapa kamu diam-diam mengkritik aku. Apakah kamu tidak mendengar nasihat syaikhku di Madinah agar tidak mengkritik sesuatu?”

Syaikh Khalid minta maaf, mencium tangan dan kakinya dan minta bimbingannya. Dia mengatakan, “Wahai anakku, harta dan kunci hatimu bukan disini, melainkan di India. Syaikhmu berada di sana. Pergilah kesana, dia akan menunjukkan apa yang harus kamu lakukan.”

Tapi karena orang itu tidak mengatakan ke mana dia harus pergi ke India, dia memutuskan pulang ke Syam.

*MENYATU DENGAN ILAHI*

          Syaikh Khalid pindah ke India pada tahun 1224 H/1809 M. Dalam perjalanan ke anak benua Asia itu, dia bertemu Isma’il al-Kashi, mengunjungi makam Guru dari Induk Segala Thariqat di Bistam, Syaikh Bayazid Al-Bistami, mengunjungi Sayyid Al-Jalal al-Ma’nas al-imam ‘Ali Rida, dan mengunjungi Syaikh Ahmad An-Namiqi al-Jami.
          Di Herat, Afghanistan, Kandahar, Kabul, dan Peshawar, semua cendekiawan besar yang ditemuinya selalu menguji pengetahuannya tentang hukum Ilahi (syariat) dan kesadaran ilahi (ma’rifat), ilmu-ilmu logika, matematika, dan astronomi. Mereka menyebutnya seperti sungai yang luas, mengalir dengan ilmu, atau seperti samudera tanpa pantai.
          Ketika di Lahore, ia bertemu Syaikh Thana’ullah An-Naqsyabandi dan meminta doa. “Malam itu aku mimpi bahwa Syaikh Thana’ullah An-Naqsyabandi menarikku dengan giginya. Ketika aku terbangun dan ingin mengatakan mimpiku itu kepadanya, dia mengatakan, ‘Jangan ceritakan mimpi itu kepadaku, kami telah mengetahuinya’.
          Lalu aku mulai merasakan daya tarik spiritual dari Syaikh ‘Abdullah Ad-Dahlawi. Aku meninggalkan Lahore, menyeberangi pegunungan dan lembah, hutan dan padang pasir, sampai tiba di Kesultanan Delhi, yang dikenal dengan Jenahabad. Perjalanan itu memakan waktu satu tahun 40 hari. Sebelum aku tiba, dia berkata kepada para pengikutnya, ‘Penerusku akan datang.”
          Sesampai di kota Jehanabad dia memberi penghormatan kepada Syaikhnya dengan puisi yang sangat elok. Semua barang yang dibawanya dan segala yang ada di kantungnya diserahkan kepada fakir miskin. Kemudian dia melakukan bai’at dengan Syaikh ‘Abdullah Ad-Dahlawi. Di sini dia mencapai perkembangan yang pesat dalam berperang melawan egonya. Tidak sampai lima bulan dia telah menjadi salah seorang yang menyatu dengan ilahi dan mempunyai penglihatan ilahi.
          Oleh Syaikh ‘Abdullah, dia diizinkan kembali ke Irak dan memberinya otoritas tertulis dalam 5 thariqat : Thariqat Naqsyabandi, atau Rantai Emas, Thaqiqat Qadiri, Thariqat As-Suhrawardiyyah, Thariqat Kubrawiyya, dan Thariqat Chishti.
          Pada masanya, Baghdad sangat terkenal dengan ilmu pengetahuan, sehingga kota itu dinamakan “Tempat Dua Matahari”.
          Dia sendiri dikenal dengan sebutan “ Orang dengan Dua Sayap” (zhuljanahain), sebuah perumpamaan karena penguasaannya di bidang ilmu lahir dan ilmu batin. Dia mengirimkan kalifahnya ke mana saja, mulai dari Hijaz ke Irak, dari Syam (Syria) ke Turki, dari Iran ke India dan Transoxania, untuk menyebarkan jalan leluhurnya dalam Thariqat Naqsyabandi.
          Ke mana pun dia pergi, orang akan mengundang ke rumahnya. Dan rumah seperti apapun yang dia kunjungi, akan mendapat berkah dan menjadi makmur.
          Suatu hari, ketika mengunjungi Kubah Batu di Yerussalem dengan para pengikutnya, Abdullah Al-Fardi datang menemuinya dengan kerumunan orang. Beberapa orang Kristen memintanya untuk masuk ke Gereja Kumama agar mendapat berkah dengan kehadirannya.
          Lalu dia melanjutkan perjalanan ke Al-Khalil (Hebron), kota Nabi Ibrahim, memasuki Masjid Ibrahim Al-Khalil dan mengambil berkah dari temboknya.
          Dia pergi lagi ke Hijaz untuk mengunjungi Baitullah pada tahun 1241 H/1826 M. Warga kota dengan para cendekiawan dan wali mendatangi dan melakukan bai’at dengannya. Mereka memberi kunci untuk memasuki dua Kota Suci dan mengangkatnya sebagai Syaikh Spiritual untuk kedua kota tersebut.
          Setelah berhaji dan kunjungannya kepada Rasulullah, dia kembali ke Syam. Di sini dia disambut 25 ribut orang di pintu kota, pertanda bahwa Sultan Ottoman, Mahmud Khan, juga sangat menghormati dirinya. Semua cendekiawan, menteri, syaikh, fakir miskin, dan orang-orang kaya datang untuk mendapatkan berkah dan meminta do’a darinya. Para penyair melantunkan syair mereka, sementara itu orang kaya memberi makan yang miskin. Semua orang adalah sama di hadapan beliau. Dia membangkitkan pengetahuan spiritual dan pengetahuan lahiriah dan menyebarkan cahaya kepada semua orang, baik Arab maupun non-Arab, yang datang dan menerima Thariqat Naqsyabandi darinya.
          Dalam sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan 1242 H/1827 M, ia memutuskan untuk mengunjungi Quds (Yerusalem) dari Damaskus. Mungkin itu adalah suatu tanda bahwa ia akan meninggalkan dunia ini.
          Pada hari pertama bulan Syawwal, wabah penyakit menyebar dengan cepat di kota Syam (Damaskus). Salah seorang pengikutnya minta Syaikh Khalid mendoakan dia agar diselamatkan dari wabah tersebut, dan menambahkan, “... untukmu juga, Syaikh.”
          “Aku malu kepada Allah, karena niatku memasuki Syam adalah untuk meninggal di tempat ini.”
          Orang pertama yang meninggal karena wabah ini anaknya sendiri, Bahauddin, pada Jum’at malam.
          “Alhamdulillah, ini adalah jalan kita,” katanya. Lalu anak itu dikuburkan di Gunung Qasiyun. Dia baru berusia lima tahun lewat beberapa hari. Anak itu sangat fasih dalam 3 bahasa : Persia, Arab, dan Kurdi. Dia juga pandai membaca Al-Qur’an.
          Beberapa hari kemudian, anak lainnya, Abdurrahman, juga meninggal dunia. Dia lebih tua satu tahun. “Banyak pengikutku yang akan meninggal dunia,” katanya. Lalu dia menunjuk Syaikh Isma’il Ash-Shirwani untuk menggantikannya di Thariqat Naqsyabandi. Saat itu adalah tahun 1242 H/1827 M.
          Dia sendiri akhirnya wafat pada hari Jum’at 13 Dzulqaidah 1242 H/1827 M setelah sebelumnya membaca ayat 27-30 dari surah Al-Fajr, “Wahai jiwa yang tenang dan tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku! Masuklah ke dalam syurga-Ku!”
          Sehari sebelumnya, kamis, dia telah mengisyaratkan banyak hal kepada keluarganya, seperti bahwa dirinya akan wafat besok harinya dengan membawa seluruh wabah yang menerjang Damaskus, nisannya tidak boleh ditulis macam-macam kecuali Ini adalah makam orang asing, Khalid.
          Hari berikutnya, Sabtu, terjadi keajaiban di Syam. Wabah penyakit tiba-tiba menghilang.


Sumber : Alkisah No.05/26 FEB – 11 MAR 2007

Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir


Beliau lahir di Tarim, sebuah kota kecil di Yaman Selatan pada tahun 1191 Hijriyah. Menimba ilmu dari ulama-ulama besar di Hadhramaut dan ulama-ulama besar dari Makkah dan Madinah. Dengan kemauan yang kuat dan kecerdasan yang luar biasa serta kebersihan dan keikhlasan hatinya, beliau pada akhirnya menjadi salah seorang ulama paling besar pada masanya.

Dari beliau banyak sekali lahir murid-murid yang kemudian menjadi ulama-ulama besar di antaranya adalah Al-Allamah Muhammad bin Husain Al-Habsyi dan Al-Habib Ali Al-Habsy, penulis risalah Maulid Nabi Muhammad s.a.w yang terkenal (Simthud Duror).

Dari tangan beliau juga lahir karya-karya (kitab) yang cukup fenomenal, antara lain Diwan (kumpulan syair), al-Washiah an-Nafi'ah fi Kalimat Jami'ah, Dzikru al-Mu'minin bima Ba'atsa bihi Sayyidil Mursalin (berisi tentang ajakan untuk mengerjakan amal salih), Silmu at-Taufiq (tentang fiqih), Miftahul I'rab (tentang ilmu nahwu) dan Majmu' (yang sekarang ada di tangan pembaca).

Beliau meninggal pada usia 81 tahun, yakni pada tahun 1272 Hijriyah. Tepatnya, setelah menjalani kehidupan yang penuh dengan perjuangan di jalan Allah, baik dalam ilmu agama maupun perjuangan politiknya, dengan mengatakan yang benar di hadapan penguasa pada masa itu.

Demikianlah sekelumit tentang riwayat hidup beliau. Semoga Allah meridhai perjuangan beliau dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan.

dipetik dari: Mencapai Jiwa Yang Tenteram karangan Al-Alamah Abdullah bin Husain bin Thahir terbitan Pustaka Hidayah

................................................................................................................... 

Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad

oleh: Husnain Muhammad Makhlof - bekas Mufti Mesir

Beliau adalah Syeikh Al-Islam, atau mahaguru, penganjur dan pemimpin utama dalam jejak dakwah dan pendidikan, dari keturunan Sayyid, yang mulia, Abdullah bin Alwi Al-Haddad Al-Alawi Al-Husaini Al-Hadrami As-Syafa'i, Imam Ahli zamannya, yang sering berdakwah kepada jalan Allah, berjuang untuk mengembangkan agama yang suci dengan lisan dan penanya yang menjadi tumpuan dan rujukan orang ramai dalam ilmu pengetahuan.

Beliau telah dilahirkan di salah sebuah kampung di kota Tarim, iaitu salah satu kota negeri Hadhramaut yang terkenal, pada malam 5 haribulan Safar, tahun 1044 Hijrah. Beliau lalu dibesarkan di kota tersebut, yang terkenal sebagai pusat penetapan kaum Ashraf (keturunan Sayyid) dari keturunan Sayyidina Husin bin Ali bin Abi Thalib. Di sanalah beliau mendapat pelajaran Al-Quranul Karim serta menghafalnya.

Di masa kecil, beliau kehilangan pandangannya disebabkan tekanan penyakit cacar. Akan tetapi Allah SWT telah menggantikan pandangan lahir itu dengan pandangan batin. Beliau terus menuntut ilmu agama dan mendalaminya, sehingga menjadi pintar dan jaguh dalam segala selok-beloknya. Kemudian beliau mendampingi para ulama yang terkenal di zamannya, sehingga Allah Ta'ala mengurniakan kekuatan menghafal yang sangat menakjubkan serta fahaman yang luar biasa.

Beliau terus bersungguh-sungguh dalam menjalankan amal ibadatnya, menyertakan amal di samping ilmu. Demikianlah cara hidup beliau dari sejak umur remaja hingga ke umur dewasa dan ke umur tua. Kemudian beliau mula bergiat untuk mendidik murid-muridnya, dan membimbing peminat-peminat untuk menuju ke jalan Allah Ta'ala. Lantaran itu, ramailah pelajar-pelajar ang datang mengunjunginya dari merata ceruk dan rantau, sehingga dengan itu tersebar luaslah manfaat yang ditabur oleh beliau ke merata tempat. Beliau sering juga merantau dan mengunjungi beberapa negeri untuk tujuan dakwah dan menyebarkan ilmu pengetahuan, sehingga tersebar luaslah pula pengajaran ilmu agama itu kepada orang ramai.

Beliau juga seorang penyair yang berbakat; apabila mengungkapkan syairnya, nescaya mempersonakan. Juga seorang penuls yang puitis. Tulisannya sungguh mengharu dan memikat hati. Apabila berpidato, sering menimbulkan minat untuk mendengar, dan apabila berhuja, sering melumpuhkan.

Beliau terkenal seorang pengarang yang jelas segala ibaratnya, kukuh dalam pengolahannya, mendalam segala perbahasannya, meneliti dalam pengambilannya, hujahnya terang, penerangannya mengkagumkan, amat luas interpretasinya. Beliau sering mengukuhkan pembicaraannya dengan ayat-ayat Al-Quranul Karim, dengan hadis-hadis Nabi SAW dan kata bicara dari para tokoh dan imam, untuk mencabut dari gangguan-ganguan dalam diri dan was-was dalam dada setiap yang syubhat dan memperbetulkan setiap buruk sangka, sehingga tiada ditinggalkan sesuatu mushkilah pun melainkan dicelanya, atau sesuatu persoalan pun melainkan dijawabnya. Yang demikian itu dapat diikuti dalam semua karangan-karangannya, umpamanya "An-Nasha'ah Ad-Dinniyah" dan sebuah risalah yang berjudul "Ad-Da'wah At-Tamah", dan risalah yang lain lagi berjudul "Al-Muzakkarah Ma'a Al-Ikhwan Wal-Muhibbin", yang lain lagi "Al-Fawassal Al-'Ilmiyyah" dan "Ithaf As-Sa'al Ba'jawabah Al-Masa'al" dan sebuah dewan (kumpulan syairnya) yang terkenal itu.


Beliau r.a. telah diwafatkan pada petang hari Selasa, 7 haribulan Dzulkaedah tahun 1132 Hijrah, dan dikebumikan di perkuburan Zanbal, kota Tarim. Moga-moga Alah menggandakannya dengan balasan pahala yang banyak.

Dipetik dari: Nasihat Agama dan Wasiat Iman - Imam Habib Abdullah Haddad terjemahan Syed Ahmad Smeth

................................................................................................................... 

As-Sya’rani

JANGAN MENYANDARKAN REZEKI PADA MANUSIA

Ia seorang sufi yang sangat menekankan pentingnya kerja keras dalam mengisi kehidupan, supaya tidak riya’ dengan kefakiran”.

Nama lengkapnya Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Zufa As-Sya’ra. Ia seorang sufi besar dan pengarang terkenal dari Mesir, lahir pada Ramadhan 898 H (1492 M), di kediaman neneknya, Kampung Qalqasyandah. Ayahnya, Ahmad bin Ali As-Sya’rawi, juga seorang sufi, tinggal di Lembah Abu Sya’rah, sebuah desa yang memiliki semangat kesufian yang tinggi.
            Selama bertahun-tahun penduduk lembah ini mempunyai kebiasaan dengan upacara-upacara kenduri memperingati Maulid Rasulullah SAW dan kelahiran para wali. Itu biasanya dilakukan dengan dzikir dan amalan-amalan tarekat. Inilah yang membuat dunia sufi bukan sesuatu yang asing bagi penduduk sana.
            Dalam usia 40 hari As-Sya’rani kecil dibawa kerumah kediaman ayahnya dan disanalah ia di didik dan dibesarkan sampai menginjak usia remaja. Selanjutnya ia dikirim ke Kairo untuk menuntut ilmu langsung dari ulama-ulama besar disana. Di antara guru-gurunya adalah Jalaluddin As-Suyuti, Zakaria An-Nasari, Nasiruddin Al-Laqani, Ar-Ramli, dan As-Syamnudi. Karena mempunyai prestasi yang menonjol, ia di angkat menjadi pengajar di beberapa madrasah di Kairo.
            Di samping mengajar dan berdakwah ia pun mengarang beberapa buku, terutama dalam bidang tasawuf dan fiqih. Buku karyanya mencapai 70 buah. Di antaranya yang terkenal adalah Al Mawazin Ad Durriyat, Al Yawaqit wa Al Jawahir, Al Bahr Al Mawrud, Jami’i al Ummah.
            As-Sya’rani termasuk tokoh sufi yang moderat. Berbeda dengan para sufi umumnya yang kurang memperhatikan kehidupan duniawi, ia sangat menekankan keseimbangan antara kehidupan dunia, yaitu amal dan usaha, dan kehidupan akhirat. Menurut As-Sya’rani, meninggalkan usaha dengan pekerjaan yang halal dan menyandarkan rezeki pada pada orang-orang dermawan adalah suatu kebodohan, karena hal itu disamping berarti riya’ dengan kefakiran juga mengurangi amal shalih karena telah diambil oleh para dermawan itu sebagai balasan terhadap rezeki yang disedekahkannya. Oleh sebab itu ia sangat menekankan pentingnya usaha dan kerja keras, setelah itu bertawakal kepada Allah. Karena Allah Yang Empunya, kita harus selalu memohon dan meminta dengan harap dan cemas kepada Allah.

Etika Profesi Keguruan

A.    PENDAHULUAN

Standarisasi dan Profesionalisme pendidikan yang sedang dilakukan dewasa ini menuntut pemahaman berbagai pihak terhadap perubahan yang terjadi dalam berbagai komponen sistem pendidikan. Agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi kesimpangsiuran dalam menafsirkan kewenangan yang diberikan, dituntut pemahaman semua pihak terhadap berbagai kebijakan baik itu secara  makro maupun Mikro.
   Keberhasilan atau kegagalan Implementasi kurikulum disekolah sangat bergantung pada guru dan kepala sekolah, karena dua figur  tersebut merupakan kunci  yang menentukan serta menggerakan berbagai komponen dan dimensi sekolah yang lain. Dalam posisi tersebut baik buruknya komponen sekolah yang lain sangat ditentukan oleh kualitas guru dan kepala sekolah, tanpa mengurangi arti penting tenaga kependidikan lainnya, mereka dituntut untuk mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan (RPP) berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) yang dapat digali dan dikembangkan oleh peserta didik.
   Kesuksesan  siswa dalam belajar tergantung kepada guru yang memiliki peran  dalam mengajar. Oleh karna itu guru harus memiliki karakteristik sebagai seorang guru, pengajar, pendidik, pembimbing, penasehat, pelatih, model/teladan dan kulminator. Guru tidak hanya dituntut sebagai pendidik atau pengajar namun guru harus memberikan lebih perihatin kepada peserta didiknya.
   Guru adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Keberhasilan atau kegagalan dari suatu sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh faktor tersebut. Guru merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran, karena guru yang akan berhadapan langsung dengan peserta didik dalam proses belajar-mengajar. Melalui guru pula ilmu pengetahuan dapat ditransperkan.
Bila kita membicarakan tentang konsep dasar, maka bila dihubungkan dengan etika profesi, maka memiliki arti bahwa mengapa muncul pertanyaan mengapa muncul etika dalam berprofesi dan harus seperti apa etika yang baik dalam berprofesi ini. Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami apa arti dari etika dan profesi itu sendiri dan selanjutnya konsep dasar etika profesi guru.


B.    PEMBAHASAN

1.  ETIKA
Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter,watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Menurut Martin, etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act as the performance index or reference for our control system”.